Jawa Pos Radar Madiun - Rutinitas memberi makan ternak yang dilakukan hampir setiap hari berubah menjadi tragedi dalam hitungan detik.
Seorang petani di Aberdeenshire, Skotlandia, kehilangan nyawanya setelah mengalami cedera kepala serius akibat tertimpa alat pakan sapi saat bekerja bersama ayahnya.
Hasil penyelidikan menyebut insiden tersebut berawal dari kesalahan sederhana yang berujung fatal.
Korban diketahui bernama Robert McLeod (43), yang mengalami kecelakaan di sebuah ladang di Finzean, dekat Banchory, Aberdeenshire, pada November 2024.
Setelah melalui proses penyelidikan kecelakaan fatal, pihak berwenang menyimpulkan bahwa peristiwa tersebut sebenarnya dapat dihindari apabila prosedur keselamatan diterapkan dengan lebih baik.
Kronologi Kecelakaan Saat Memberi Pakan Ternak
Berdasarkan hasil penyelidikan, kecelakaan terjadi ketika ayah korban mengoperasikan traktor untuk menurunkan gulungan jerami ke dalam ring feeder atau alat berbentuk cincin yang digunakan sebagai tempat pakan sapi.
Saat proses berlangsung, Robert berdiri di sisi ring feeder yang berhadapan langsung dengan traktor.
Baca Juga: Elon Musk Kembali Jadi Sorotan, Film Kontroversial Ini Memicu Perdebatan di Eropa
Ketika gulungan jerami diturunkan, bagian atas jerami menghantam sisi alat tersebut sehingga sisi berlawanan terangkat secara tiba-tiba dan menghantam kepala korban.
Ayah korban yang menyaksikan kejadian itu langsung turun dari traktor untuk memberikan pertolongan.
Ia kemudian bergegas meminta bantuan kepada tetangga agar layanan darurat segera dihubungi.
Korban ditemukan dalam kondisi tidak sadar dan segera dilarikan ke Aberdeen Royal Infirmary. Namun, nyawanya tidak berhasil diselamatkan.
Penyebab Kematian
Pemeriksaan medis mencatat penyebab kematian Robert McLeod adalah cedera otak traumatis akibat benturan keras pada kepala.
Penyelidikan Soroti Kelalaian Saat Bekerja
Dalam putusan tertulisnya, Sheriff Ian Wallace menyatakan bahwa kecelakaan tersebut dapat dicegah apabila gulungan jerami diposisikan dengan benar sebelum diturunkan ke dalam ring feeder.
Selain itu, ia menilai korban seharusnya berdiri pada jarak yang aman selama proses penurunan jerami berlangsung untuk menghindari risiko benturan dari alat tersebut.
Meski demikian, Wallace menilai kejadian tersebut bukan disebabkan oleh tindakan yang disengaja, melainkan kesalahan penilaian yang sering terjadi dalam aktivitas sehari-hari.
"It was an understandable and everyday lapse of judgement which had cruel and catastrophic consequences for Robert McLeod and his family."
Baca Juga: DPRD Pacitan Temukan Data Desil Bansos Tak Akurat, Dinsos Diminta Bergerak Cepat
Hubungan Ayah dan Anak Jadi Sorotan
Penyelidikan juga mengungkap bahwa Robert bekerja bersama ayahnya ketika kecelakaan terjadi. Sang ayah menjadi saksi langsung atas insiden yang merenggut nyawa putranya.
Sheriff Wallace menyebut hubungan keduanya sangat dekat sehingga tragedi tersebut menjadi pukulan yang sangat berat bagi keluarga.
Ia juga menyampaikan belasungkawa kepada kedua orang tua korban atas kehilangan yang disebutnya tidak terukur.
Pelajaran Penting bagi Keselamatan Kerja di Pertanian
Kasus ini kembali menjadi pengingat bahwa pekerjaan di sektor pertanian memiliki risiko tinggi apabila prosedur keselamatan diabaikan.
Penggunaan alat berat maupun peralatan peternakan memerlukan koordinasi yang baik serta posisi kerja yang aman untuk meminimalkan potensi kecelakaan.
Beberapa langkah keselamatan yang menjadi sorotan dalam penyelidikan antara lain:
- Memastikan posisi gulungan jerami stabil sebelum diturunkan.
- Menjaga jarak aman dari ring feeder selama proses pemuatan.
- Menghindari berdiri di area yang berpotensi terkena pantulan atau pergerakan alat.
- Memastikan komunikasi yang jelas antara operator traktor dan pekerja di lapangan.
Tragedi yang menimpa Robert McLeod menunjukkan bahwa kelalaian kecil dalam pekerjaan rutin dapat menimbulkan dampak yang sangat besar.
Hasil penyelidikan diharapkan menjadi pelajaran bagi para pekerja di sektor pertanian agar selalu mengutamakan keselamatan dalam setiap aktivitas kerja. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar MadiunSumber : BBC