Florida Bersiap Eksekusi Dua Terpidana Mati dalam Sehari, Pertama Kali Terjadi Lagi Setelah Lebih dari 60 Tahun

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 10:00 WIB
James Duckett, left, and Dominick Occhicone were both convicted by juries, and appellate courts have denied multiple attempts to overturn their death sentences – although Duckett has maintained his innocence. (CNN)
James Duckett, left, and Dominick Occhicone were both convicted by juries, and appellate courts have denied multiple attempts to overturn their death sentences – although Duckett has maintained his innocence. (CNN)

Jawa Pos Radar Madiun - Suasana di Florida State Prison, Starke, dipastikan berbeda pada Selasa (28/7). Dalam rentang waktu sekitar enam jam, negara bagian Florida menjadwalkan pelaksanaan hukuman mati terhadap dua narapidana.

Langkah yang jarang terjadi ini langsung memicu kembali perdebatan panjang mengenai penerapan hukuman mati di Amerika Serikat.

Jika terlaksana sesuai jadwal, Florida akan menjadi negara bagian pertama yang kembali melakukan dua eksekusi dalam satu hari sejak lebih dari enam dekade lalu.

Kebijakan tersebut juga mempertegas meningkatnya frekuensi pelaksanaan hukuman mati di bawah pemerintahan Gubernur Ron DeSantis.

Dua Terpidana Dijadwalkan Dieksekusi

Eksekusi pertama dijadwalkan berlangsung pada pukul 12.00 waktu setempat terhadap James Duckett, narapidana yang telah menghuni death row selama lebih dari 30 tahun.

Duckett divonis bersalah atas pembunuhan Teresa McAbee, bocah perempuan berusia 11 tahun, pada 1987.

Baca Juga: Terinspirasi Din Djarin, Ini Spesifikasi Alexandre Christie The Mandalorian Limited Edition

Berdasarkan dokumen pengadilan, korban ditemukan meninggal di sebuah danau setelah mengalami kekerasan seksual, dicekik, dan ditenggelamkan.

Mahkamah Agung Florida menyatakan sejumlah bukti, termasuk sidik jari korban dan Duckett yang ditemukan pada mobil patroli miliknya serta jejak ban kendaraan di lokasi kejadian, menjadi dasar kuat dalam putusan tersebut.

Meski demikian, Duckett terus menyatakan dirinya tidak bersalah. Tim kuasa hukumnya juga masih berupaya menghentikan eksekusi dengan mengajukan berbagai banding, termasuk meminta pengujian DNA lanjutan.

Dalam pernyataannya, pengacara Duckett mengatakan:

"The State’s duty is to ensure that justice is done, and not rush to kill in a case with such serious doubts over guilt."

Beberapa jam setelahnya, Florida akan mengeksekusi Dominick Occhicone, narapidana berusia 80 tahun yang divonis mati karena membunuh kedua orang tua mantan kekasihnya pada 1986.

Menurut putusan pengadilan, Occhicone memutus saluran telepon rumah keluarga korban sebelum menembak Raymond dan Martha Artzner hingga tewas setelah mantan kekasihnya menolak berbicara dengannya.

Apabila eksekusi berjalan sesuai rencana, Occhicone akan menjadi narapidana tertua yang pernah dieksekusi di Florida.

Baca Juga: Alun-Alun dan Eks RTM Madiun Dipoles, Siap Jadi Destinasi Wisata Lebih Menarik

Pertama Kali Dua Eksekusi dalam Sehari Sejak 1964

Menurut catatan Departemen Pemasyarakatan Florida, negara bagian tersebut belum pernah melaksanakan dua eksekusi dalam satu hari sejak 1964.

Dalam 26 tahun terakhir, hanya Arkansas pada 2017 dan Texas pada 2000 yang pernah melakukan dua eksekusi dalam sehari di Amerika Serikat.

Kedua narapidana akan dieksekusi menggunakan suntikan mematikan (lethal injection).

Florida Semakin Agresif Menjalankan Hukuman Mati

Peningkatan jumlah eksekusi di Florida menjadi perhatian berbagai organisasi hak asasi manusia.

Berdasarkan data Death Penalty Information Center (DPIC), Florida mengeksekusi 19 narapidana sepanjang 2025, jumlah tertinggi dalam sejarah modern negara bagian tersebut. Hingga pertengahan 2026, Florida telah melaksanakan 10 eksekusi, menyumbang lebih dari separuh total eksekusi di Amerika Serikat tahun ini.

Maria DeLiberato, penasihat senior ACLU Capital Punishment Project, mengatakan:

"This administration is the most active death penalty administration we’ve ever seen."

Sementara itu, organisasi Reprieve menilai percepatan pelaksanaan hukuman mati berpotensi meningkatkan risiko masalah dalam proses eksekusi.

CEO Reprieve, Maya Foa, menyatakan:

"This is an execution spree at a grand scale."

Baca Juga: Demokrat Mulai Panaskan Bursa Wabup Ponorogo, Dua Nama Resmi Muncul

Kritik terhadap Jadwal Dua Eksekusi

Sejumlah pemerhati hukuman mati mempertanyakan keputusan Florida menjadwalkan dua eksekusi hanya dalam hitungan jam.

Pastor Katolik Dustin Feddon, yang selama lebih dari satu dekade mendampingi narapidana death row dan akan menemani Duckett hingga detik terakhir hidupnya, menilai keputusan tersebut sebagai sesuatu yang tidak biasa.

Ia mengatakan:

"I’m not shocked anymore by the number of death warrants that are being signed, but it struck me as a kind of rupture to the system that we would execute two people within six hours from one another."

Feddon juga mengkritik eksekusi terhadap narapidana lanjut usia seperti Occhicone.

Menurutnya:

"It’s almost as though the state, maybe, or some in the state do not want these men to escape execution by way of natural death."

DeSantis Sebut Eksekusi Bentuk Keadilan bagi Korban

Di sisi lain, Gubernur Ron DeSantis tetap mempertahankan kebijakan tersebut.

Sebelumnya, ia menegaskan hukuman mati merupakan hukuman yang layak bagi pelaku kejahatan paling berat sekaligus bentuk keadilan bagi keluarga korban.

Ia mengatakan:

"There’s victims’ families that are wanting to see justice, that I’m doing my part to deliver that."

DeSantis juga pernah menyampaikan prinsip:

"Justice delayed is justice denied."

Banding Masih Berlangsung

Hingga menjelang jadwal eksekusi, Duckett maupun Occhicone masih mengajukan berbagai upaya hukum untuk menunda pelaksanaan hukuman mati.

Salah satu gugatan menyebut pelaksanaan dua eksekusi dalam satu hari berpotensi meningkatkan risiko kesalahan prosedur (botched execution). Namun, hingga kini pengadilan belum mengabulkan permohonan tersebut.

Jika seluruh proses hukum selesai dan tidak ada penundaan, Selasa akan menjadi hari bersejarah bagi Florida sekaligus kembali memicu perdebatan nasional mengenai masa depan hukuman mati di Amerika Serikat. (*)

*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : CNN
Florida Ron DeSantis James Duckett hukuman mati amerika serikat