Miris! Ibu Hamil Palestina Kehilangan Calon Buah Hati usai Ambulans Ditahan Pasukan Israel di Checkpoint Awarta

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 10:13 WIB
Ibu hamil kehilangan anaknya setelah ambulannya di tahan tentara israel (thenationalnews.com)
Ibu hamil kehilangan janinnya setelah ambulannya di tahan tentara israel (thenationalnews.com)

Jawa Pos Radar Madiun - Seorang wanita hamil asal Desa Qaryut, selatan Nablus, Tepi Barat, kehilangan calon buah hatinya usai ambulans yang membawanya ditahan pasukan Israel di checkpoint Awarta pada Senin (27/7).

Wanita berusia 28 tahun yang tengah hamil enam bulan ini dalam kondisi tidak sadarkan diri dan mengalami pendarahan hebat saat dijemput tim medis dari rumahnya.

Kronologi: Mesin Ambulans Dipaksa Dimatikan

Menurut paramedis Bashar al-Qaryouti yang mendampingi langsung proses evakuasi, akses menuju salah satu desa terdekat sempat ditutup.

Memaksa ambulans mengambil jalur tanah melalui kebun zaitun sebelum akhirnya tiba di checkpoint Awarta namun gerbang di sana justru dalam keadaan tertutup dengan antrean panjang kendaraan.

Tentara Israel yang berjaga di menara pengawas memerintahkan Qaryouti mematikan daya ambulans.

Meski sudah menjelaskan bahwa peralatan medis di dalamnya sedang digunakan untuk menjaga pasien tetap stabil, permintaannya ditolak dan mesin tetap dipaksa dimatikan.

Baca Juga: Lebih dari 50 Serangan dalam Sepekan, Krisis Kemanusiaan di Palestina Kian Mengkhawatirkan

Ditahan Lebih dari 30 Menit di Tengah Kondisi Kritis

Selama lebih dari 30 menit, kru medis ditahan dan sang pasien bahkan sempat digeledah meski dalam kondisi kritis dan mengalami pendarahan hebat.

Setelah akhirnya diizinkan melintas, ambulans segera melarikan wanita tersebut ke rumah sakit. Dokter berhasil menyelamatkan nyawa sang ibu, namun tidak berhasil mempertahankan kehamilannya.

Bagian dari Penutupan Wilayah yang Lebih Luas

Insiden ini terjadi di tengah blokade ketat yang diberlakukan otoritas Israel di kawasan Nablus, menyusul serangan pemukim yang menewaskan sejumlah warga Palestina akhir pekan sebelumnya.

Ghassan Hamdan, juru bicara lembaga sipil di Nablus, menyebut pengetatan pembatasan ini sangat berdampak pada pasien, khususnya ibu hamil yang membutuhkan penanganan medis darurat.

Ia menegaskan penutupan wilayah Nablus yang sudah berlangsung empat hari berturut-turut secara langsung berdampak pada pasien dan ibu hamil, serta menghalangi mereka mencapai rumah sakit.

Bukan Kasus Terisolasi

Media Palestina turut melaporkan dua wanita lain terpaksa melahirkan di dalam kendaraan akibat tidak bisa mencapai rumah sakit karena penutupan checkpoint di sekitar Nablus pada hari yang sama.

Sepekan sebelumnya, seorang ibu dua anak berusia 30 tahun asal Sinjil, dekat Ramallah, juga dilaporkan meninggal akibat serangan jantung setelah ambulans yang hendak menjemputnya dihalangi memasuki wilayah tersebut.

Baca Juga: Baru 5 Bulan Menikah, Kiper Gaza Ini Tewas di Tangan Tentara Israel Saat Cari Gas untuk Keluarganya

Peringatan dari Kelompok Hak Asasi Manusia

Menanggapi rentetan insiden ini, seorang peneliti dari Physicians for Human Rights, Israel menegaskan bahwa penutupan seluruh wilayah sembari menghalangi ambulans menjangkau pasien atau mengevakuasi korban luka menempatkan nyawa warga sipil dalam risiko langsung.

Berdasarkan data Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), serangan pemukim di Tepi Barat meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir, dari 1.291 insiden pada 2023 menjadi 1.835 insiden pada 2025.

Hingga berita ini ditulis, pihak militer Israel belum memberikan tanggapan resmi terkait insiden spesifik yang menimpa wanita asal Qaryut ini. (*)

*Dwiki Dermawan, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : Middle East Eye, The National News
anak ibu hamil palestina israel