Jawa Pos Radar Madiun - Di saat banyak destinasi wisata berlomba menghadirkan fasilitas serba modern, ada sebuah pulau kecil di Italia yang justru memikat karena kesederhanaannya.
Tidak ada jalan raya, jaringan telepon seluler, maupun aliran listrik. Namun, kondisi itulah yang membuat Pulau Palmarola menjadi destinasi yang dicari wisatawan yang ingin benar-benar lepas dari hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.
Terletak di Laut Tyrrhenian, sekitar lima mil dari Pulau Ponza di sebelah barat Roma, Palmarola menjadi salah satu tempat paling terpencil di Italia.
Untuk mencapainya, pengunjung harus menempuh perjalanan kereta menuju pelabuhan Anzio, dilanjutkan naik feri ke Ponza, kemudian menyewa perahu kecil milik nelayan atau operator lokal menuju pulau tersebut.
Keindahan Alam yang Masih Alami
Tidak adanya pembangunan besar membuat lanskap Palmarola tetap terjaga. Tebing-tebing vulkanik menjulang di sepanjang garis pantai, dihiasi gua laut, teluk-teluk kecil, serta perairan jernih yang menjadi favorit bagi penyelam dan pencinta snorkeling.
Pulau ini hanya memiliki satu pantai utama serta beberapa jalur setapak menuju bagian dalam pulau.
Di daratan, pengunjung dapat menjumpai kambing liar yang berkeliaran di antara vegetasi alami, sementara aktivitas wisata lebih banyak berpusat pada menikmati pantai, mendaki, hingga menjelajahi gua menggunakan perahu kecil.
Baca Juga: Pantai Gratis di Italia Diserbu 'Pemburu Spot', Polisi Sita Puluhan Payung dan Kursi Pantai
Hanya Ada Satu Restoran dan Penginapan
Fasilitas di Palmarola sangat terbatas. Pulau ini hanya memiliki satu restoran bernama O'Francese yang juga menyediakan sejumlah kamar sederhana hasil renovasi gua-gua nelayan di tebing batu.
Wisatawan biasanya memesan kamar jauh-jauh hari karena jumlahnya terbatas. Penginapan tersebut menawarkan paket menginap lengkap dengan makanan berbahan dasar hasil tangkapan laut segar.
Maria Andreini, seorang pekerja bidang teknologi informasi asal Treviso yang rutin mengunjungi Palmarola setiap musim panas bersama keluarganya, menggambarkan pengalaman liburan di pulau itu sebagai sesuatu yang unik.
“There’s so much, and so little, to do.”
Ia mengatakan sebagian besar waktunya dihabiskan untuk snorkeling, berjemur di pantai berbatu karang merah muda, menikmati langit malam yang dipenuhi bintang, hingga mendaki saat fajar untuk menyaksikan matahari terbit.
Menurutnya, meski pernah mengunjungi berbagai destinasi terkenal termasuk Maladewa, Palmarola tetap memberikan kesan yang berbeda.
“Spell-binding.”
Menyimpan Jejak Sejarah Ribuan Tahun
Selain panorama alam, Palmarola juga menyimpan nilai sejarah. Jalur pendakian membawa wisatawan menuju reruntuhan biara abad pertengahan dan bekas permukiman prasejarah.
Sejarawan lokal Silverio Capone menjelaskan bahwa pulau tersebut telah dikenal sejak ribuan tahun lalu karena batu obsidian yang dimanfaatkan manusia purba untuk membuat senjata dan peralatan.
“Very little has changed since then in the landscape.”
Pada masa Romawi Kuno, Palmarola digunakan sebagai pos pengamatan armada laut, namun tidak pernah berkembang menjadi kawasan permukiman permanen.
Baca Juga: Pantai-Pantai Brasil yang Jarang Diketahui Wisatawan, Surga Tersembunyi Dekat São Paulo
Tradisi Keagamaan Masih Terjaga
Di atas salah satu tebing berdiri sebuah kapel kecil yang didedikasikan untuk Santo Silverius, paus abad ke-6 yang dipercaya meninggal dalam pengasingan di Palmarola.
Setiap bulan Juni, warga Ponza menggelar prosesi keagamaan menuju pulau tersebut dengan membawa patung Santo Silverius menggunakan perahu.
Tradisi itu telah berlangsung selama bertahun-tahun sebagai bentuk penghormatan kepada santo pelindung mereka.
Capone mengatakan masyarakat setempat masih meyakini kehadiran spiritual Santo Silverius di perairan sekitar pulau.
“It’s a sacred ritual. We pray to him every single day.”
Legenda lokal juga menceritakan bahwa Santo Silverius pernah menyelamatkan para pelaut yang terjebak badai dengan membimbing mereka kembali ke Palmarola hingga akhirnya selamat.
Wisata yang Mengutamakan Alam
Berbeda dari destinasi wisata populer di Italia yang dipadati pengunjung, Palmarola menawarkan pengalaman menikmati alam tanpa gangguan teknologi maupun keramaian.
Minimnya fasilitas modern justru menjadi daya tarik utama. Wisatawan datang bukan untuk mencari hiburan buatan, melainkan menikmati ketenangan, keindahan laut, serta lanskap vulkanik yang masih sangat alami. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar MadiunSumber : CNN