Jawa Pos Radar Madiun - Berjalan di jalanan berbatu dengan bangunan bergaya dinasti kuno, mengenakan hanfu, lalu mengabadikan momen bak hidup di masa lampau.
Pengalaman seperti itu kini menjadi daya tarik baru di China, meski banyak lokasi tersebut ternyata bukan peninggalan sejarah asli.
Di tengah pesatnya perkembangan industri pariwisata, China menghadirkan fanggu, atau destinasi yang dibangun sebagai tiruan kawasan bersejarah.
Meski dibuat dari nol, tempat-tempat ini dirancang sedetail mungkin agar menyerupai kota, desa, hingga istana kuno yang pernah ada.
Fenomena tersebut muncul karena sebagian besar bangunan bersejarah di China telah hilang akibat perang, kebakaran, penjarahan, hingga revolusi yang terjadi selama berabad-abad.
Wisata Sejarah dengan Sentuhan Modern
Alih-alih hanya menampilkan bangunan klasik, destinasi fanggu menawarkan pengalaman yang imersif.
Pengunjung bisa menyewa pakaian tradisional Hanfu, lengkap dengan riasan, aksesori, hingga sesi fotografi profesional.
Menurut Yang Jinsong, Direktur International Institute di China Tourism Academy, wisatawan modern kini lebih mencari pengalaman emosional daripada sekadar melihat objek wisata.
"Modern consumers are 'increasingly willing to pay for emotional value, seeking deeper engagement and cultural meaning through immersive experiences.'"
Bagi wisatawan domestik, terutama di tengah perlambatan ekonomi, konsep tersebut menjadi alternatif liburan yang relatif terjangkau sekaligus menawarkan pengalaman berbeda.
Baca Juga: Pantai-Pantai Brasil yang Jarang Diketahui Wisatawan, Surga Tersembunyi Dekat São Paulo
Gubei Water Town, Desa Kuno yang Baru Dibangun
Salah satu contoh paling terkenal adalah Gubei Water Town di dekat Beijing. Sekilas, kawasan ini tampak seperti desa air klasik khas Jiangnan dengan kanal, jembatan batu, rumah beratap abu-abu, dan lentera tradisional.
Padahal, kawasan tersebut baru dibangun pada 2014 melalui investasi sekitar 600 juta dolar AS.
Lokasinya berada di kaki Tembok Besar Simatai sehingga wisatawan dapat menikmati dua destinasi sekaligus tanpa harus bepergian jauh ke wilayah selatan China.
Popularitasnya terus meningkat. Paket wisata menuju Gubei banyak ditawarkan berbagai platform perjalanan, bahkan beberapa akomodasi di dalam kawasan dibanderol hingga ratusan dolar AS per malam.
Namun, tidak semua wisatawan mengetahui bahwa tempat tersebut merupakan replika.
Mahasiswi asal Thailand, Minyada "Minnie" Chotichaicharin, mengaku baru mengetahui fakta itu setelah berkunjung.
"I wouldn't mind that it's rebuilt, but it's hard to not feel tricked."
Xi'an Hadirkan Kota Tang Modern yang Tak Pernah Tidur
Kota Xi'an juga mengembangkan kawasan Datang Everbright City, yang menghidupkan kembali suasana Dinasti Tang melalui jalan sepanjang lebih dari dua kilometer.
Meski dipenuhi bangunan bergaya kuno, kawasan ini justru menawarkan hiburan modern seperti pertunjukan cahaya, parade budaya, hingga musik elektronik.
Salah satu tren yang berkembang adalah sesi foto dan video bertema "time-traveling wedding".
Pasangan pengantin mengenakan beberapa kostum dari berbagai era, mulai dari Hanfu Dinasti Tang, qipao era Republik China, hingga gaun pengantin modern.
Paket tersebut melibatkan sutradara, penata rias, fotografer, hingga para pemeran pendukung yang menghadirkan suasana layaknya film kolosal.
Meski biayanya cukup mahal, banyak pasangan tetap memilih konsep tersebut karena dianggap mampu menghadirkan pengalaman unik yang sulit ditemukan di tempat lain.
Kota Tua Kashgar Dibangun Ulang
Fenomena serupa juga terlihat di Kota Tua Kashgar di Xinjiang. Kawasan yang memiliki sejarah lebih dari dua ribu tahun itu pernah mengalami pembongkaran besar sebelum akhirnya dibangun kembali.
Kini, lorong-lorong sempit dan arsitektur khasnya tetap dipertahankan, meski sebagian besar merupakan hasil rekonstruksi modern.
Kashgar menjadi salah satu destinasi yang semakin diminati wisatawan, termasuk turis mancanegara.
Edward Zhou, seorang mahasiswa asal Washington, menggambarkan pengalamannya saat mengunjungi kota tersebut.
"Surreal."
Menurutnya, meski nuansanya menyerupai taman hiburan, Kashgar tetap memberikan gambaran sejarah yang sulit ditemukan di tempat lain.
Antara Autentisitas dan Pengalaman
Kemunculan destinasi fanggu memunculkan dua pandangan berbeda. Sebagian wisatawan menikmati pengalaman budaya yang ditawarkan tanpa terlalu mempermasalahkan keaslian bangunan.
Di sisi lain, ada pula yang berharap pengelola lebih terbuka bahwa lokasi tersebut merupakan hasil rekonstruksi, bukan situs sejarah asli.
Terlepas dari perdebatan itu, satu hal tidak bisa disangkal: media sosial berhasil mengangkat popularitas destinasi-destinasi tersebut.
Foto mengenakan hanfu, jalanan bergaya dinasti kuno, hingga pengalaman "hidup di masa lalu" terus menarik jutaan wisatawan untuk datang dan merasakannya sendiri. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar MadiunSumber : CNN