Jawa Pos Radar Madiun - Asap pekat kembali menyelimuti langit Kanada. Ribuan warga terpaksa meninggalkan rumah, sementara kobaran api terus meluas dari satu wilayah ke wilayah lain.
Di tengah situasi yang semakin sulit dikendalikan, muncul tuntutan agar pemerintah segera membentuk lembaga nasional khusus untuk menangani kebakaran hutan yang kian sering terjadi.
Kanada kini menghadapi lebih dari 900 kebakaran hutan yang masih aktif. Kondisi tersebut memicu perintah evakuasi di berbagai daerah sekaligus menjadikan Provinsi Ontario mengalami musim kebakaran hutan terburuk dalam sejarahnya.
Situasi ini kembali memunculkan seruan agar pemerintah federal membentuk strategi nasional melalui pendirian badan khusus yang bertugas mengoordinasikan penanganan kebakaran hutan di seluruh negeri.
Kanada Jadi Satu-satunya Negara G7 Tanpa Badan Nasional Penanganan Kebakaran
Berbeda dengan negara-negara G7 lainnya, Kanada hingga kini belum memiliki lembaga darurat nasional yang memiliki mandat khusus menangani kebakaran hutan.
Selama ini, penanganan kebakaran menjadi tanggung jawab pemerintah provinsi dan wilayah.
Baca Juga: Bursa Transfer Liga Inggris: Chelsea Datangkan Danny Welbeck dari Brighton
Pemerintah federal hanya memberikan bantuan ketika diminta, sehingga koordinasi nasional dinilai belum berjalan optimal saat kebakaran terjadi secara bersamaan di banyak lokasi.
Perdana Menteri Ontario, Doug Ford, menilai kondisi tersebut perlu segera dibenahi.
"We need a large national fire strategy. We seem to be going through this every single year," kata Doug Ford kepada wartawan.
Rekor Kebakaran Hutan Terus Berulang
Tiga Tahun Berturut-turut Jadi Musim Terburuk
Data pemerintah Kanada menunjukkan musim kebakaran hutan beberapa tahun terakhir terus mencatat rekor.
2023: sekitar 15 juta hektare lahan terbakar, menjadi musim kebakaran terburuk sepanjang sejarah.
2024: tercatat sebagai musim kebakaran terparah keempat.
2025: sekitar 8,3 juta hektare lahan terbakar, menjadi musim terburuk kedua setelah 2023.
Profesor kebakaran hutan dari Thompson Rivers University, Mike Flannigan, mengatakan belum pernah sebelumnya Kanada mengalami tiga musim kebakaran besar secara beruntun.
"Never in our modern record have we had three bad fire years," ujar Mike Flannigan.
Perubahan Iklim Dinilai Memperparah Situasi
Flannigan menjelaskan bahwa perubahan iklim akibat pembakaran bahan bakar fosil meningkatkan suhu global dan memperpanjang musim kebakaran.
Menurutnya, pembentukan badan darurat nasional tidak hanya penting untuk menghadapi kebakaran hutan, tetapi juga bencana lain seperti banjir, gempa bumi, hingga badai.
"We definitely need one, and not just for fires, but for floods, earthquakes, hurricanes," katanya.
Ia menilai lembaga nasional dapat membantu mengoordinasikan sumber daya lebih cepat sehingga kebakaran bisa ditangani sebelum meluas.
Baca Juga: MA Putus Bebas, Status Terdakwa Notaris Nafiaturrohmah Resmi Berakhir
Pemerintah Mulai Mengkaji Pembentukan Badan Darurat
Pada Juni lalu, Senat Kanada juga merekomendasikan pembentukan kantor koordinasi federal khusus kebakaran hutan dan respons darurat.
Sementara itu, Perdana Menteri Mark Carney telah membentuk komite darurat tingkat kabinet untuk mengoordinasikan respons terhadap kebakaran hutan.
Namun, pemerintah belum mengumumkan pembentukan strategi nasional maupun lembaga baru.
Kementerian Penanggulangan Darurat dan Ketahanan Komunitas Kanada menyatakan pemerintah sedang mempertimbangkan kemungkinan mendirikan badan manajemen darurat federal setelah mengevaluasi masukan dari berbagai pihak.
Flannigan meyakini biaya pembentukan lembaga tersebut akan sebanding dengan manfaat yang diperoleh melalui pengurangan kerusakan wilayah, perlindungan masyarakat, serta penurunan dampak kesehatan akibat asap kebakaran.
"We’re going to see more fire, more smoke and more impacts…. that’s our new reality," katanya.
"We’re going to have to adapt faster."
Dengan frekuensi kebakaran yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, tekanan terhadap pemerintah Kanada diperkirakan akan semakin besar untuk segera membangun sistem koordinasi nasional yang mampu merespons bencana secara lebih cepat dan terintegrasi. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Sumber : The Guardian