AS Gempur Iran dengan Serangan Besar-besaran, Ketegangan Timur Tengah Kembali Memanas

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 09:00 WIB

 

US Central Command released this image of a plane taking off during the strike operation (BBC)
US Central Command released this image of a plane taking off during the strike operation (BBC)

Jawa Pos Radar Madiun - Harapan akan meredanya konflik di Timur Tengah kembali memudar.

Setelah beberapa hari situasi relatif tenang dan muncul sinyal pembicaraan diplomatik, Amerika Serikat justru melancarkan gelombang serangan udara besar-besaran ke sejumlah wilayah Iran sebagai balasan atas dugaan serangan rudal Iran terhadap pasukan AS.

Serangan tersebut menandai eskalasi terbaru dalam konflik yang terus berkembang sejak gencatan senjata pada April lalu gagal dipertahankan.

Kedua negara kini kembali saling melancarkan serangan yang memperluas ketegangan di kawasan.

Gelombang Serangan Balasan Dilancarkan AS

Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan telah melaksanakan "gelombang serangan besar" terhadap puluhan target milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).

Menurut CENTCOM, sasaran operasi meliputi:

Serangan dimulai sekitar pukul 20.00 waktu Amerika Serikat bagian timur atau sekitar pukul 01.00 BST dan berlangsung kurang lebih satu jam.

CENTCOM menyebut operasi tersebut merupakan respons atas upaya Iran meluncurkan rudal balistik ke pangkalan militer AS di Yordania sehari sebelumnya.

Seluruh rudal tersebut diklaim berhasil dicegat sehingga tidak menimbulkan kerusakan pada instalasi militer Amerika.

Baca Juga: Aston Vila vs Indonesia All Stars: The Villans Bawa 30 Pemain, Ini Daftarnya

Iran Sebut Ada Korban Jiwa

Media pemerintah Iran melaporkan sejumlah wilayah menjadi sasaran serangan, termasuk Pulau Qeshm dan Abadan yang memiliki peran penting dalam industri minyak negara itu.

Kantor berita Fars melaporkan sebuah rumah di kawasan Chah Tangu, Pulau Qeshm, terkena serangan yang menewaskan satu keluarga.

Korban terdiri atas:

Seorang ayah.
Seorang ibu.
Seorang anak berusia dua tahun.

Selain korban jiwa, warga setempat mengaku mengalami gangguan listrik dan internet sejak dini hari.

Seorang warga Pulau Qeshm mengatakan ledakan mulai terdengar sekitar pukul 03.40 waktu setempat sehingga membuat situasi semakin mencekam.

Ketegangan Berawal dari Serangan Iran

Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengaku telah menyerang pangkalan udara dan pusat komando Amerika Serikat di Yordania sebagai respons atas operasi militer Washington.

IRGC juga menyatakan telah menyerang tiga kapal tanker minyak di Selat Hormuz karena dianggap mengabaikan peringatan dan melintasi jalur yang disebut tidak aman.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia karena menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab.

Baca Juga: Gelar Nyadran, Warga Desa Ngrendeng Ngawi Lestarikan Tradisi dan Jaga Semangat Guyub Rukun

Upaya Diplomasi Belum Membuahkan Hasil

Sebelum eskalasi terbaru terjadi, sempat muncul harapan bahwa kedua negara akan kembali ke meja perundingan.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan menyebut pembicaraan tersebut sebagai "very friendly negotiations", meski pemerintah Iran membantah adanya negosiasi yang sedang berlangsung.

Namun, setelah serangan rudal ke pangkalan AS di Yordania, Trump memastikan Amerika akan memberikan balasan.

"We're going to be hitting them very hard because it's our turn to hit them. They know it's coming. They asked us not to do it."

Konflik Meluas ke Negara Lain

Konflik tidak lagi hanya melibatkan Iran dan Amerika Serikat. Pada pekan ini, Amerika Serikat bersama Arab Saudi juga mengumumkan serangan terhadap kelompok-kelompok yang didukung Iran di Irak.

CENTCOM menyebut operasi tersebut dilakukan sebagai respons atas lebih dari 30 serangan drone yang diarahkan Iran dalam kurun 72 jam terakhir.

Sementara itu, pemerintah Mesir melaporkan kebakaran di sebuah pelabuhan diduga dipicu oleh serangan drone. Jika benar, insiden tersebut menjadi salah satu dampak terbaru meluasnya konflik ke negara lain di kawasan.

Di sisi lain, militer Yordania mengklaim berhasil mencegat lima rudal Iran yang mengarah ke wilayah negaranya.

Baca Juga: Oleh-Oleh dari Luar Negeri Bebas Bea Masuk hingga USD 500, Simak Ketentuannya

Ketegangan Kawasan Terus Meningkat

Hubungan Iran dan Amerika Serikat terus memburuk sejak gencatan senjata yang sempat diberlakukan pada April lalu runtuh pada Juni.

Sejak saat itu, kedua pihak saling melancarkan serangan terhadap aset militer maupun infrastruktur strategis.

Selain operasi udara dan serangan rudal, jalur pelayaran internasional di Selat Hormuz juga menjadi salah satu titik yang terdampak akibat meningkatnya aktivitas militer.

Di tengah situasi tersebut, sejumlah negara kawasan terus mendorong upaya deeskalasi. Namun hingga kini belum ada tanda-tanda bahwa konflik akan segera mereda. (*)

*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : BBC
perang timur tengah amerika serikat iran selat hormuz