Di Tengah Gejolak Timur Tengah, Shell Raup Untung Hampir Rp160 Triliun dalam Tiga Bulan

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 11:00 WIB
Logo Shell terlihat pada truk tangki bahan bakar. Perusahaan energi itu membukukan kenaikan laba setelah terdorong oleh menguatnya harga minyak dunia. (BBC)
Logo Shell terlihat pada truk tangki bahan bakar. Perusahaan energi itu membukukan kenaikan laba setelah terdorong oleh menguatnya harga minyak dunia. (BBC)

Jawa Pos Radar Madiun - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global. Di tengah konflik yang memanas antara Iran dan Amerika Serikat, harga minyak dunia mengalami lonjakan tajam.

Situasi tersebut tidak hanya memengaruhi pasokan energi internasional, tetapi juga membawa keuntungan besar bagi perusahaan minyak raksasa, Shell, yang mencatat peningkatan laba signifikan pada kuartal kedua 2026.

Kinerja Shell Terdongkrak Lonjakan Harga Minyak

Shell membukukan laba sebesar US$9,84 miliar atau sekitar Rp160 triliun (kurs Rp16.300 per dolar AS) selama periode April hingga Juni 2026.

Angka tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang mencapai US$4,26 miliar.

Peningkatan laba ini terjadi seiring melonjaknya harga minyak mentah setelah konflik yang melibatkan Iran memicu gangguan terhadap jalur distribusi energi global.

Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi lintasan utama ekspor minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.

Baca Juga: Aston Vila vs Indonesia All Stars: The Villans Bawa 30 Pemain, Ini Daftarnya

Bisnis Perdagangan Energi Ikut Menyumbang Keuntungan

Selain kenaikan harga minyak, Shell juga memperoleh keuntungan dari aktivitas perdagangan energi.

Fluktuasi harga yang tajam selama konflik menciptakan peluang lebih besar bagi perusahaan untuk meraih keuntungan dari selisih harga jual dan beli minyak.

Chief Executive Officer (CEO) Shell, Wael Sawan, mengatakan bahwa perusahaan mampu mempertahankan kinerja operasional yang kuat di tengah kondisi pasar energi yang penuh ketidakpastian.

"Operational performance enabled very strong results during another quarter of severe disruption in global energy markets."

Dengan hasil tersebut, total laba Shell sepanjang semester pertama 2026 mencapai sekitar US$16,76 miliar, atau meningkat sekitar 70 persen dibandingkan periode sebelumnya.

Produksi Gas Terganggu Akibat Konflik

Di balik kenaikan laba, Shell juga menghadapi sejumlah tantangan operasional. Produksi LNG perusahaan di Qatar masih terhenti sejak Maret karena dampak konflik bersenjata di kawasan tersebut.

Selain itu, fasilitas Pearl Gas-to-Liquids milik Shell di Qatar mengalami kerusakan cukup parah akibat serangan rudal.

Perusahaan memperkirakan proses perbaikannya dapat memakan waktu sekitar satu tahun.

Akibat kondisi tersebut, produksi gas Shell turun menjadi sekitar 631 ribu barel setara minyak per hari, jauh lebih rendah dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 909 ribu barel per hari.

Meski demikian, penurunan tersebut sebagian berhasil diimbangi oleh peningkatan produksi minyak dari proyek-proyek baru di Brasil dan kawasan Teluk Amerika.

Baca Juga: Gelar Nyadran, Warga Desa Ngrendeng Ngawi Lestarikan Tradisi dan Jaga Semangat Guyub Rukun

Analis Nilai Model Bisnis Shell Masih Solid

Analis energi global dari Quilter Cheviot, Maurizio Carulli, menilai pencapaian Shell tidak hanya didorong oleh kenaikan harga minyak, tetapi juga oleh kekuatan model bisnis perusahaan yang terintegrasi.

Menurutnya, kontribusi terbesar berasal dari divisi perdagangan energi yang mampu memanfaatkan volatilitas pasar, didukung performa kilang, bisnis petrokimia, serta pertumbuhan produksi di Brasil.

Ia menilai Shell tetap berada dalam posisi yang kuat meskipun industri energi menghadapi perubahan kondisi pasar yang berlangsung sangat cepat.

Kelompok Lingkungan Soroti Keuntungan di Tengah Krisis Iklim

Di sisi lain, besarnya keuntungan Shell memicu kritik dari kelompok pemerhati lingkungan.

Organisasi Friends of the Earth menilai lonjakan laba perusahaan minyak terjadi ketika banyak masyarakat masih menghadapi tingginya biaya energi dan dunia terus mengalami dampak perubahan iklim.

Juru kampanye energi Friends of the Earth, Danny Gross, mengatakan:

"With extreme heatwaves and wildfires hitting the UK and ravaging Europe, it's outrageous that Shell is making huge profits while continuing to fuel the climate crisis."

Ia juga menilai keuntungan tersebut diperoleh di tengah krisis energi yang membuat biaya listrik rumah tangga dan harga bahan bakar tetap tinggi, sehingga ketergantungan terhadap minyak dan gas perlu segera dikurangi melalui percepatan transisi menuju energi bersih. (*)

*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : BBC
Industri Migas shell ekonomi global perang iran harga minyak dunia