Jawa Pos Radar Madiun - Konflik di Tepi Barat kembali menyita perhatian dunia setelah seorang pemukim Israel secara terbuka membenarkan serangan terhadap warga Palestina sebagai aksi balas dendam.
Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara eksklusif dengan BBC yang memperoleh akses langka ke pos permukiman Havat Gilad, salah satu kawasan pemukim di wilayah pendudukan Tepi Barat.
Wawancara tersebut dilakukan beberapa hari setelah gelombang kekerasan melanda sejumlah desa Palestina di sekitar Havat Gilad.
Insiden itu terjadi menyusul tewasnya seorang petugas keamanan Israel dalam bentrokan dengan warga Palestina di Desa Tal.
Dalam kejadian yang sama, empat warga Palestina dan seorang tentara Israel juga dilaporkan meninggal dunia. Penyebab awal bentrokan tersebut masih diperdebatkan.
Baca Juga: Tragedi di Broad Peak Pakistan, Longsor Salju Sisakan Tujuh Pendaki yang Belum Ditemukan
Pemukim Israel Sebut Serangan Balasan Dibenarkan
BBC mewawancarai Yehuda Shimon, seorang pengacara yang mewakili warga Israel yang ditangkap karena kasus kekerasan terhadap warga Palestina.
Dalam wawancara tersebut, Shimon secara terang-terangan menyatakan bahwa serangan terhadap desa-desa Palestina setelah kematian petugas keamanan Israel merupakan tindakan yang dapat dibenarkan.
"I think now, after they killed one Israeli, we need to kill all the people in Tal and Sarra, even Jit and Farata."
Ketika ditanya apakah ia menyamakan satu nyawa warga Yahudi dengan ratusan bahkan ribuan warga Palestina, Shimon justru memberikan jawaban yang lebih ekstrem.
"No," he said, "millions. One Jewish life, it's 10 million [Palestinians]."
Saat ditanya mengenai unsur rasis dalam pernyataannya, Shimon tidak membantah.
"Yes, I know," he replied. "But this is the truth, because God chose us [and] because of this you are jealous."
Havat Gilad Jadi Simbol Ketegangan di Tepi Barat
Havat Gilad merupakan pos permukiman Israel yang berdiri lebih dari dua dekade lalu untuk mengenang seorang petugas keamanan Israel yang tewas dibunuh warga Palestina.
Kawasan ini terdiri atas rumah-rumah sederhana dan kebun anggur yang berada di atas perbukitan, berdekatan dengan sejumlah desa Palestina.
- Status Permukiman Masih Diperdebatkan
Menurut organisasi pemantau permukiman Peace Now, pemerintah Israel pernah menyatakan akan melegalkan Havat Gilad.
Namun, sebagian besar lahan yang ditempati diketahui masih diakui Israel sebagai milik pribadi warga Palestina.
Meski demikian, Shimon menolak anggapan bahwa hukum internasional memiliki relevansi terhadap keberadaan permukiman tersebut.
Ia berpendapat bahwa hak orang Yahudi atas wilayah Tepi Barat berasal dari ajaran Alkitab.
Baca Juga: Tak Capai Empat Pelamar, Seluruh Seleksi Jabatan Kepala OPD Ponorogo Diulang
Kritik terhadap Pemerintah dan Militer Israel
Dalam wawancara itu, Shimon juga mengkritik pemerintah serta militer Israel. Menurutnya, aparat dinilai tidak cukup keras menghadapi warga Palestina ketika terjadi bentrokan dengan para pemukim.
"The Israeli government and the Israeli army, they like the United Nations – if Palestinians come and Jewish people come, [they] don't kill the Palestinians, [they] just separate the people."
Ia menambahkan bahwa kegagalan menggunakan kekuatan mematikan justru membuat warga Palestina kembali menyerang warga Israel.
Data PBB Tunjukkan Korban Didominasi Warga Palestina
Pernyataan Shimon berbeda dengan data yang dihimpun Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA).
Hingga 20 Juli tahun ini:
- 64 warga Palestina tewas di Tepi Barat.
- 18 di antaranya meninggal dalam serangan pemukim Israel.
- Sedikitnya 12 korban dipastikan tewas akibat serangan pemukim.
- Tiga korban tewas akibat tindakan pasukan Israel.
- Tiga kasus lainnya masih dalam penyelidikan mengenai pelaku penembakan.
- Dalam periode yang sama, satu warga Israel dilaporkan tewas.
OCHA juga mencatat jumlah warga Palestina yang mengalami luka akibat serangan pemukim meningkat tajam menjadi lebih dari tiga orang setiap hari sepanjang tahun ini.
Baca Juga: Fasilitas Belum Siap, MPLS Sekolah Rakyat Pacitan Ditunda hingga 15 Agustus
Warga Palestina Mengaku Hidup dalam Ketakutan
Sejumlah warga Palestina yang tinggal di sekitar Havat Gilad mengatakan mereka terus memantau aktivitas di pos pemukiman tersebut karena khawatir sewaktu-waktu terjadi serangan.
Mereka menilai tentara Israel lebih fokus melindungi pemukim dibandingkan warga Palestina.
Di sisi lain, mereka juga merasa komunitas internasional tidak lagi memberikan perhatian terhadap situasi yang mereka hadapi.
Salah seorang warga Palestina menggambarkan kondisi tersebut dengan mengatakan:
"It's a very bad situation. Europe is busy, America is occupied with Iran, China doesn't care, Russia is fighting Ukraine, the UN are finished and the Arabs have internal problems. We don't know what we can do."
Meski hanya dipisahkan jarak kurang dari dua kilometer, desa-desa Palestina dan pos pemukiman Havat Gilad kini berada di tengah ketegangan yang terus dipengaruhi oleh perbedaan hukum, kekuatan militer, dan permusuhan yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar MadiunSumber : BBC