Jawa Pos Radar Madiun - Gelombang panas yang menyelimuti sebagian besar Eropa tak hanya memecahkan rekor suhu.
Di balik teriknya cuaca, sungai-sungai besar yang selama ini menjadi urat nadi transportasi, pembangkit listrik, hingga pariwisata kini menyusut drastis.
Dampaknya menjalar ke berbagai sektor, mulai dari ancaman krisis energi, aktivitas pelayaran yang lumpuh, hingga temuan tak terduga berupa sisa-sisa mammoth purba yang terkubur selama ribuan tahun.
Kondisi tersebut terjadi di sejumlah negara Eropa Tengah dan Timur. Permukaan air Sungai Danube dan Rhine turun ke titik terendah di beberapa wilayah akibat kombinasi suhu ekstrem dan kekeringan berkepanjangan.
Reaktor Nuklir Terpaksa Dikurangi Operasinya
Salah satu dampak paling serius terjadi di Hungaria dan Rumania. Untuk pertama kalinya, kedua negara harus menghentikan operasional reaktor nuklir yang bergantung pada air Sungai Danube sebagai sistem pendingin.
Baca Juga: Diterpa Kontroversi Atlet Transgender, Sophie Cunningham: Saya Datang untuk Bermain Basket
Pembangkit Listrik Hungaria Beroperasi di Bawah 50 Persen
Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Paks di Hungaria, yang memasok hampir separuh kebutuhan listrik nasional, mulai mengurangi kapasitas operasinya sejak awal pekan.
Perdana Menteri Hungaria, Péter Magyar, mengatakan pembangkit tersebut kini beroperasi di bawah 50 persen kapasitas dan diperkirakan akan dihentikan sepenuhnya dalam beberapa hari ke depan apabila permukaan air Danube belum pulih.
“An energy crisis situation could arise beginning Monday. Coordinated steps and restraint will be needed to avoid more severe consequences. We are counting on everyone!”
Pemerintah Hungaria pun meminta masyarakat menghemat listrik, terutama pada malam hari.
Warga diimbau mengurangi penggunaan pendingin ruangan, menunda pengisian daya kendaraan listrik, sementara industri otomotif dan baterai diminta menekan konsumsi air serta energi.
Situasi serupa juga terjadi di Rumania. Pemerintah menonaktifkan satu unit reaktor di PLTN Cernavodă karena alasan keselamatan dan berencana menghentikan unit lainnya dalam waktu dekat.
Perdana Menteri Ilie Bolojan mengatakan penghentian operasi diperkirakan berlangsung satu hingga dua pekan.
Danube Surut, Bangkai Kapal hingga Mammoth Bermunculan
Surutnya Sungai Danube membuka pemandangan yang jarang terlihat. Batu-batu besar, bangkai kapal perang era Perang Dunia II, bom yang belum meledak, hingga tulang-belulang mammoth purba muncul ke permukaan.
Baca Juga: Balap Greyhound Dilarang di Selandia Baru, Mengapa Ratusan Anjing Justru Diterbangkan ke Australia?
Penemuan Langka di Bulgaria
Di Desa Ryahovo, Bulgaria utara, seorang warga menemukan fosil yang diyakini merupakan sisa mammoth zaman es di dasar sungai yang mengering.
Tim ahli dari Museum Sejarah Regional Ruse kemudian datang untuk meneliti temuan tersebut.
Sementara itu, pekan lalu otoritas Budapest sempat menutup Margaret Bridge setelah sebuah bom peninggalan perang ditemukan di dasar sungai akibat turunnya permukaan air.
Pelayaran dan Pariwisata Lumpuh
Rendahnya debit air membuat kapal wisata di Budapest harus bersandar lebih jauh dari pusat kota. Sejumlah pelayaran wisata dibatalkan, sedangkan aktivitas kapal kargo hampir berhenti total.
Di sepanjang Sungai Danube yang melintasi 10 negara, kapal-kapal hanya bisa beroperasi dengan muatan terbatas dan harus mengantre lebih lama melewati jalur pelayaran.
Di perbatasan Bulgaria-Rumania, sejumlah nelayan bahkan tidak dapat mengoperasikan perahunya karena terjebak di dasar sungai yang mengering.
Salah seorang nelayan Bulgaria, Rossen Dobrev, mengaku belum pernah menyaksikan kondisi seperti ini.
“It’s never dried up this much before. Now we can even walk all the way to Romania.”
Di Serbia, ratusan kapal kecil dan puluhan kapal kargo juga terdampar di tepian Sungai Danube dekat Kota Novi Sad.
Pemilik kapal wisata, Radovan Segrt, mengatakan garis air telah mundur sekitar 15 hingga 20 meter dari bibir sungai.
“The summer season is over now, as far as boat riding is concerned.”
Baca Juga: Ketika Pemukim Israel Terang-Terangan Membela Kekerasan terhadap Warga Palestina di Tepi Barat
Sungai Rhine Ikut Terdampak
Kondisi serupa juga dialami Sungai Rhine di Jerman. Badan navigasi WSV mencatat permukaan air sungai turun mendekati rekor terendah akibat cuaca panas dan minimnya hujan.
Akibatnya, kapal-kapal pengangkut hanya mampu membawa sekitar 20 persen dari kapasitas normal.
Padahal Rhine merupakan jalur distribusi utama berbagai komoditas penting seperti gandum, batu bara, minyak, bijih logam, hingga produk bahan bakar.
Belanda juga mencatat permukaan Rhine berada di titik terendah sejak pencatatan dilakukan.
Negara tersebut bahkan telah menetapkan status kekurangan air sejak pertengahan Juli dan menerapkan pembatasan penggunaan air di berbagai sektor, terutama pertanian.
Gelombang Panas Diperkirakan Masih Berlanjut
Prakiraan cuaca menunjukkan wilayah Eropa Tengah dan Timur masih akan menghadapi suhu di atas 38 derajat Celsius dalam beberapa hari mendatang. Minimnya potensi hujan membuat permukaan Sungai Danube diperkirakan terus menurun.
Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran bahwa dampak kekeringan tidak hanya akan mengganggu sektor energi, tetapi juga memperburuk aktivitas ekonomi, transportasi, serta kehidupan masyarakat di sepanjang sungai-sungai utama Eropa. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar MadiunSumber : The Guardian