Trump Tunda Serangan Besar ke Iran, Klaim Negosiasi Baru Dimulai Hari Ini

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 11:00 WIB
Trump speaks to reporters on Air Force One on Sunday (BBC)
Trump speaks to reporters on Air Force One on Sunday (BBC)

Jawa Pos Radar Madiun - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran sempat berada di titik paling genting. Serangan militer berskala besar disebut sudah siap dilancarkan, tetapi pada saat terakhir Presiden Amerika Serikat Donald Trump memilih menundanya.

Kini, Washington mengklaim pintu diplomasi kembali terbuka dengan dimulainya putaran negosiasi baru bersama Teheran.

Trump mengatakan pembicaraan baru antara Amerika Serikat dan Iran akan dimulai pada Senin (4/8) waktu setempat. Pernyataan itu disampaikan setelah ia membatalkan rencana serangan yang sebelumnya disebut sebagai operasi militer terbesar sejak Perang Dunia II.

Trump Klaim Negosiasi Dimulai Senin

Berbicara kepada wartawan di atas pesawat kepresidenan Air Force One, Trump mengatakan proses negosiasi dengan Iran akan segera berlangsung.

"They knew the extent of the attack because they saw it forming," he told reporters on board Air Force One on Sunday. "We're talking to them in the form of a negotiation. It begins tomorrow afternoon."

Sebelumnya, melalui platform Truth Social, Trump mengaku menerima permintaan dari Iran serta sejumlah sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah agar menunda serangan karena kerangka kesepakatan dinilai sudah mulai terbentuk.

Namun hingga kini pemerintah Iran belum memberikan tanggapan resmi terhadap pernyataan tersebut.

Baca Juga: Aktor Legendaris Vincent Pastore Wafat, Sosok Gangster Ikonik The Sopranos Berpulang

Iran Bantah Minta Penundaan Serangan

Meski Trump menyebut Iran meminta Amerika Serikat menahan serangan, kantor berita semi-resmi Mehr membantah klaim tersebut.

Media tersebut menyebut pernyataan Trump sebagai kebohongan baru dan menegaskan Teheran tidak pernah meminta Washington membatalkan aksi militer.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan perundingan dengan Oman mengenai Selat Hormuz masih berjalan dan disebut "on track for finalisation", menurut media Iran.

Hingga saat ini belum ada kejelasan mengenai lokasi maupun peserta yang akan menghadiri pembicaraan yang disebut Trump akan dimulai pada Senin.

Trump: Serangan Sudah Siap Dilancarkan

Dalam keterangannya, Trump mengatakan seluruh persiapan militer sebenarnya telah rampung sebelum akhirnya dibatalkan.

"We're ready to go anytime we want... I'm not looking to kill people."

Ia juga menyebut Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, bersama Uni Emirat Arab dan Qatar, meminta Amerika Serikat untuk tidak melancarkan serangan pada akhir pekan.

Menurut Trump, negara-negara tersebut meyakini peluang tercapainya kesepakatan masih terbuka.

Harga Minyak Langsung Turun

Pernyataan Trump mengenai dimulainya negosiasi memberikan respons cepat di pasar energi dunia.

Pada perdagangan Asia, harga minyak mentah Brent turun sekitar 4,5 persen menjadi US$83,98 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun sekitar 4,6 persen menjadi US$80,74 per barel.

Selama konflik berlangsung sejak 28 Februari, harga energi terus berfluktuasi akibat kekhawatiran terhadap gangguan pelayaran di Selat Hormuz.

Sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia biasanya melewati jalur strategis tersebut.

Baca Juga: Restoran Baru Dibuka Berubah Jadi Lokasi Maut, Polisi Temukan Terduga Pelaku Tewas

Iran Tegaskan Tetap Waspada

Di sisi lain, pejabat Iran menegaskan negaranya tetap menganggap seluruh ancaman dari pihak lawan sebagai sesuatu yang nyata.

Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan Iran, Majid Ibn al-Reza, mengatakan negaranya tidak akan lengah meskipun ancaman tersebut bisa saja merupakan bagian dari perang psikologis.

"We will neither be caught off guard nor remain passive."

Trump sendiri belum memberikan tenggat waktu kapan kesepakatan harus tercapai. Ia hanya mengatakan pemerintahannya akan melihat perkembangan proses negosiasi yang akan dimulai.

Meski demikian, pernyataan Trump kembali menunjukkan perubahan pendekatan dari ancaman militer menuju jalur diplomasi, setelah sebelumnya beberapa kali memperingatkan Iran dengan ancaman serangan besar. (*)

*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : BBC
timur tengah amerika serikat donald trump iran selat hormuz