Jawa Pos Radar Madiun - Di banyak negara, halaman rumah biasanya menjadi ruang pribadi yang tertutup bagi orang asing. Namun setiap musim panas di Estonia, pemandangan berbeda justru muncul.
Rumah-rumah warga mendadak berubah menjadi kafe dadakan yang menyambut siapa saja.
Dari pekarangan, garasi, hingga jendela kamar, masyarakat membuka pintu rumah mereka untuk berbagi makanan, cerita, dan menjalin hubungan dengan orang-orang yang sebelumnya tidak mereka kenal.
Tradisi Home Cafe yang Menghidupkan Komunitas
Fenomena ini dikenal sebagai Kodukohvikute Päev atau Home Cafe Day, sebuah tradisi tahunan yang berlangsung di berbagai wilayah Estonia antara musim semi hingga awal musim gugur.
Dalam acara ini, warga mengubah ruang pribadi mereka menjadi tempat makan sementara yang terbuka untuk umum.
Di kota kecil Kehra, sekitar 45 menit dari ibu kota Tallinn, salah satu peserta adalah Heiki Kalvik.
Halaman belakang rumahnya disulap menjadi restoran sederhana lengkap dengan meja makan, menu cetak, serta hidangan rumahan seperti sup seljanka, roti gandum, acar buatan sendiri, hingga aneka sayuran hasil kebun.
"I'm very outgoing, and I like to cook. I enjoy hosting, and I’m proud of our outdoor space," kata Kalvik.
Di lokasi lain, Karolin Vahtre memanfaatkan garasi di belakang apartemennya untuk menjual sushi tempura, quiche jamur chanterelle, kentang goreng, hingga kue cokelat kepada para pengunjung.
Baca Juga: Perang Rusia-Ukraina Memanas, Gudang Raksasa E-Commerce Kembali Jadi Sasaran Drone Kyiv
Berawal dari Pulau Hiiumaa
Dari Ide Wisata Menjadi Tradisi Nasional
Tradisi ini pertama kali digelar di Pulau Hiiumaa pada 2007. Saat itu, pelaku pariwisata setempat mencari cara agar wisatawan tetap datang setelah puncak musim liburan berakhir.
Hanya 15 rumah yang ikut berpartisipasi pada penyelenggaraan pertama. Kini, acara tersebut berkembang menjadi festival selama tiga hari yang menghadirkan puluhan kafe rumahan dan menarik ribuan pengunjung setiap tahunnya.
Museum Hiiumaa menjadi salah satu peserta yang tidak pernah absen sejak acara pertama.
Direktur museum, Kauri Kiivramees, menilai tradisi ini mencerminkan budaya masyarakat pulau yang sejak lama terbiasa membantu pendatang.
"It's quite traditional to help foreign visitors on Hiiumaa because back then it meant they were here because of [a] shipwreck or something like that, and they needed help."
Lebih dari Sekadar Menjual Makanan
Keberhasilan Home Cafe Day membuat konsep serupa menyebar ke berbagai wilayah Estonia. Saat ini terdapat lebih dari 150 acara home cafe yang digelar setiap tahun.
Di kawasan Setomaa, tradisi ini dimanfaatkan untuk memperkenalkan budaya lokal, termasuk pakaian adat dan makanan khas seperti keju tradisional sõir.
Menurut Liis Kogerman dari organisasi Seto Küük, acara tersebut menjadi kesempatan untuk memperlihatkan identitas budaya daerah kepada para pengunjung.
Sementara itu, di Kota Tartu, Inga Kulmoja memiliki cara unik menjalankan kafenya.
Karena rumahnya tidak memiliki halaman, ia menjual es krim buatan sendiri melalui jendela kamar di lantai tiga menggunakan ember yang diturunkan dengan tali.
"It's very low tech," katanya.
Ia menjelaskan bahwa seluruh transaksi dilakukan secara sederhana, mulai dari pembayaran tunai hingga papan menu yang dibuat dari kertas bekas.
Baca Juga: Trump Tunda Serangan Besar ke Iran, Klaim Negosiasi Baru Dimulai Hari Ini
Tradisi yang Membuka Pintu Persahabatan
Bagi sebagian warga, Home Cafe Day bukan sekadar kegiatan kuliner. Oleg Pun dan Iryna Topilina, pasangan asal Ukraina yang menetap di Estonia sejak 2019, mulai mengikuti tradisi ini pada 2022 setelah orang tua mereka mengungsi akibat perang.
Mereka berharap kegiatan tersebut membantu keluarga mereka berkenalan dengan masyarakat sekitar. Sambutan hangat warga ternyata melampaui ekspektasi.
"They were so surprised and moved by how many Estonians came to support them. Neighbours from nearby houses even brought over extra chairs and furniture when they saw we needed more seating," kenang Topilina.
Kini keluarga tersebut rutin menyajikan makanan khas Ukraina, seperti varenyky dan borscht hijau, kepada para tamu di halaman rumah mereka.
Kesempatan Langka Melihat Kehidupan Warga Estonia
Berbeda dengan festival makanan pada umumnya, Home Cafe Day memberikan kesempatan bagi wisatawan untuk masuk ke halaman rumah warga, mencicipi resep keluarga, sekaligus mengenal kehidupan sehari-hari masyarakat Estonia dari dekat.
Penyelenggara Kalamaja Days, Katrin Aedma, menggambarkan makna tradisi ini dengan sederhana.
"It is not so often you can see inside of our yards. They are closed. But this is the day when our people open their hearts and their gates."
Tradisi yang telah berlangsung hampir dua dekade ini membuktikan bahwa makanan dapat menjadi jembatan yang mempertemukan orang asing menjadi tetangga, meski hanya dalam satu hari. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Sumber : BBC