Jawa Pos Radar Madiun - Sebuah undangan akademik yang awalnya berjalan biasa berubah menjadi kontroversi internasional.
Nama sosiolog agama ternama Fenggang Yang mendadak dihapus dari daftar pembicara utama sebuah konferensi Katolik di Amerika Serikat setelah muncul dugaan adanya tekanan dari pemerintah China.
Kasus ini kini memicu perdebatan mengenai kebebasan akademik dan kebebasan beragama di lingkungan pendidikan tinggi Amerika.
Kronologi Penghapusan Nama Fenggang Yang
Fenggang Yang, profesor di Purdue University sekaligus pakar terkemuka dalam studi agama di China, menerima undangan pada September 2025 untuk menjadi pembicara utama dalam konferensi dua tahunan US-China Catholic Association (USCCA).
Acara tersebut dijadwalkan berlangsung pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026 di University of St. Thomas, Houston.
Materi yang akan disampaikan Yang berjudul "Transforming Guanxi: Chinese Christian Transnational Ties and the Making of Social and Spiritual Capital". Topik tersebut sebelumnya telah diumumkan secara resmi melalui situs web dan buletin USCCA.
Namun situasi berubah pada 16 Mei 2026 ketika Ketua Dewan Direksi USCCA, Peter Tan, menghubungi Yang melalui email.
Tan mengaku baru kembali dari Shanghai dan mengatakan dua pejabat pemerintah China mempertanyakan keterlibatan Yang dalam konferensi tersebut.
Dua hari kemudian, dalam pertemuan melalui Zoom, Tan menyampaikan bahwa kedua pejabat itu meminta agar nama Yang dihapus dari agenda konferensi.
Baca Juga: BOOM! Puluhan Ribu Migran Masuk Ceuta dalam Sehari, Spanyol Sebut Ada Permainan Mafia Penyelundup
Fenggang Yang Menolak Mengundurkan Diri
Meski mendapat permintaan tersebut, Fenggang Yang menegaskan dirinya tetap ingin memenuhi undangan sebagai pembicara utama.
Ia menilai materi yang akan dipresentasikan murni bersifat akademik dan mengungkapkan bahwa dirinya pernah memberikan kuliah di berbagai institusi Katolik, termasuk di Vatikan, tanpa mengalami persoalan serupa.
Yang juga mempertanyakan bagaimana pejabat pemerintah asing dapat meminta organisasi di Amerika Serikat mencoret seorang akademisi dari program konferensi.
Menurutnya, tindakan itu merupakan pelanggaran serius terhadap kebebasan akademik dan kebebasan beragama.
Nama Menghilang dari Program Tanpa Penjelasan
Peter Tan kemudian menyampaikan kekhawatiran bahwa pihak University of St. Thomas maupun Keuskupan Galveston-Houston berpotensi membatalkan keseluruhan konferensi apabila Yang tetap menjadi pembicara.
Yang meminta agar pihak penyelenggara terlebih dahulu mengonfirmasi hal tersebut kepada universitas maupun keuskupan. Namun menurut pernyataannya, konfirmasi tersebut tidak pernah diberikan.
Tan juga disebut tidak pernah menyampaikan keputusan resmi dari dewan USCCA. Meski demikian, pada 1 Juni 2026 nama Fenggang Yang telah dihapus dari situs resmi konferensi.
Yang kemudian meminta penjelasan tertulis mengenai keputusan tersebut. Setelah beberapa kali berkorespondensi, Sekretaris Dewan USCCA Anne Tsui akhirnya mengirimkan surat tertanggal 29 Juni 2026.
Dalam surat itu, dewan meminta Yang mengundurkan diri dari konferensi, menyampaikan permintaan maaf, menawarkan honorarium, sekaligus meminta agar seluruh persoalan tersebut dirahasiakan.
Baca Juga: Tragedi di Langit Yunani! Misi Padamkan Kebakaran Berujung Insiden
Menolak Diam dan Soroti Kebebasan Akademik
Menanggapi surat tersebut, Fenggang Yang menyatakan dirinya tidak pernah mengundurkan diri, melainkan menerima keputusan penyelenggara.
Ia juga menolak honorarium yang ditawarkan, meski tetap meminta pengembalian biaya asrama yang telah dibayarkan.
Dalam tanggapannya, Yang menegaskan dirinya tidak bisa tetap diam. Ia menyebut tekanan dari pihak China sebagai pelanggaran serius terhadap kebebasan beragama dan kebebasan akademik di Amerika Serikat.
Yang juga mengaku kecewa karena organisasi Katolik yang berbasis di Amerika Serikat dinilai ikut memenuhi tekanan tersebut.
Menurutnya, tindakan itu menunjukkan kurangnya keberanian institusional dalam mempertahankan prinsip kebebasan akademik.
Kasus Memicu Sorotan terhadap Kebebasan Akademik
Masih pada hari yang sama, Yang mengetahui bahwa seorang akademisi senior mengundurkan diri dari posisi emeritus director di USCCA sebagai bentuk menjaga integritas akademik. Yang menyampaikan apresiasinya atas langkah tersebut.
Penulis artikel, Massimo Introvigne, menilai peristiwa ini menimbulkan pertanyaan serius karena sebuah organisasi Katolik dan universitas di Amerika Serikat disebut menerima permintaan yang berasal dari pejabat China untuk mencoret seorang akademisi dari agenda ilmiah.
Ia menilai keputusan tersebut diambil tanpa transparansi maupun penjelasan yang jelas sehingga dikhawatirkan dapat menjadi preseden bagi campur tangan serupa di masa mendatang.
Artikel tersebut juga menyinggung hubungan Vatikan dengan pemerintah China terkait penunjukan uskup.
Namun, penulis menyatakan dirinya meragukan adanya ketentuan yang melarang akademisi yang kritis terhadap Partai Komunis China berbicara di universitas Katolik, sehingga menurutnya diperlukan klarifikasi dari Vatikan mengenai persoalan tersebut. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Sumber : Bitter Winter