Jawa Pos Radar Madiun - Bayangkan sebuah sungai raksasa yang selama puluhan tahun menjadi sumber kehidupan kini menyusut hingga mengancam pasokan listrik sebuah negara.
Di tengah gelombang panas dan kekeringan yang belum pernah terjadi sebelumnya, Rumania mengambil langkah luar biasa dengan meledakkan batu besar di Sungai Danube agar air kembali mengalir menuju reaktor nuklir.
Keputusan tersebut menjadi gambaran nyata bagaimana krisis iklim kini mulai berdampak langsung pada sektor energi Eropa.
Krisis Air Paksa Rumania Ambil Langkah Darurat
Rumania melakukan peledakan terkendali menggunakan sekitar 180 kilogram bahan peledak untuk menghancurkan batu besar yang menghambat aliran Sungai Danube.
Operasi yang melibatkan angkatan laut itu bertujuan mengalihkan lebih banyak air menuju saluran pendingin Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Cernavodă, satu-satunya fasilitas nuklir di negara tersebut.
Langkah darurat itu diambil setelah permukaan Sungai Danube mencapai titik terendah akibat kekeringan berkepanjangan.
Kondisi tersebut membuat salah satu reaktor di PLTN Cernavodă harus dihentikan operasinya karena pasokan air pendingin tidak lagi mencukupi.
Pemerintah Rumania bahkan menetapkan status darurat nasional sepanjang Agustus menyusul menurunnya produksi listrik akibat terganggunya operasional pembangkit nuklir.
Baca Juga: Mengapa Warga Estonia Rela Membuka Rumah untuk Orang Tak Dikenal?
Upaya Menjaga Reaktor Terakhir Tetap Beroperasi
Batu Diledakkan Demi Mengalihkan Aliran Air
Ledakan itu menghasilkan semburan air tinggi ke udara sekaligus membuka jalur baru agar debit air menuju sistem pendingin reaktor meningkat.
Setelah batu berhasil dipindahkan, pemerintah berencana membangun bendungan sementara untuk mengarahkan lebih banyak air ke saluran yang memasok reaktor yang masih beroperasi.
Menteri Pertahanan Rumania, Radu Miruțǎ, menilai operasi tersebut sepadan dengan manfaat yang diperoleh.
"Any day past Wednesday or Thursday that the nuclear power plant functions is a gain. A day of it functioning is three times more efficient than the costs of this operation."
Menurutnya, setiap tambahan hari operasional pembangkit memberikan keuntungan ekonomi yang jauh lebih besar dibandingkan biaya pelaksanaan peledakan.
Hungaria Hadapi Ancaman Serupa
Bukan hanya Rumania yang terdampak. Negara tetangganya, Hungaria, juga menghadapi persoalan yang sama karena PLTN Paks menggunakan air Sungai Danube sebagai sistem pendingin.
Pembangkit nuklir berusia 44 tahun tersebut kini beroperasi kurang dari setengah kapasitas normal.
Sebelumnya, pemerintah memperkirakan PLTN itu harus ditutup pada akhir pekan, meski kemudian masa operasinya berhasil diperpanjang beberapa hari.
Perdana Menteri Hungaria, Péter Magyar, memperingatkan negaranya berpotensi menghadapi krisis energi apabila kondisi sungai tidak segera membaik.
"An energy crisis situation could arise beginning Monday."
Ia juga menyebut penghematan listrik secara sukarela telah berhasil memangkas konsumsi listrik sekitar 700 megawatt, sehingga sedikit meringankan beban sistem kelistrikan nasional.
Baca Juga: Aktor Legendaris Vincent Pastore Wafat, Sosok Gangster Ikonik The Sopranos Berpulang
Kekeringan Ganggu Pasokan Energi Kawasan
Surutnya Sungai Danube tidak hanya memengaruhi pembangkit nuklir. Serbia juga melaporkan pembangkit listrik tenaga air utamanya hanya mampu beroperasi sekitar 20 persen dari kapasitas normal akibat debit air yang terus menurun.
Akibat berkurangnya produksi listrik domestik, Rumania dan Hungaria kini semakin bergantung pada impor energi yang lebih mahal.
Situasi tersebut terjadi ketika kebutuhan listrik justru meningkat karena penggunaan pendingin ruangan selama gelombang panas ekstrem.
Para ahli memperkirakan permukaan Sungai Danube belum akan kembali normal dalam waktu dekat.
Prakiraan cuaca menunjukkan belum ada hujan signifikan yang diperkirakan turun dalam beberapa pekan mendatang.
Danube Menyusut, Jejak Sejarah Muncul ke Permukaan
Surutnya salah satu sungai terbesar di Eropa itu juga memunculkan berbagai temuan yang selama ini tersembunyi di dasar sungai.
Di sejumlah wilayah, permukaan air yang terus turun memperlihatkan batuan besar, bangkai kapal peninggalan masa lalu, bom dari Perang Dunia II, hingga tulang mammoth berbulu yang ditemukan warga di dekat Desa Ryahovo, Bulgaria. Penemuan tersebut kemudian diteliti oleh para arkeolog dari museum sejarah regional setempat.
Fenomena ini memperlihatkan bahwa dampak kekeringan tidak hanya mengancam pasokan energi, tetapi juga mengubah bentang alam dan mengungkap jejak sejarah yang telah lama tersembunyi di dasar Sungai Danube. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar MadiunSumber : The Guardian