Jawa Pos Radar Madiun - Di balik setiap puncak yang berhasil ditaklukkan, selalu ada risiko yang mengintai.
Namun, tak banyak yang menyangka bahwa sebuah longsor salju di Broad Peak, Pakistan, akan merenggut nyawa enam pendaki terbaik Nepal sekaligus.
Kepergian mereka bukan hanya menjadi duka bagi keluarga, tetapi juga meninggalkan kehilangan besar bagi dunia pendakian internasional yang selama ini mengenal mereka sebagai sosok-sosok pembuka jalan menuju puncak tertinggi dunia.
Longsor Broad Peak Tewaskan Enam Pendaki Berpengalaman
Longsor salju yang terjadi di Broad Peak, gunung tertinggi ke-12 di dunia, menewaskan enam pemandu gunung asal Nepal yang selama bertahun-tahun dikenal sebagai figur penting dalam dunia pendakian.
Salah satu korban adalah pendaki Inggris-Nepal Nirmal Purja, atau yang akrab disapa Nims, yang memimpin ekspedisi internasional beranggotakan 10 orang saat musibah terjadi.
Purja dikenal luas setelah mencetak rekor mendaki 14 gunung dengan ketinggian di atas 8.000 meter hanya dalam waktu sedikit lebih dari enam bulan.
Prestasi tersebut mengubah pandangan dunia terhadap kemampuan para Sherpa Nepal yang selama ini lebih sering dikenal sebagai pemandu dibandingkan atlet pendakian kelas dunia.
Menurut jurnalis Outside Magazine, Ben Ayers, sosok Purja memiliki pengaruh besar dalam dunia pendakian modern.
"Nims of course was iconic and undisputedly amongst the best of his generation."
Baca Juga: BOOM! Puluhan Ribu Migran Masuk Ceuta dalam Sehari, Spanyol Sebut Ada Permainan Mafia Penyelundup
Para Pendaki yang Mengubah Wajah Dunia Pendakian
Kili Pemba Sherpa Raih Grand Slam Pendakian
Korban lainnya adalah Kili Pemba Sherpa, 46 tahun, yang baru saja menyelesaikan seluruh pendakian 14 gunung tertinggi dunia atau dikenal sebagai eight-thousanders pada awal Juli 2026.
Sebelumnya, ia juga menjadi bagian dari tim Nepal yang mencatat sejarah dengan melakukan pendakian musim dingin pertama di Gunung K2 pada Januari 2021.
K2 dikenal sebagai salah satu gunung paling berbahaya di dunia karena medan yang curam dan cuaca yang sulit diprediksi.
Rekan-rekannya mengenang Kili Pemba sebagai sosok rendah hati dan berdedikasi tinggi terhadap keselamatan klien.
Ia bahkan dua kali berhasil mendampingi pendaki penyandang amputasi kedua kaki mencapai puncak Everest.
Gyanendra Shrestha, pejabat pemerintah Nepal yang pernah menyaksikan langsung salah satu ekspedisi tersebut, mengatakan:
"That was the toughest task for any guide, [Kili Pemba] did that with a lot of care."
Pur Bahadur Gurung Masuk Elit Pemandu Dunia
Korban lainnya, Pur Bahadur Gurung, telah menaklukkan 12 dari 14 gunung tertinggi dunia dan menjadi salah satu dari sekitar 100 pemandu Nepal yang mengantongi sertifikasi International Federation of Mountain Guides Association (IFMGA).
Juru bicara Departemen Pariwisata Nepal, Himal Gautam, menilai pencapaian tersebut menunjukkan dedikasi luar biasa.
"It takes a lot of money, passion and dedication to become an IFMGA guide. This tells us a lot about Pur Bahadur's zeal for mountaineering."
Pada 2024, Pur Bahadur juga ikut menemukan sepatu pendaki legendaris Andrew Irvine yang telah hilang di Everest sejak 1924.
Selain mereka, tiga korban lainnya adalah Gyaljen Sherpa, Nima Sherpa, dan Nawang Thindu Sherpa.
Gyaljen dikenal karena berhasil mendaki Gunung Kanchenjunga tiga kali dalam satu musim, sementara Nima berhasil menaklukkan empat gunung setinggi lebih dari 8.000 meter sepanjang 2026.
Nawang Thindu merupakan salah satu pemandu muda yang digadang-gadang menjadi generasi penerus dunia pendakian Nepal.
Baca Juga: Saat Sungai Danube Surut Ekstrem, Rumania Ambil Langkah Tak Biasa Demi Pasokan Listrik
Pakistan Jadi Tujuan Baru Pendaki Dunia
Pengaruh Besar Nirmal Purja
Selama musim semi, sebagian besar Sherpa bekerja memandu pendaki di Himalaya, Nepal.
Namun saat musim hujan tiba, banyak di antara mereka beralih ke Pegunungan Karakoram di Pakistan yang memiliki lima gunung berketinggian lebih dari 8.000 meter.
Popularitas kawasan tersebut meningkat setelah keberhasilan Purja mendaki 14 gunung tertinggi dunia yang kemudian diangkat dalam film dokumenter Netflix.
Presiden sementara Nepal Mountaineering Association, Iswari Paudel, mengatakan keberhasilan Purja mengubah cara pandang banyak pendaki terhadap Pakistan.
"Nims' success gave many [guides] and foreigners the courage to believe that this mountaineering crown was truly possible."
Meski demikian, medan di Pakistan jauh lebih sulit dibanding Nepal. Jalur pendakian lebih terpencil, fasilitas penyelamatan terbatas, dan tim harus memasang sendiri tali pengaman, membuat tanggung jawab para pemandu semakin besar.
Risiko Tetap Menjadi Bagian Dunia Pendakian
Sejumlah pakar memperkirakan tragedi Broad Peak belum tentu mengubah industri pendakian gunung berketinggian ekstrem.
Ben Ayers menilai kecelakaan seperti ini biasanya hanya memunculkan kekhawatiran sesaat sebelum aktivitas pendakian kembali berjalan normal.
"Generally, these tragedies cause a moment of concern... but then things go back to how they were."
Pendapat serupa disampaikan peneliti pendakian gunung Medhavi Gulati yang menyebut daya tarik utama olahraga ini justru terletak pada tantangannya.
"Often, it's the dangers and risk of death that attracts people."
Sementara itu, penulis sekaligus pendaki Alan Arnette mengingatkan bahwa dunia pendakian pernah menghadapi tragedi serupa, termasuk longsor es di Everest pada 2014 dan kecelakaan besar di K2 pada 2008.
"I doubt the Broad Peak incident will have a significant impact, given history. I hope I'm wrong."
Kepergian enam pendaki tersebut menjadi kehilangan besar bagi Nepal sekaligus dunia pendakian internasional.
Di balik deretan rekor yang mereka torehkan, tersimpan dedikasi, keberanian, dan semangat yang mengubah posisi Sherpa dari sekadar pemandu menjadi tokoh utama dalam sejarah pendakian gunung dunia. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar MadiunSumber : BBC