Tangis dan Harapan Tim Putri Afghanistan, Kembali Bersatu Setelah Bertahun-Tahun Terpisah

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Kamis, 6 Agustus 2026 | 09:00 WIB
The team hopes that in the future they will qualify for international competitions, such as the World Cup and the Olympics (BBC)
The team hopes that in the future they will qualify for international competitions, such as the World Cup and the Olympics (BBC)

Jawa Pos Radar Madiun - Suara tepuk tangan memenuhi ruang ganti. Lagu kebangsaan Afghanistan mengalun pelan, sementara beberapa pemain berusaha menahan air mata.

Setelah bertahun-tahun hidup terpisah di berbagai negara sebagai pengungsi, mereka akhirnya kembali mengenakan seragam yang sama.

Bukan sekadar untuk bermain sepak bola, tetapi untuk membuktikan bahwa mimpi mereka belum pernah padam.

Pertemuan di Auckland, Selandia Baru, menjadi momen bersejarah bagi tim sepak bola putri Afghanistan.

Untuk pertama kalinya sejak FIFA memberikan pengakuan resmi pada April 2026, para pemain kembali berkumpul sebagai satu tim dan membuka jalan menuju kompetisi internasional.

FIFA Beri Harapan Baru bagi Tim Putri Afghanistan

Sebanyak 23 pemain yang kini tinggal di berbagai negara mengikuti pemusatan latihan di Selandia Baru sekaligus menjalani dua laga uji coba melawan Kepulauan Cook.

Sebelumnya, tim nasional putri Afghanistan tidak dapat tampil karena harus memperoleh persetujuan Federasi Sepak Bola Afghanistan.

Kondisi tersebut menjadi mustahil setelah Taliban kembali berkuasa pada Agustus 2021 dan menerapkan berbagai pembatasan terhadap perempuan, termasuk melarang mereka mengikuti olahraga terorganisasi.

Kini, melalui keputusan FIFA, tim yang dikenal sebagai Afghan Women United berpeluang mengikuti kualifikasi ajang internasional seperti Piala Dunia dan Olimpiade di masa depan.

Baca Juga: Operasi Besar di Hutan Amazon Berhasil Bongkar Jaringan Tambang dan Pembalakan Ilegal

Perjuangan Pemain Meninggalkan Afghanistan
Menyembunyikan Identitas Demi Bermain

Bagi banyak pemain, sepak bola bukan hanya olahraga, tetapi juga perjuangan melawan berbagai tekanan sosial.

Salah satunya adalah Manozh Noori yang sejak kecil bermain sepak bola bersama anak laki-laki di Kabul.

Demi menghindari diketahui keluarganya, ia bahkan mengenakan penutup wajah saat bertanding.

Namun, setelah tampil dalam sebuah wawancara televisi, identitasnya akhirnya diketahui sang kakak yang menentang keputusannya menjadi pesepak bola.

Noori mengenang ketakutannya saat itu. "I was so scared."

Ketika Taliban mengambil alih Afghanistan pada 2021, Noori memutuskan melarikan diri ke Australia. Sebelum pergi, ia mengubur seluruh medali dan trofi sepak bolanya di halaman rumah.

Lebih dari empat tahun kemudian, penghargaan tersebut masih tersimpan di sana. Ia berharap suatu hari bisa kembali mengambilnya.

"One day I will go back and dig them out."

Sepak Bola Menjadi Jalan Menuju Kehidupan Baru

Noori mengaku sepak bola telah mengubah hidup keluarganya. Setelah menetap di Australia, ia berhasil membawa ibu dan adiknya keluar dari Afghanistan sehingga sang adik dapat kembali melanjutkan pendidikan.

Ia berharap perjuangannya mampu mengubah pandangan keluarganya terhadap pilihannya menjadi atlet sepak bola.

Pemain lain, Mursal Sadat, juga menyebut sepak bola sebagai alasan dirinya mampu bertahan melewati masa-masa sulit setelah Taliban kembali berkuasa.

"If I wasn't a footballer, I would still be in Afghanistan, one of millions of girls who are not allowed to study, speak up or choose their own future."

Kini Sadat tinggal di Australia dan aktif sebagai pelatih sepak bola sekaligus pegiat hak perempuan dan pengungsi.

Baca Juga: Mengapa Roket SpaceX Akan Menabrak Bulan? NASA Sebut Momen Langka Ini Jadi Kesempatan Riset

Kebebasan yang Dibayar dengan Pengasingan

Bek Najma Arefi juga memiliki kisah serupa. Saat masih di Afghanistan, ia berlatih di bawah suhu yang melebihi 45 derajat Celsius karena tim perempuan sering mendapat jadwal latihan paling tidak menguntungkan.

Perjuangannya membuahkan hasil ketika tim asal Herat berhasil menjuarai kompetisi nasional dan mulai mengubah cara masyarakat memandang sepak bola perempuan.

Kini Arefi menetap di Inggris, melanjutkan pendidikan di bidang peradilan pidana, dan menikmati kebebasan yang dulu sulit ia bayangkan.

Namun, ia mengaku masih sering merasa sedih memikirkan jutaan perempuan Afghanistan yang belum memperoleh kesempatan serupa.

"Millions of girls don't have the chance to study or follow their dreams. I feel I have to make the most of every opportunity."

Ia juga menyampaikan rasa bangga atas pengakuan FIFA terhadap tim mereka tanpa harus mendapat persetujuan Taliban.

"To receive Fifa's recognition without the approval of the Taliban." Menurutnya, pengakuan tersebut merupakan sejarah yang akan selalu dikenang.

Dua Kekalahan yang Justru Menjadi Sebuah Kemenangan

Dalam dua laga persahabatan di Auckland, Afghanistan harus mengakui keunggulan Kepulauan Cook dengan skor 0-1 pada pertandingan pertama dan 0-3 pada laga kedua.

Meski gagal meraih kemenangan, hasil pertandingan bukanlah tujuan utama. Yang jauh lebih penting adalah kembalinya para pemain ke lapangan setelah bertahun-tahun hidup dalam pengasingan, terpisah dari keluarga, dan kehilangan kesempatan membela negaranya.

Bagi mereka, mengenakan seragam Afghanistan sekali lagi menjadi bukti bahwa perjuangan mereka belum berakhir dan harapan untuk tampil di panggung sepak bola dunia tetap hidup. (*)

*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : BBC
taliban FIFA sepak bola putri Piala Dunia wanita afghanistan