Jawa Pos Radar Madiun - Ketegangan di kawasan Teluk Persia mulai menunjukkan secercah harapan.
Setelah berbulan-bulan menjadi salah satu titik paling berisiko bagi perdagangan energi dunia, Iran mengumumkan bahwa pembahasan mengenai jalur pelayaran baru di Selat Hormuz bersama Oman kini memasuki tahap akhir.
Meski demikian, Teheran menegaskan bahwa kesepakatan tersebut belum berarti jalur strategis itu sepenuhnya aman untuk dilintasi.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan negaranya telah mencapai kesepakatan dengan Oman mengenai rute pelayaran di Selat Hormuz.
Namun, ia tidak mengungkapkan rincian teknis maupun koordinat jalur yang dimaksud.
Kesepakatan Masuk Tahap Akhir
Menurut Baqaei, pembahasan antara Iran dan Oman kini hanya tinggal menyelesaikan tahap akhir sebelum kesepakatan dapat diberlakukan.
Meski begitu, ia menilai kondisi keamanan di Selat Hormuz masih dipengaruhi oleh kebijakan Amerika Serikat yang mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
"The factors making the Strait of Hormuz insecure still exist on the part of the United States, particularly the naval blockade and other aggressive and threatening actions against Iran and its interests," katanya, seperti dikutip kantor berita resmi Iran, Irna.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menambahkan bahwa jalur baru tersebut bersifat sementara dan diperkirakan dapat digunakan selama dua hingga empat bulan.
Namun, ia juga tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai lokasi maupun mekanisme pelaksanaannya.
Baca Juga: BOOM! Puluhan Ribu Migran Masuk Ceuta dalam Sehari, Spanyol Sebut Ada Permainan Mafia Penyelundup
Selat Hormuz Jadi Kunci Perdagangan Energi Dunia
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling vital di dunia. Dalam kondisi normal, sekitar 20 persen pasokan minyak mentah dan gas alam cair (LNG) dunia melintasi kawasan ini.
Sejak konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel pecah pada Februari lalu, aktivitas pelayaran di wilayah tersebut mengalami gangguan besar.
Iran memperketat pengawasan terhadap kapal yang melintas dan mewajibkan setiap pelayaran memperoleh izin terlebih dahulu.
Sejumlah kapal yang tidak mematuhi aturan tersebut dilaporkan menjadi sasaran serangan.
Situasi ini membuat distribusi energi global terganggu dan memicu fluktuasi harga minyak internasional selama beberapa bulan terakhir.
Perselisihan Soal Biaya Melintas
Selain persoalan keamanan, negosiasi juga diwarnai perbedaan pendapat mengenai biaya yang akan dikenakan kepada kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.
Menurut laporan Reuters yang dikutip BBC, Iran menginginkan biaya antara 5 hingga 7 persen dari nilai muatan kapal.
Sementara Oman mengusulkan tarif sekitar 3 persen, sedangkan Amerika Serikat menolak adanya pungutan tersebut.
Laporan Reuters juga menyebut rancangan kesepakatan akan memberikan Iran kewenangan lebih besar dalam mengawasi kapal-kapal yang memasuki kawasan Teluk melalui Selat Hormuz.
Baca Juga: Kelsey Plum Tinggalkan Sparks, Awal Baru atau Pertaruhan Besar Phoenix Mercury?
Trump Kembali Beri Peringatan
Sebelum pengumuman Iran tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memperingatkan bahwa Teheran akan menghadapi konsekuensi serius apabila Selat Hormuz tidak segera dibuka.
Pernyataan itu muncul setelah sejumlah pejabat senior AS mengungkapkan adanya perkembangan dalam pembicaraan yang memungkinkan aktivitas pelayaran kembali berjalan dalam waktu dekat.
Namun, Iran tetap menegaskan bahwa mereka tidak sedang bernegosiasi langsung dengan Amerika Serikat.
Harga Minyak Bergerak Turun
Di tengah kabar mengenai kemungkinan tercapainya kesepakatan, harga minyak dunia justru sedikit melemah.
Minyak mentah Brent tercatat turun sekitar 0,3 persen menjadi 79,24 dolar AS per barel pada perdagangan Asia Kamis pagi.
Penurunan ini mencerminkan harapan pasar bahwa jalur distribusi energi global berpotensi kembali lebih stabil apabila Selat Hormuz benar-benar dibuka.
Meski demikian, kepastian mengenai implementasi kesepakatan masih dinantikan.
Selama blokade dan ketegangan militer belum benar-benar berakhir, Selat Hormuz diperkirakan tetap menjadi salah satu kawasan paling sensitif dalam geopolitik dan perdagangan energi dunia. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar MadiunSumber : BBC