Jawa Pos Radar Madiun - Suara tepuk tangan biasanya menjadi pertanda kemenangan di dunia mode.
Namun kali ini, pengumuman Metropolitan Museum of Art (Met) di New York justru memicu perdebatan panjang.
John Galliano, salah satu desainer paling berpengaruh dalam empat dekade terakhir, akan menjadi tokoh utama pameran Costume Institute tahun depan.
Di balik pencapaian itu, publik kembali diingatkan pada skandal antisemitisme yang pernah menghancurkan kariernya.
Met Museum Angkat Karier John Galliano dalam Pameran Besar
Metropolitan Museum of Art mengumumkan bahwa pameran bertajuk "John Galliano: Horizons" akan menjadi tema utama Costume Institute pada musim semi mendatang.
Pameran tersebut akan dibuka bersamaan dengan Met Gala, yang setiap tahun menjadi salah satu acara mode paling bergengsi di dunia.
Galliano menjadi desainer hidup ketiga yang mendapat pameran retrospektif tunggal di Met, setelah Rei Kawakubo pada 2017 dan Yves Saint Laurent pada 1983.
Penghargaan tersebut menegaskan besarnya pengaruh Galliano terhadap perkembangan industri fesyen global.
Namun berbeda dari pameran sebelumnya, Met menegaskan bahwa perjalanan Galliano tidak hanya akan dilihat dari sisi artistiknya.
Baca Juga: BOOM! Puluhan Ribu Migran Masuk Ceuta dalam Sehari, Spanyol Sebut Ada Permainan Mafia Penyelundup
Masa Lalu yang Masih Membayangi
Karier Galliano sempat runtuh pada 2011 setelah video yang memperlihatkan dirinya melontarkan ujaran antisemit kepada pengunjung sebuah bar di Paris tersebar luas.
Dalam rekaman tersebut, Galliano mengucapkan kalimat: "I love Hitler."
Ia juga mengatakan: "People like you would be dead today."
Video itu memicu gelombang kecaman internasional. Dior segera memecat Galliano dari posisinya sebagai direktur kreatif.
Ia kemudian dinyatakan bersalah oleh pengadilan Prancis atas penghinaan bermotif agama dan ras.
Selama beberapa tahun berikutnya, Galliano menjalani rehabilitasi akibat kecanduan alkohol dan narkoba serta mempelajari sejarah Holocaust bersama tokoh-tokoh Yahudi sebagai bagian dari proses refleksi pribadinya.
Met Tak Menutupi Kontroversi
Alih-alih mengabaikan masa lalu tersebut, Met menyatakan bahwa pameran akan membahas hubungan antara pencapaian artistik dan tanggung jawab moral seorang seniman.
Dalam keterangan resminya, Costume Institute menyebut pameran akan: "consider how artistic achievement should be understood alongside ethical accountability."
Kurator Andrew Bolton juga menjelaskan bahwa pameran akan mengeksplorasi bagaimana karya Galliano berkembang, sekaligus memperlihatkan bagaimana tindakannya dan perubahan nilai budaya ikut memengaruhi cara publik menilai hasil karyanya.
Baca Juga: Mengapa Warga Estonia Rela Membuka Rumah untuk Orang Tak Dikenal?
Komunitas Yahudi Berikan Respons Beragam
Keputusan Met memunculkan reaksi yang beragam, terutama dari komunitas Yahudi.
Direktur komunikasi Nexus Project, Nate Wolfson, mengatakan sebagian masyarakat Yahudi kemungkinan merasa tidak nyaman karena penghormatan tersebut hadir ketika kasus antisemitisme masih meningkat di berbagai negara.
Meski demikian, ia berharap pameran tidak menghapus bagian paling gelap dari sejarah Galliano.
"The hope is just that they don't sanitize it for the sake of ease."
Menurutnya, kontroversi tersebut justru harus dijadikan sarana edukasi agar publik memahami bagaimana kebencian dapat muncul dan apa dampaknya.
Sebagai bagian dari persiapan, pihak Met juga disebut telah berdiskusi dengan sejumlah rabbi dan pemimpin komunitas Yahudi sebelum pameran diumumkan.
Comeback yang Terus Diperdebatkan
Setelah keluar dari Dior, Galliano perlahan kembali ke industri mode. Pada 2014 ia dipercaya menjadi direktur kreatif Maison Margiela.
Selama satu dekade berikutnya, ia kembali menghasilkan berbagai koleksi yang mendapat pujian luas dari kritikus fesyen.
Film dokumenter "High & Low: John Galliano" yang dirilis pada 2023 ikut mengubah persepsi sebagian publik. Dalam film tersebut, Galliano menyebut perbuatannya sebagai:
"a disgusting thing, foul thing that I did."
Ia mengaku telah hidup tanpa alkohol selama lebih dari satu dekade dan berusaha memperbaiki diri.
Karya-karyanya pun kembali dikenakan sejumlah selebritas dunia seperti Zendaya, Kim Kardashian, hingga Margot Robbie.
Baca Juga: Mengapa Roket SpaceX Akan Menabrak Bulan? NASA Sebut Momen Langka Ini Jadi Kesempatan Riset
Perdebatan Lama Kembali Muncul
Keputusan Met kembali menghidupkan pertanyaan yang telah lama muncul di dunia seni: apakah karya seorang seniman dapat dipisahkan dari kesalahan pribadinya?
Penulis sekaligus pengamat mode Dana Thomas menilai Galliano memang layak dikenang sebagai salah satu desainer paling berpengaruh.
Namun ia juga mengingatkan bahwa penghormatan sebesar ini tidak boleh membuat publik melupakan kontroversi yang pernah terjadi.
Sementara itu, Anna Wintour menyatakan tidak ada sosok yang lebih layak mendapatkan pameran sebesar ini dibanding Galliano.
Ia menegaskan bahwa pameran tersebut tidak akan menghindari sisi gelap perjalanan hidup sang desainer karena bagian itu turut membentuk dirinya.
Pameran Jadi Ujian Bagi Met Museum
Bagi banyak pihak, tantangan terbesar bukan sekadar menampilkan koleksi busana Galliano, melainkan menyajikan keseluruhan kisahnya secara jujur.
Met harus mampu memperlihatkan dua kenyataan sekaligus: Galliano adalah desainer yang mengubah wajah dunia mode, tetapi ia juga pernah melakukan tindakan yang melukai banyak orang.
Keberhasilan pameran nantinya akan sangat bergantung pada bagaimana museum menyeimbangkan penghormatan terhadap pencapaian artistik dengan pengakuan atas kesalahan masa lalu, tanpa menghapus salah satunya. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar MadiunSumber : CNN