Kok Ada Nama Typhoon Dim-sum? Ternyata Hong Kong Punya Alasan Unik

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 13:00 WIB
A tropical cyclone could one day be called Typhoon Dim-sum after the name was submitted by Hong Kong. (The Guardian)
A tropical cyclone could one day be called Typhoon Dim-sum after the name was submitted by Hong Kong. (The Guardian)

Jawa Pos Radar Madiun - Nama "Dim-sum" selama ini identik dengan hidangan khas yang populer di berbagai negara.

Namun kini, nama tersebut berpotensi muncul dalam laporan cuaca internasional sebagai nama sebuah topan.

Keputusan itu menjadi perhatian karena memperlihatkan bagaimana unsur budaya lokal dapat menjadi bagian dari sistem penamaan badai tropis di kawasan Asia-Pasifik.

Hong Kong resmi mengusulkan "Dim-sum" sebagai salah satu nama baru untuk daftar nama siklon tropis di kawasan Pasifik Barat Laut dan Laut China Selatan.

Nama tersebut telah disetujui dan suatu hari nanti dapat digunakan ketika badai baru terbentuk di wilayah tersebut.

Hong Kong Mengusulkan Nama Dim-sum

"Dim-sum" termasuk dalam sembilan nama baru yang ditambahkan ke daftar resmi nama siklon tropis pada 2026.

Penambahan dilakukan untuk menggantikan nama-nama lama yang telah dipensiunkan setelah digunakan pada badai yang menimbulkan korban jiwa maupun kerugian ekonomi besar.

Nama tersebut berasal dari daftar cadangan yang disusun Hong Kong Observatory bersama masyarakat pada 2023.

Dalam jajak pendapat yang diikuti lebih dari 20.000 orang, "Dim-sum" berada di posisi keempat, sementara "Milktea" menjadi pilihan teratas.

Baca Juga: Met Gala 2027 Dibayangi Kontroversi, Pameran John Galliano Picu Perdebatan

Bagaimana Nama Topan Ditentukan?
Daftar Nama Disusun oleh 14 Negara

Penamaan siklon tropis di kawasan Asia-Pasifik dikelola oleh Typhoon Committee, organisasi yang berada di bawah naungan Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

Saat ini terdapat 140 nama dalam daftar resmi. Masing-masing dari 14 negara anggota menyumbangkan 10 nama yang diambil dari bahasa, budaya, flora, fauna, hingga unsur khas negaranya.

Nama-nama tersebut digunakan secara bergantian dan akan dipakai kembali pada musim berikutnya.

Namun, apabila sebuah topan menyebabkan dampak yang sangat besar, nama tersebut akan dipensiunkan dan diganti dengan nama baru.

Dari Nama Barat Beralih ke Budaya Asia

Sebelum tahun 2000, badai di kawasan ini umumnya menggunakan nama berbahasa Inggris.

Setelah sistem baru diterapkan, negara-negara anggota mulai mengusulkan nama yang lebih mencerminkan identitas budaya masing-masing.

Perubahan itu bertujuan agar masyarakat lebih mudah mengenali dan mengingat nama badai.

Oleh karena itu, banyak nama yang berasal dari makanan, tumbuhan, hewan, maupun istilah budaya lokal.

Baca Juga: Ditengah Gempuran Hybrid, Mitsubishi Destinator Masih Pakai Mesin Turbo? Begini Alasannya

Sembilan Nama Baru yang Disetujui

Selain "Dim-sum", delapan nama baru lainnya juga telah disahkan oleh Typhoon Committee, yaitu:

Setiap nama harus memenuhi sejumlah persyaratan. Nama tidak boleh mengandung makna negatif, tidak bersifat ofensif dalam bahasa lain, serta tidak boleh menggunakan nama tokoh publik.

Hong Kong Pernah Ditolak

Bukan kali pertama Hong Kong mengusulkan nama untuk daftar topan. Pada 2005, dua usulan mereka gagal disetujui.

Nama "Kapok" ditolak Thailand karena pelafalannya dianggap menyerupai istilah slang dalam bahasa Thailand.

Sementara itu, usulan "Tai Chi" tidak lolos karena delegasi Jepang menilai nama tersebut terdengar seperti nama anak kecil.

Pengalaman tersebut membuat proses pemilihan nama dilakukan lebih hati-hati agar dapat diterima seluruh negara anggota.

Mengapa Nama Badai Perlu Diganti?

Penggantian nama bukan sekadar formalitas. Ketika sebuah topan menyebabkan kerusakan besar atau banyak korban jiwa, nama tersebut biasanya tidak lagi digunakan demi menghormati para korban sekaligus menghindari kebingungan dalam pemberitaan di masa mendatang.

Karena itu, daftar nama badai terus diperbarui secara berkala. Kehadiran "Dim-sum" menunjukkan bahwa unsur budaya lokal tetap memiliki tempat dalam sistem penamaan internasional, sekaligus menjadi cara unik untuk memperkenalkan identitas suatu daerah kepada dunia. (*)

*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : The Guardian
Typhoon Dim-sum Topan Asia cuaca ekstrem hong kong siklon tropis