Jawa Pos Radar Madiun - Langit di pantai timur China berubah menjadi ancaman ketika Topan Dolphin mencapai daratan pada Minggu (9/8/2026).
Hujan deras dan angin kencang menyapu sejumlah wilayah, sementara pemerintah memperketat langkah pengamanan untuk menghadapi potensi banjir dan longsor.
Topan yang sebelumnya melewati wilayah Okinawa, Jepang, tersebut diperkirakan masih akan membawa dampak hingga Senin.
Pusat Meteorologi Nasional China memperkirakan kecepatan angin berkelanjutan dapat mencapai 162 km per jam sebelum badai melemah dan bergerak lebih jauh ke daratan.
Topan Dolphin Picu Hujan Ekstrem di China Timur
Setelah mendarat, Dolphin diperkirakan bergerak ke arah barat sebelum melambat di wilayah tengah dan barat daya China.
Kondisi tersebut dapat membuat hujan deras berlangsung lebih lama dan meningkatkan ancaman banjir serta longsor, terutama di kawasan pegunungan dan sekitar sungai-sungai kecil.
Sejumlah wilayah diperkirakan menerima curah hujan yang sangat tinggi. Zhejiang bagian tengah dan timur bahkan berpotensi mengalami curah hujan antara 250 mm hingga 500 mm.
Hujan deras diperkirakan mengguyur beberapa wilayah hingga Senin, termasuk:
- Zhejiang
- Shanghai
- Fujian bagian utara
- Jiangxi bagian timur laut
- Anhui bagian tengah dan selatan
- Jiangsu dalam wilayah yang cukup luas
Besarnya curah hujan membuat pemerintah meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan meluapnya sungai dan terjadinya bencana hidrometeorologi.
Baca Juga: Lansia di Kabupaten Madiun Tembus 142 Ribu Jiwa, Lampaui Rata-Rata Jatim
Ribuan Penerbangan Dibatalkan
Dampak Topan Dolphin tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di daratan. Aktivitas penerbangan juga terganggu akibat kondisi cuaca yang memburuk.
Hampir 1.400 penerbangan dari dan menuju dua bandara penumpang utama di Shanghai dibatalkan pada Minggu, menurut laporan CCTV.
Di Zhejiang, Bandara Hangzhou juga mengalami pembatalan sebanyak 270 penerbangan kedatangan dan keberangkatan.
Gangguan penerbangan turut berdampak pada Singapore Airlines. Maskapai tersebut membatalkan delapan penerbangan dari dan menuju Shanghai pada Minggu.
Selain itu, 10 penerbangan yang dijadwalkan pada Senin dan Selasa mengalami perubahan waktu.
Pemerintah China Tingkatkan Status Darurat
Pemerintah China mengambil sejumlah langkah untuk mengantisipasi dampak badai. Pekerja lepas pantai telah dipindahkan ke tempat yang lebih aman, sementara kapal-kapal diminta kembali ke pelabuhan.
Pemeriksaan juga diperketat di sejumlah lokasi yang dianggap rawan, seperti waduk, aliran sungai pegunungan, kawasan yang berpotensi mengalami longsor, lokasi konstruksi, hingga tempat wisata.
China mempertahankan status tanggap darurat banjir Level III di Zhejiang dan Fujian, sementara Jiangsu dan Anhui berada pada Level IV.
Dalam sistem tanggap darurat China yang terdiri dari empat tingkatan, Level I merupakan tingkat paling parah.
Kementerian sumber daya alam juga menetapkan respons bencana geologi Level III di Zhejiang dan Level IV di Anhui.
Baca Juga: Daftar Pemain Timnas Futsal Indonesia untuk TC Spanyol, Garuda Bersiap ke Piala Dunia
Ancaman Longsor dan Luapan Sungai
Ancaman tidak berhenti pada banjir. Pergerakan Topan Dolphin ke wilayah daratan berpotensi meningkatkan risiko longsor, terutama di daerah pegunungan.
Kementerian sumber daya air China memperingatkan bahwa Sungai Qiantang, Yong, Jiao, dan Shuiyang berpotensi mengalami banjir besar.
Sejumlah sungai kecil di wilayah yang terkena dampak terparah juga diperkirakan dapat melampaui batas peringatan.
Pemerintah setempat mengingatkan masyarakat di wilayah yang masuk dalam peringatan merah banjir bandang pegunungan untuk mengikuti instruksi evakuasi jika diperlukan.
Pelabuhan Shanghai Evakuasi Kapal
Dampak badai juga membuat aktivitas pelabuhan harus disesuaikan. Pelabuhan Yangshan di Shanghai mengosongkan sejumlah tempat sandar kapal sebagai langkah antisipasi.
Lebih dari 500 kapal kecil dan menengah dipindahkan menuju lokasi perlindungan sebelum Topan Dolphin menerjang wilayah tersebut, berdasarkan keterangan otoritas keselamatan maritim Shanghai.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi risiko kecelakaan akibat gelombang besar dan angin kencang yang dibawa badai.
Sebelumnya Melanda Okinawa
Sebelum mencapai China, Topan Dolphin telah melewati Prefektur Okinawa di Jepang bagian selatan.
Badai tersebut dilaporkan menyebabkan enam orang terluka dan memutus aliran listrik di lebih dari 50.000 bangunan.
Rangkaian dampak tersebut menunjukkan luasnya pengaruh Dolphin ketika bergerak melintasi kawasan Asia Timur.
Dengan badai yang masih diperkirakan bertahan hingga Senin, perhatian pemerintah kini tertuju pada potensi banjir, longsor, serta gangguan terhadap infrastruktur dan aktivitas masyarakat di sejumlah wilayah China. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya
Editor : Tim Content Writer Radar MadiunSumber : channelnewsasia.com