Di Balik Tembok dan Kawat Berduri, Ada Harapan untuk Anak-Anak Haiti

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Senin, 10 Agustus 2026 | 15:00 WIB
Kids at Have Faith Haiti (CBS News)
Kids at Have Faith Haiti (CBS News)

Jawa Pos Radar Madiun - Di luar tembok tinggi yang mengelilinginya, suara kekerasan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari di Port-au-Prince, Haiti.

Namun, di balik pagar kawat berduri dan penjagaan ketat, puluhan anak tetap menjalani rutinitas seperti sekolah, bermain, beribadah, hingga menyiapkan cita-cita mereka. T

Tempat itu adalah Have Faith Haiti, panti asuhan yang dikelola penulis Mitch Albom bersama istrinya, Janine.

Panti tersebut menjadi semacam ruang aman bagi anak-anak yang hidup dalam kondisi paling rentan.

CBS News melaporkan bahwa sebanyak 63 anak tinggal di kompleks seluas tujuh hektare itu bersama lebih dari 50 guru dan staf.

Sebagian besar anak bahkan sudah tidak meninggalkan kompleks selama lebih dari empat tahun akibat situasi keamanan di luar.

Panti Asuhan di Tengah Kota yang Dikuasai Geng

Situasi Port-au-Prince membuat perjalanan menuju Have Faith Haiti bukan perkara sederhana.

Karena penerbangan internasional menuju ibu kota Haiti dinilai terlalu berbahaya, Albom biasanya terbang dari Florida menuju Cap-Haïtien di bagian utara negara tersebut. Dari sana, ia melanjutkan perjalanan menggunakan helikopter menuju Port-au-Prince.

Setelah tiba di ibu kota, Albom masih harus menggunakan konvoi kendaraan antipeluru dengan pengawalan bersenjata untuk mencapai panti asuhan.

Perubahan kondisi keamanan juga terlihat dari jumlah petugas yang menjaga tempat tersebut.

Albom mengatakan bahwa sebelum geng menjadi ancaman besar, panti itu hanya memiliki dua petugas keamanan. Kini jumlahnya meningkat menjadi 24 orang.

Dari luar, kompleks tersebut tampak seperti benteng. Tembok beton setinggi sekitar 30 kaki dilengkapi kawat berduri dan menara penjaga. Pengunjung juga harus melewati beberapa gerbang yang terkunci sebelum dapat masuk.

Baca Juga: Penerbangan Air India Diguncang Insiden Serius, Hasil Tes Pilot Jadi Sorotan

Namun, suasana berubah begitu berada di dalam.

Anak-anak menyambut Albom dengan panggilan “Mr. Mitch” setiap kali ia datang.

Mereka menjalani aktivitas sehari-hari dengan teratur, mulai dari bermain dan mengerjakan tugas hingga bersekolah selama delapan jam sehari.

Pendidikan Jadi Bagian Penting

Anak-anak di Have Faith Haiti mendapatkan pendidikan dalam bahasa Prancis dan Inggris. Mereka juga dipersiapkan untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Bagi Albom, pendidikan bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi bagian dari upaya memberi anak-anak kesempatan untuk memiliki masa depan.

“All children deserve to feel like they have a future and the future is possible.”

Ia juga menilai bahwa banyak anak lain di luar kompleks masih hidup dalam kondisi kelaparan dan kemiskinan. Karena itu, ia dan Janine berusaha membantu sebisa mungkin.

Tidak semua penghuni Have Faith Haiti merupakan anak yatim. Sebagian dibawa oleh orang tua atau anggota keluarga yang tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan mereka. Ada pula anak yang kehilangan rumah atau menghadapi persoalan kesehatan.

Albom mengatakan pihaknya harus membuat kriteria karena jumlah anak yang membutuhkan bantuan sangat besar.

Salah satu pertimbangannya adalah apakah seorang anak hanya memiliki satu orang tua, tidak mempunyai rumah yang layak, atau menghadapi kondisi sakit tertentu.

Anak-Anak Belajar Hidup di Balik Tembok Pengaman

Ancaman dari luar membuat keselamatan menjadi prioritas utama. Menurut laporan CBS News, hingga 90% wilayah metropolitan Port-au-Prince berada di bawah kendali kelompok bersenjata.

Kekerasan seperti perampokan, pembunuhan, dan pemerkosaan juga menjadi bagian dari situasi keamanan yang dihadapi masyarakat.

Untuk menghadapi kemungkinan terburuk, pihak panti secara rutin mengadakan latihan keadaan darurat.

Ketika latihan dimulai, anak-anak harus mengambil tas darurat atau “go bags” dan bergerak menuju bunker beton dengan pintu baja.

Ruangan tersebut dilengkapi generator, persediaan makanan dan air selama sekitar satu bulan, serta kamera untuk memantau kondisi di luar.

Latihan tersebut bukan sekadar formalitas. Dalam salah satu simulasi, seorang bayi ternyata masih tertidur di kamar bayi dan belum ikut dievakuasi. “Not good. Not good. Can't leave no one behind.”

Baca Juga: Prabowo Minta Anak-Cucu BUMN Dipangkas, 274 Perusahaan Sudah Dirampingkan

Dari Anak Rentan Menjadi Calon Pemimpin Haiti

Have Faith Haiti tidak hanya berusaha menjaga anak-anak tetap aman. Panti tersebut juga ingin mempersiapkan mereka agar suatu hari dapat berkontribusi terhadap negara mereka.

Dalam delapan tahun terakhir, 17 anak telah lulus sekolah menengah dari panti tersebut. Seluruhnya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi dan universitas di Amerika Serikat.

Namun, Albom berharap pendidikan di luar negeri tidak membuat mereka meninggalkan Haiti selamanya.

Anak-anak yang melanjutkan pendidikan diminta kembali setelah menyelesaikan studi dan mengabdi di panti selama dua tahun.

“All of our kids agree before they leave here that they are coming back after they finish their studies and they're going to work at our orphanage for two years for free, to give back to the community.”

Harapan tersebut mulai terlihat dari para lulusan. Beberapa di antaranya bercita-cita menjadi diplomat, senator, hingga membawa perubahan melalui pendidikan dan pemerintahan.

Bagi mereka, Haiti tetap menjadi rumah meskipun kehidupan di negara tersebut penuh ketidakpastian.

Masa Depan Haiti Masih Penuh Tantangan

Di luar kompleks Have Faith Haiti, persoalan keamanan dan politik Haiti masih menjadi tantangan besar.

Upaya internasional untuk membantu kepolisian Haiti juga belum sepenuhnya berjalan sesuai rencana. CBS News melaporkan bahwa dari 5.500 pasukan multinasional yang telah diotorisasi, sekitar 1.000 personel telah dikerahkan ketika laporan tersebut dibuat.

Meski begitu, kehidupan di dalam panti menunjukkan bahwa kondisi sulit tidak otomatis menghapus harapan.

Gina, salah satu penghuni Have Faith Haiti, menilai anak-anak di dalam kompleks sebenarnya tidak berbeda dari mereka yang hidup di jalanan. Menurutnya, kesempatanlah yang membuat perbedaan.

“No, because it could have been vice versa, and we could have been in the streets, and they could have been here. So, I think everybody has potential. They just have to be given the chance and the opportunity to explore that.”

Bagi Mitch Albom, memberikan lingkungan yang aman, tenang, dan penuh harapan kepada anak-anak merupakan bagian dari upaya membangun masa depan Haiti.

“Every child has that potential inside, no matter what circumstance they come from.”

Di tengah kota yang masih bergulat dengan kekerasan geng, Have Faith Haiti menjadi tempat di mana anak-anak tidak hanya dilindungi, tetapi juga diberi kesempatan untuk bermimpi.

Dari balik tembok tinggi tersebut, mereka dipersiapkan untuk suatu hari kembali dan ikut memperbaiki negara yang mereka sebut rumah. (*)

*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : CBS News
haiti Mitch Albom Port-au-Prince Krisis Haiti panti asuhan