Kasus Pembunuhan Tupac Memasuki Babak Baru, Satu Bukti Jadi Sorotan

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 12:00 WIB
What we know about Tupac murder suspect Duane "Keffe D" Davis (BBC)
Apa yang kita ketahui tentang tersangka pembunuhan Tupac, Duane “Keffe D” Davis (BBC)

Jawa Pos Radar Madiun - Tiga dekade setelah suara tembakan mengakhiri hidup Tupac Shakur di Las Vegas, kasus yang sempat dianggap nyaris mustahil terungkap kini memasuki ruang sidang.

Duane “Keffe D” Davis, mantan pemimpin geng berusia 63 tahun, akan menjalani persidangan atas tuduhan membunuh salah satu ikon terbesar dalam sejarah hip-hop.

Davis didakwa pada 2023 setelah bertahun-tahun kasus tersebut tidak menemukan titik terang.

Ia dituduh mengatur penembakan Tupac dengan senjata mematikan untuk mendukung aktivitas geng kriminal.

Davis telah menyatakan tidak bersalah. Jika terbukti bersalah, ia dapat menghadapi hukuman penjara seumur hidup tanpa kemungkinan pembebasan bersyarat.

Proses pemilihan juri telah dimulai pada Senin, sementara argumen pembuka dijadwalkan berlangsung pada 17 Agustus 2026.

Baca Juga: Endrick Pilih Bertahan di Real Madrid, Aston Villa dan AS Roma Gigit Jari

Penembakan yang Mengubah Sejarah Hip-Hop

Tupac ditembak pada 7 September 1996 setelah menghadiri pertandingan tinju antara Mike Tyson dan Bruce Seldon di MGM Grand, Las Vegas.

Beberapa jam sebelumnya, kamera pengawas merekam Tupac bersama rombongannya menyerang Orlando Anderson, yang disebut polisi sebagai anggota South Side Compton Crips.

Sekitar tiga jam kemudian, Tupac duduk di kursi penumpang BMW milik Suge Knight ketika sebuah Cadillac putih mendekat. Seseorang dari kendaraan tersebut melepaskan tembakan.

Tupac terkena empat peluru dan meninggal enam hari kemudian. Kematian tersebut kemudian menjadi salah satu misteri pembunuhan paling terkenal di Amerika Serikat.

Penyelidikan selama bertahun-tahun menghadapi berbagai hambatan, mulai dari minimnya bukti fisik hingga saksi yang enggan bekerja sama dengan polisi.

Sejumlah orang yang dianggap mengetahui kasus tersebut juga kemudian tewas dalam kekerasan terkait geng.

Rivalitas Bloods dan Crips

Kasus Tupac tidak dapat dilepaskan dari perseteruan geng dan industri musik pada era 1990-an.

Konflik antara Bloods dan Crips di Los Angeles ikut bersinggungan dengan persaingan besar antara kubu musik East Coast dan West Coast.

Tupac sendiri bergabung dengan Death Row Records milik Suge Knight setelah pindah dari New York ke California saat remaja. Ia kemudian menjadi salah satu wajah terbesar gangsta rap.

Album gandanya, All Eyez on Me, dirilis beberapa bulan sebelum kematiannya dan terjual lebih dari lima juta kopi.

Popularitas tersebut membuat Tupac semakin lekat dengan budaya hip-hop yang saat itu sedang berkembang pesat.

Baca Juga: KH Anwar Zahid Kecelakaan di Bojonegoro, Mobil Terhimpit Dua Truk

Kesaksian Duane Davis Kembali Membuka Kasus

Titik balik penyelidikan datang dari Duane Davis, paman Orlando Anderson. Pada pertengahan 2000-an, Davis berbicara kepada polisi mengenai penembakan Tupac dan mengaku berada di dalam kendaraan ketika rapper tersebut ditembak.

Pada 2019, Davis ikut menulis memoar berjudul Compton Street Legend. Dalam buku tersebut, ia menyebut dirinya berada di dalam mobil saat penembakan dan mengklaim telah membuang senjata yang digunakan untuk membunuh Tupac ke bagian belakang Cadillac.

Namun, Davis tidak pernah mengaku sebagai orang yang melepaskan tembakan. Polisi Las Vegas kemudian mengatakan pernyataan Davis kepada publik membuat penyelidikan kembali bergerak.

Pada 2023, polisi menggeledah rumahnya dan menyita sejumlah komputer, foto serta berbagai barang yang berkaitan dengan Tupac sebelum akhirnya menangkapnya.

Bukti Utama Justru Berasal dari Davis

Persidangan mendatang diperkirakan akan berfokus pada satu persoalan penting: seberapa jauh kesaksian dan tulisan Davis dapat dipercaya.

Davis dan tim pembelanya berargumen bahwa sebagian isi buku tersebut merupakan fiksi atau telah dilebih-lebihkan demi keuntungan komersial.

Dalam wawancara dengan stasiun televisi lokal, Davis bahkan membantah menulis buku tersebut secara langsung.

“I did not write that book,” Davis told Fox 5. “A ghost writer wrote that.”

Pengacara persidangan Shaun Kent menilai kondisi tersebut membuat kasus ini sangat menarik.

“This is what makes this case so fascinating. The two biggest pieces of evidence against Keffe D came from Keffe D.”

Davis juga mengatakan ia mungkin akan memberikan kesaksian dalam persidangannya sendiri.

“If I have to, I will.”

Jaksa menuduh Davis menjadi pihak yang merancang pembunuhan sebagai aksi balasan atas penyerangan terhadap Anderson pada malam yang sama.

Mereka menyebut Davis memerintahkan penembakan dan menyediakan senjata untuk mendukung aktivitas kriminal geng.

Baca Juga: Meriahkan HUT ke-81 RI di Magetan, Ki Damar Bakal Pentaskan Lakon Kresna Gugah

Lebih dari 200 Nama Berpotensi Menjadi Saksi

Jaksa telah mengajukan daftar lebih dari 200 calon saksi. Di antara nama yang tercantum terdapat anggota keluarga Tupac, mantan wali kota Las Vegas Oscar Goodman dan mantan detektif Los Angeles Police Department Greg Kading.

Nama Suge Knight juga masuk dalam daftar. Namun, belum jelas apakah mantan bos Death Row Records tersebut akan benar-benar memberikan kesaksian.

Knight dianggap sebagai salah satu orang terakhir yang masih hidup dan berada sangat dekat dengan Tupac ketika penembakan terjadi.

Persidangan ini akhirnya akan menentukan apakah kesaksian Davis yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari teka-teki pembunuhan Tupac dapat digunakan untuk membuktikan keterlibatannya.

Setelah 30 tahun dipenuhi teori, spekulasi, dan misteri, kasus tersebut kini memasuki tahap yang dapat menjadi penentu bagi salah satu pembunuhan paling terkenal dalam sejarah musik. (*)

*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : BBC
Tupac Shakur Duane “Keffe D” Davis Pembunuhan Tupac hip-hop kasus kriminal