Banjir Besar Terjang Assam, Nenek 97 Tahun Diselamatkan dengan Rakit Batang Pisang

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:00 WIB
Seorang wanita berjalan menyeberangi genangan banjir di luar rumahnya yang terendam banjir di sebuah desa di Sivasagar, Assam (BBC)
Seorang wanita berjalan menyeberangi genangan banjir di luar rumahnya yang terendam banjir di sebuah desa di Sivasagar, Assam (BBC)

Jawa Pos Radar Madiun - Tengah malam pada 19 Juli berubah menjadi situasi mencekam bagi sebuah keluarga di Assam, India.

Ketika air banjir terus meninggi dan arus semakin deras, Bornali Baruah bersama suaminya harus mencari cara untuk menyelamatkan ibu mertuanya yang berusia 97 tahun.

Perempuan lanjut usia itu hampir tidak bisa berjalan, sementara tidak ada perahu, tim penyelamat, maupun tetangga yang dapat membantu.

Mereka akhirnya menggunakan rakit sederhana dari batang pisang untuk membawanya menuju tempat aman.

Ketiganya kemudian berhasil mencapai sebuah kamp pengungsian di dekat jalan raya nasional sekitar satu jam setelah meninggalkan rumah.

Saat itu, ketinggian air mencapai sekitar tiga hingga empat kaki dengan arus yang cukup kuat.

Mereka harus bergerak perlahan sambil berpegangan tangan dan menggunakan tongkat agar tetap seimbang.

Banjir tersebut bukan hanya mengancam keselamatan warga, tetapi juga menghancurkan rumah dan mata pencaharian mereka.

Data terbaru mencatat 100 orang meninggal dunia, sementara 10 distrik dan 456 desa terdampak.

Sekitar 140.000 orang terdampak dalam wilayah tersebut dan 52 kamp pengungsian telah didirikan.

Secara keseluruhan, banjir melanda hampir 1,2 juta orang di 25 distrik, merusak lebih dari 19.000 rumah, serta membuat lebih dari 75.000 orang berada di 252 kamp pengungsian.

Baca Juga: Mayat Membusuk Ditemukan di Bawah Jembatan Resogati Madiun, Identitas Misterius

Banjir Terparah Melanda Wilayah yang Jarang Tergenang

Charing, desa tempat tinggal keluarga Baruah, termasuk wilayah yang terdampak parah.

Kondisi ini mengejutkan warga karena daerah tersebut sebelumnya dikenal tidak sering mengalami banjir.

Baruah, yang telah tinggal di Charing sejak lahir, mengatakan banjir kali ini merupakan yang pertama kali ia alami di kawasan tersebut.

Ia hanya pernah mendengar cerita tentang banjir besar pada 1950 dari generasi sebelumnya. Namun, tidak pernah sebelumnya ia menyaksikan air mencapai rumahnya sendiri.

Rumah keluarga tersebut berada di kawasan yang dikelilingi jaringan sungai. Sungai Brahmaputra berjarak sekitar 20 kilometer dari rumah, sementara Sungai Dikhow berjarak 12 kilometer, Jhanji 10 kilometer, dan Mitong sekitar 5 kilometer.

Ketika air mulai masuk, rumah satu lantai milik Baruah akhirnya terendam hingga sekitar lima kaki. Keluarganya meninggalkan rumah hampir sehari setelah air mulai naik dan kemudian menghabiskan 10 hari di kamp pengungsian.

Peternakan yang Dibangun Bertahun-tahun Ikut Hancur

Banjir juga menghancurkan usaha peternakan yang selama bertahun-tahun dibangun Baruah.

Perempuan berusia 40 tahun itu sebelumnya bekerja sebagai jurnalis sebelum meninggalkan profesinya pada 2016 untuk menekuni peternakan.

Tiga tahun kemudian, ia bahkan mendapat penghargaan sebagai peternak terbaik di Assam.

Usahanya berkembang hingga memiliki sekitar 300 kambing, 500 bebek, 1.000 ayam, serta ikan. Namun, banjir besar tersebut menghancurkan sebagian besar peternakannya.

Baruah memperkirakan sebagian besar kambingnya hilang, bersama 300 bebek, 300 ayam dan sejumlah besar ikan.

Mesin pembuat pakan ternak, perabot rumah, laptop, kendaraan, hingga koleksi buku keluarga juga ikut rusak. Tidak satu pun ternaknya memiliki asuransi.

"Everyone was trying to save themselves," kata Baruah ketika menggambarkan kondisi saat banjir melanda.

Baca Juga: Cara Cek Desil DTSEN dengan HP untuk Pastikan Sudah Terdaftar sebagai Calon Penerima Bansos

Mengapa Banjir Semakin Parah?

Menurut Dhrubajyoti Sahariah, profesor geografi sekaligus direktur Centre for Brahmaputra Studies di Gauhati University, banjir sebenarnya merupakan bagian alami dari kehidupan di Lembah Brahmaputra.

Namun, yang berubah adalah frekuensi, intensitas, dan tingkat keparahannya yang kini melampaui kondisi historis.

Sungai Brahmaputra termasuk salah satu sungai terbesar di dunia dan membawa sedimen dalam jumlah sangat besar.

Ketika memasuki dataran banjir Assam, alirannya melambat dan sedimen mengendap. Kondisi tersebut turut memicu erosi dan banjir.

Sahariah menjelaskan bahwa beberapa faktor membuat banjir kini menjangkau wilayah yang sebelumnya relatif aman.

Permukiman yang semakin banyak dibangun di dataran banjir, pembukaan hutan, aktivitas pertambangan dan pemotongan bukit, serta pembangunan jalan dan jembatan yang kurang mempertimbangkan kondisi hidrologi kawasan turut memperburuk situasi.

Ia menilai pengelolaan banjir tidak cukup dilakukan oleh Assam sendiri karena banyak anak sungai Brahmaputra berasal dari negara bagian lain.

Karena itu, diperlukan perencanaan dalam skala seluruh daerah aliran sungai dan koordinasi yang lebih kuat antarwilayah.

Baca Juga: Warutunggal Magetan Satukan Pengajian dan Wayang, Rawat Iman sekaligus Budaya di Momen HUT ke-81 RI

Keluarga Mulai Bersiap Menghadapi Banjir Berikutnya

Setelah 10 hari berada di kamp pengungsian, Baruah dan keluarganya kembali ke sekitar rumah mereka yang rusak.

Untuk sementara, mereka tinggal di rumah tetangga sambil berharap dapat kembali ke rumah sendiri.

Meski mengalami kerugian besar, Baruah tidak berencana meninggalkan Charing. Ia justru mulai memikirkan cara agar keluarganya dapat bertahan jika banjir kembali datang.

Ia mempertimbangkan untuk meninggikan fondasi rumah, membangun tempat yang lebih tinggi sebagai lokasi evakuasi sementara, serta menyimpan makanan dan air minum lebih awal.

Dari sekitar 300 kambing yang dimilikinya sebelum banjir, hanya sekitar 60 yang berhasil bertahan.

Ketika ditanya apakah dirinya merasa seperti pengungsi akibat perubahan iklim, Baruah menjawab, "No. If we regain our economic and mental strength, life will return to the way it was before."

Namun, ia juga menyadari bahwa ancaman banjir kini menjadi bagian dari kehidupan yang harus dihadapi.

"We will have to learn to coexist with the floods."

Fakta Penting
Lokasi: Assam, India
Korban meninggal: 100 orang
Wilayah terdampak: 25 distrik
Desa terdampak: 456 desa dalam data terbaru
Rumah rusak: lebih dari 19.000
Pengungsi di kamp: lebih dari 75.000 orang
Ketinggian air di rumah Baruah: hingga sekitar 5 kaki
Kambing yang bertahan: sekitar 60 ekor dari 300 ekor (*)

*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : BBC
Banjir India Assam bencana alam perubahan iklim india