Alasan Karoline Leavitt Mundur dari Jabatan Juru Bicara Gedung Putih

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 13:00 WIB

 

Karoline Leavitt pada tanggal 23 Juli 2026 di Gedung Putih, Washington DC. (The Guardian)
Karoline Leavitt pada tanggal 23 Juli 2026 di Gedung Putih, Washington DC. (The Guardian)

Jawa Pos Radar Madiun - Karoline Leavitt akan mengakhiri perannya sebagai juru bicara Gedung Putih pada akhir Agustus 2026.

Kabar tersebut disampaikan Presiden Amerika Serikat Donald Trump melalui media sosial.

Leavitt memilih meninggalkan posisi yang menuntut waktu dan perhatian besar setelah merasa perlu memberikan lebih banyak waktu untuk keluarganya.

Keputusan itu datang hanya beberapa bulan setelah Leavitt kembali bekerja usai menjalani cuti melahirkan.

Perempuan berusia 28 tahun tersebut melahirkan putrinya, Viviana, pada Mei lalu dan kembali menjalankan tugasnya pada bulan sebelumnya.

Karoline Leavitt Memilih Keluarga

Trump mengatakan Leavitt meninggalkan jabatannya agar dapat menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarganya.

Setelah pengumuman tersebut, Leavitt juga menjelaskan alasan keputusannya melalui media sosial.

“The truth is since returning to the White House after the birth of my daughter, I have felt in my heart that I cannot be the best mom my two young children deserve while devoting the constant time, energy, and attention required of the White House Press Secretary – and that is why I have ultimately made the bittersweet decision to depart the White House and embark on a new chapter in my life.”

Leavitt menilai tanggung jawab sebagai juru bicara Gedung Putih membutuhkan komitmen yang sangat besar.

Kondisi tersebut membuatnya merasa kesulitan memberikan perhatian yang cukup kepada dua anaknya.

Trump sendiri mengatakan Leavitt akan tetap memiliki peran di lingkarannya. Ia menyebut Leavitt akan menjadi salah satu penasihat eksternalnya setelah meninggalkan Gedung Putih.

Baca Juga: Daftar Tinggi Pemain Hyundai Hillstate, Benarkah Megawati Hangestri Paling Jangkung?

Dari Pembantu Pers hingga Juru Bicara Gedung Putih

Karier Leavitt bersama Trump sebenarnya sudah dimulai sejak periode pertama Trump di Gedung Putih.

Ia kemudian bergabung dengan kampanye Trump pada 2024 dan bertugas sebagai juru bicara selama masa transisi pemerintahan.

Trump akhirnya memilih Leavitt untuk menjadi juru bicara Gedung Putih ketika kembali menjabat pada Januari 2025.

Saat itu, usianya baru 27 tahun sehingga ia menjadi orang termuda yang pernah menduduki posisi tersebut.

Sebelumnya, rekor tersebut dipegang Ronald Ziegler, juru bicara Presiden Richard Nixon yang berusia 29 tahun ketika menjabat.

Gaya Komunikasi yang Tegas

Selama berada di podium Gedung Putih, Leavitt dikenal sebagai sosok yang tegas dalam membela kebijakan pemerintahan Trump.

Ia juga beberapa kali terlibat dalam perdebatan dengan wartawan ketika menjawab pertanyaan dalam konferensi pers.

Di balik kamera, Leavitt disebut bersikap lebih ramah kepada para wartawan. Namun, suasana berbeda terlihat ketika ia berada di depan kamera.

Salah satu contohnya terjadi pada Januari 2026 ketika seorang wartawan menanyakan kasus kematian Renee Good yang melibatkan seorang agen ICE.

Dalam kesempatan tersebut, Leavitt mengecam wartawan itu dan menyebutnya sebagai “leftwing hack” serta mempertanyakan kapasitasnya sebagai jurnalis.

Gaya komunikasinya tersebut membuat Leavitt menjadi salah satu wajah pemerintahan Trump yang cukup dikenal publik.

Baca Juga: Dana Nasabah Macet, Disperdagkop Madiun Datangi Kantor BMT MBS Syariah

Trump dan Pendukungnya Memuji Leavitt

Trump berulang kali memberikan pujian terhadap kemampuan komunikasi Leavitt.

Setelah pengumuman pengunduran dirinya, sejumlah pejabat dan sekutu Trump juga menyampaikan apresiasi atas kinerjanya.

Menteri Dalam Negeri Doug Burgum menggambarkan Leavitt sebagai suara yang berani dalam menyampaikan agenda Trump.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Howard Lutnick bahkan menyebutnya sebagai juru bicara paling sukses dalam sejarah.

Namun, penilaian dari kubu Demokrat berbeda. Senator California Adam Schiff menyindir keputusan tersebut dengan mengaitkannya dengan isu kebenaran dalam pernyataan pemerintah.

Perbedaan penilaian tersebut menggambarkan posisi Leavitt selama menjabat: bagi pendukung Trump, ia merupakan komunikator yang kuat dan loyal, sedangkan para pengkritiknya menilai sejumlah pernyataannya bermasalah.

Siapa yang Akan Menggantikan Leavitt?

Hingga pengumuman tersebut dibuat, Trump belum menyampaikan siapa yang akan menggantikan Leavitt sebagai juru bicara Gedung Putih.

Pada periode pertama pemerintahannya, Trump tercatat memiliki empat juru bicara Gedung Putih.

Mereka antara lain Sean Spicer, Sarah Huckabee Sanders, Stephanie Grisham, dan Kayleigh McEnany, yang kemudian menempuh jalur karier berbeda setelah meninggalkan posisi tersebut.

Dengan Leavitt dijadwalkan meninggalkan jabatan pada akhir Agustus, pemerintahan Trump kini perlu menentukan sosok baru yang akan menjadi wajah utama Gedung Putih di hadapan media. (*)

*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : The Guardian
Politik Amerika Serikat Karoline Leavitt amerika serikat gedung putih donald trump