Dari Hutan Terancam hingga Laut Tercemar, Perjuangan Rachel Ikemeh Menyelamatkan Niger Delta

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Kamis, 13 Agustus 2026 | 16:00 WIB
Aktivis konservasi asal Nigeria, Rachel Ikemeh, pendiri Proyek Hutan Wilayah Barat Daya/Delta Niger. (CNN)
Aktivis konservasi asal Nigeria, Rachel Ikemeh, pendiri Proyek Hutan Wilayah Barat Daya/Delta Niger. (CNN)

Jawa Pos Radar Madiun - Di tengah hutan rawa Niger Delta, Nigeria, hidup seekor monyet dengan bulu hitam, oranye, dan putih yang sempat berada di ambang kepunahan.

Niger Delta red colobus baru dikenal oleh dunia ilmiah pada 1993, tetapi dalam waktu kurang dari dua dekade, sekitar 90% populasinya telah menghilang.

Kini, upaya seorang konservasionis Nigeria bersama masyarakat setempat mulai memberikan harapan baru bagi satwa tersebut.

Monyet yang hanya ditemukan di Nigeria ini menghadapi berbagai ancaman, mulai dari perburuan hingga kerusakan habitat.

Penebangan pohon serta pembangunan jalan dan kanal untuk mendukung aktivitas ekstraksi minyak turut membuat wilayah tempat mereka hidup semakin terfragmentasi.

Ketika Rachel Ikemeh pertama kali mengunjungi kawasan tersebut pada 2013, ia menyadari bahwa tindakan cepat dibutuhkan.

Populasi Niger Delta red colobus telah menyusut dan bertahan di sejumlah kantong habitat yang tersebar di wilayah Niger Delta.

Dari Menganggap Warga sebagai Masalah hingga Mengajak Mereka Menjadi Solusi

Pada awalnya, Ikemeh tidak langsung melibatkan masyarakat sekitar dalam upaya konservasi.

Ia mengaku sebelumnya mendapat pandangan bahwa komunitas lokal merupakan pihak yang paling bertanggung jawab terhadap kerusakan alam.

“In my line of work, I was given the impression that communities were always to blame,” Ikemeh told CNN. “They’re the culprit, the problem to the natural environment. The ones hunting (animals) to extinction and the ones driving deforestation.”

Namun, kondisi yang ada membuat Ikemeh mengubah pendekatannya. Ia kemudian mendirikan South-West/Niger Delta Forest Project (SWNDFP) dan mulai bekerja bersama masyarakat Apoi Creek Forest.

Melalui program tersebut, warga mendapatkan pengetahuan mengenai konservasi, kebutuhan satwa, hingga pengumpulan data.

Pendekatan ini kemudian berkembang menjadi perlindungan langsung terhadap kawasan hutan.

Pada 2021, masyarakat Apoi berhasil membantu membentuk kawasan konservasi seluas sekitar 2.500 acre. Area tersebut dijaga dan dilindungi oleh komunitas lokal.

Hasilnya mulai terlihat. Ketika populasi Niger Delta red colobus sempat diperkirakan hanya sekitar 200 ekor, jumlahnya kini disebut telah meningkat hingga dua kali lipat.

Ikemeh juga mencatat keberadaan empat kelompok monyet yang berkembang biak dan merawat anak-anaknya.

“But today, as I speak to you, we have the records of four thriving groups, nursing and nurturing their babies. They’re repopulating where conservation areas were created, where habitat restoration is ongoing, and where the forest is now being restored.”

Baca Juga: AS Kembali Disorot: Tiga Terpidana Akan Dieksekusi di Hari yang Sama

Upaya Konservasi Meluas ke Hutan dan Laut

Keberhasilan di Apoi Creek Forest membuat cakupan SWNDFP semakin luas. Organisasi tersebut kini melindungi lebih dari 20.000 acre hutan serta sedikitnya 16 spesies yang terancam.

Menurut Ikemeh, memperluas wilayah konservasi menjadi penting agar populasi monyet tersebut memiliki peluang bertahan dalam jangka panjang.

“The only way these monkeys can have a long-term future is for us to scale to other surrounding areas,” Ikemeh explained.

Pada tahun ini, Ikemeh juga memperluas pekerjaannya ke wilayah pesisir dengan membentuk kawasan laut yang dikelola masyarakat di Foropa Middleton Kingdom. Kawasan tersebut berada di pesisir Atlantik dan merupakan bagian dari Niger Delta.

Wilayah pesisir itu sebelumnya menjadi habitat berbagai satwa laut seperti hiu, lumba-lumba, penyu, dan beragam jenis ikan.

Namun, pencemaran akibat tumpahan minyak, aktivitas penyulingan ilegal, sabotase, serta penambangan pasir hitam membuat kondisi ekosistem semakin tertekan.

Kerusakan lingkungan juga berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Berkurangnya sumber daya laut membuat sebagian warga beralih ke aktivitas seperti penebangan dan perburuan yang kemudian semakin memperburuk kondisi habitat.

Masyarakat Ikut Menjaga Lingkungan

Ikemeh kembali menggunakan pendekatan berbasis masyarakat. Nelayan lokal, mantan pembalak, hingga mantan pemburu dilibatkan dalam program konservasi dengan memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman mereka untuk menjaga lingkungan.

Masyarakat Foropa Middleton Kingdom ikut mengawasi kawasan yang dilindungi. Mereka mencegah aktivitas perburuan dan penangkapan ikan di wilayah konservasi, sekaligus mengarahkan aktivitas tersebut ke kawasan yang tidak dilindungi.

Mereka juga melarang penggunaan alat penangkapan yang merusak terumbu, termasuk dinamit, serta mengedukasi masyarakat mengenai bahaya penebangan mangrove.

Chef Josaih Uson, mantan ketua Chiefs’ Council of Foropa Middleton Kingdom, mengatakan:

“Future generations will enjoy this,” Uson said. “The areas are now more secure and this has created more employment.”

Keterlibatan masyarakat juga mencakup kegiatan kebersihan lingkungan. Mary Wallson Alamene, salah satu warga setempat, memimpin para perempuan untuk membersihkan kawasan darat dan perairan dari sampah.

“The women in my community are now cleaning up the land and the water side,” she said. “Bottles, bags, pampers (diapers) … if you don’t contaminate marine life, you won’t lose it.”

Baca Juga: Breaking News! India Mundur dari FIFA ASEAN Cup 2026, Ini Alasannya

Menjaga Alam Sekaligus Kehidupan Masyarakat

Program konservasi tersebut tidak hanya berfokus pada satwa. SWNDFP memperkirakan programnya telah mendukung mata pencaharian hampir 14.000 orang di kawasan tersebut. Sementara itu, sekitar 27.000 orang telah terlibat dalam kegiatan edukasi konservasi.

Bagi Ikemeh, perlindungan lingkungan tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Niger Delta.

Ia menilai kawasan tersebut selama ini terlalu sering dilihat hanya dari persoalan minyak, padahal wilayah itu memiliki kekayaan alam dan komunitas yang jauh lebih luas.

“All of the news about the Niger Delta is only about oil, but there’s so much more to this place than just oil,” Ikemeh said. “The land, the people: everybody has been victims of exploitation here.”

Ke depan, SWNDFP menargetkan lebih dari 1 juta acre wilayah di Niger Delta dapat berada di bawah pengawasan masyarakat.

Target tersebut masih sangat besar, tetapi bagi Ikemeh, menjaga lingkungan merupakan bagian penting untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi manusia sekaligus satwa liar.

“Conserving this landscape and the seascape should be number one (priority) because that’s what’s most important to ensure the peace and security that is required for people to thrive in this region,” she said.

“So until the environmental conservation of this region is addressed, every other thing will just be addressing the symptoms of what’s going on here.” (*)

*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : CNN
Niger Delta Red Colobus Lingkungan Nigeria satwa langka konservasi