Kabin Pesawat Kini Mirip Apartemen Mini, Mengapa Kursi Mewah Justru Sulit Dipakai?

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 20:00 WIB
United mengatakan pihaknya bekerja sama erat dengan inspektur keselamatan dan produsen untuk mendapatkan persetujuan bagi suite Polaris mereka kurang dari setahun setelah diluncurkan. (CNN)
United mengatakan pihaknya bekerja sama erat dengan inspektur keselamatan dan produsen untuk mendapatkan persetujuan bagi suite Polaris mereka kurang dari setahun setelah diluncurkan. (CNN)

Jawa Pos Radar Madiun - Bayangkan sudah membeli tiket kelas bisnis, menaiki pesawat baru, lalu melihat deretan kursi mewah lengkap dengan pintu privasi dan tempat tidur datar.

Namun, saat pesawat mengudara, kursi tersebut justru dibiarkan kosong karena belum mendapatkan izin untuk digunakan.

Situasi seperti itu berpotensi terjadi pada sejumlah maskapai, termasuk KLM yang akan mengoperasikan Airbus A350 pada rute Amsterdam-Toronto.

Sebanyak 34 suite kelas bisnis di pesawat tersebut menghadapi persoalan sertifikasi sehingga belum tentu dapat ditempati penumpang ketika penerbangan dimulai.

Masalah ini bukan disebabkan minimnya peminat terhadap kursi premium. Justru sebaliknya, permintaan terhadap pengalaman terbang yang lebih privat dan nyaman terus meningkat.

Persoalannya terletak pada desain kabin yang semakin kompleks serta proses pengujian keselamatan yang membutuhkan waktu panjang.

Kursi Pesawat Berubah Menjadi “Apartemen Mini”

Perkembangan kursi premium pesawat mengalami perubahan besar dalam beberapa dekade terakhir.

Jika dahulu kelas bisnis hanya menawarkan kursi yang lebih luas dan nyaman, kini penumpang bisa mendapatkan tempat tidur datar, pintu privasi, layar hiburan berukuran besar hingga berbagai fitur pengaturan kenyamanan.

British Airways memperkenalkan kursi yang dapat berubah menjadi tempat tidur datar pada 2000.

Sejak saat itu, persaingan antarmaskapai mendorong desain kabin menjadi semakin kompleks.

Lufthansa, misalnya, menghadirkan suite dengan fitur pemanas dan pendingin kursi serta pengaturan suhu pribadi.

Namun, semakin banyak fitur yang ditambahkan, semakin rumit pula proses untuk memastikan kursi tersebut memenuhi standar keselamatan penerbangan.

Baca Juga: Tiga BUMD Kota Madiun Kompak Jalan Sehat, Perkuat Sinergi di Momentum HUT ke-81 RI

Sertifikasi Kursi Premium Bisa Memakan Waktu Bertahun-tahun

Sebelum kursi baru digunakan dalam penerbangan komersial, desainnya harus melalui serangkaian pengujian dan mendapatkan persetujuan regulator.

Menurut sumber tersebut, proses sertifikasi kursi premium kini membutuhkan setidaknya enam bulan lebih lama dibandingkan sebelum pandemi Covid-19. Sebelumnya, waktu yang dibutuhkan rata-rata berkisar satu hingga dua tahun.

Ben Minicucci, CEO Alaska Airlines, menggambarkan panjangnya proses tersebut:

“By the time you imagine it, design it, test it, get it certified, get it built — it is a lengthy three-year process.”

Masalah semakin rumit karena maskapai cenderung mengembangkan desain khusus daripada menggunakan model yang sudah terstandarisasi.

Langkah tersebut memang membantu maskapai membedakan produknya dari kompetitor, tetapi membuat produsen kursi harus menghadapi lebih banyak variasi desain dan kebutuhan pengujian.

Pintu Privasi Ikut Menambah Tantangan

Salah satu tren terbesar dalam kelas bisnis modern adalah meningkatnya privasi. Kursi kini dilengkapi dinding dan pintu yang membuat penumpang merasa seperti memiliki ruang pribadi.

Andrew Nocella, chief commercial officer United Airlines, mengatakan:

“The evolution of the cabins has made [certification] very complicated.”

Dinding yang semakin tinggi dan pintu yang lebih besar harus diperiksa dari sisi keselamatan.

Selain itu, berbagai material dan perangkat elektronik yang digunakan di dalam suite juga harus memenuhi persyaratan terkait benturan, tingkat mudah terbakar, serta perlindungan penumpang ketika terjadi kecelakaan.

Baca Juga: 15 Tahun Pit Lempit Madiun, Berawal 10 Orang Kini Punya 200 Anggota

KLM Jadi Contoh Masalah Kursi Mewah

KLM menjadi salah satu contoh bagaimana persoalan sertifikasi dapat menghambat penggunaan kabin premium.

Maskapai Belanda tersebut sebenarnya berusaha menghindari risiko dengan memilih model kursi yang sudah digunakan pada maskapai saudaranya, Air France.

Namun, suite bisnis pada Airbus A350 baru KLM tetap belum dapat digunakan karena masih menunggu persetujuan regulator penerbangan Eropa, EASA.

Artinya, penggunaan desain yang sudah tersedia pun belum otomatis membuat proses sertifikasi menjadi cepat.

Permintaan Penumpang Justru Bisa Membuat Masalah Makin Panjang

Industri penerbangan sebenarnya sedang berusaha mengatasi hambatan tersebut.

Maskapai, produsen pesawat, pembuat kursi dan regulator sama-sama berupaya mempercepat proses persetujuan.

Namun, pertumbuhan permintaan perjalanan udara membuat tekanan terhadap industri semakin besar.

Mark Hiller dari Recaro memperingatkan bahwa kapasitas tambahan dalam proses sertifikasi bisa saja kembali terserap oleh meningkatnya permintaan pasar.

Kondisi ini menciptakan paradoks: maskapai ingin menawarkan kursi yang semakin mewah untuk menarik penumpang, tetapi semakin canggih desainnya, semakin panjang pula jalan yang harus ditempuh sebelum kursi tersebut benar-benar boleh digunakan.

Meski begitu, industri penerbangan tampaknya tidak berniat menghentikan tren tersebut.

Boeing Commercial Airplanes CEO Stephanie Pope bahkan menyebut kabin dengan interior kompleks sebagai arah masa depan industri.

Dengan demikian, penumpang mungkin akan terus melihat kelas bisnis yang semakin menyerupai ruang pribadi di udara.

Hanya saja, sebelum menikmati kemewahan tersebut, maskapai harus memastikan bahwa setiap pintu, dinding, layar, kursi, dan fitur tambahan telah melewati standar keselamatan yang ditetapkan. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : CNN
Kelas Bisnis Industri Penerbangan maskapai penerbangan pesawat