11 Orang Tewas dalam Serangan Israel di Lebanon, Apa yang Terjadi di Balik Eskalasi?

Tim Content Writer Radar Madiun • Dipublikasikan Minggu, 16 Agustus 2026 | 21:00 WIB
Warga dan petugas penyelamat berkumpul di sebuah rumah di Deir al-Zahrani di Lebanon selatan pada 15 Agustus 2026, setelah rumah tersebut hancur akibat serangan udara Israel. (Al Jazeera)
Warga dan petugas penyelamat berkumpul di sebuah rumah di Deir al-Zahrani di Lebanon selatan pada 15 Agustus 2026, setelah rumah tersebut hancur akibat serangan udara Israel. (Al Jazeera)

Jawa Pos Radar Madiun - Suasana di Lebanon Selatan kembali berubah mencekam setelah serangkaian serangan Israel menewaskan sedikitnya 11 orang pada Sabtu (15/8/2026).

Serangan tersebut terjadi ketika kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat masih menjadi dasar pembicaraan antara Lebanon dan Israel.

Korban dilaporkan berjatuhan di wilayah Nabatieh. Sejumlah anak termasuk dalam korban tewas setelah serangan udara menghantam sebuah rumah di sekitar Desa Ansar dan kawasan Deir al-Zahrani.

Serangan juga menyebabkan sejumlah orang terluka dan memicu kepanikan warga yang masih dihantui ancaman serangan lanjutan.

Eskalasi ini menjadi salah satu serangan paling mematikan sejak gencatan senjata terbaru diperpanjang pada Juni melalui kesepakatan yang dimediasi pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Serangan Terjadi di Sejumlah Wilayah

Serangan Israel tidak hanya terjadi di satu lokasi. Selain menghantam rumah di Ansar dan Deir al-Zahrani, militer Israel juga melakukan serangan udara di kawasan punggung bukit Ali al-Taher, dekat Kastel Beaufort yang masuk daftar situs bersejarah UNESCO.

Rekaman yang diverifikasi Al Jazeera memperlihatkan kepulan asap dan kobaran api muncul dari kawasan antara perbukitan Ali al-Taher dan wilayah Dabsha setelah sejumlah ledakan terdengar.

Aktivitas militer Israel di kawasan tersebut memang meningkat dalam beberapa hari dan pekan terakhir. Israel menyebut wilayah itu memiliki nilai strategis dan menjadi lokasi infrastruktur Hezbollah.

Ledakan serta serangan artileri juga dilaporkan terjadi di beberapa wilayah lain, termasuk Bint Jbeil, Taybeh, Sarbin, Barashit, al-Mansouri, dan Wadi Zibqin.

Baca Juga: Mengenal Madiun Last Friday Ride, Gowes Jumat Akhir Bulan yang Suarakan Hak Pesepeda

Israel Sebut Serangan Balasan

Militer Israel menyatakan serangan tersebut dilakukan sebagai respons terhadap tindakan yang disebutnya dilakukan Hezbollah terhadap tentara Israel di kawasan Ali al-Taher Ridge.

Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menyebut militer Israel menyerang markas Hezbollah yang dianggap bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Dalam pernyataannya, Israel mengatakan bahwa mereka baru mengetahui kemudian bahwa warga sipil berada di lokasi yang disebut sebagai fasilitas militer tersebut.

Israel juga mengatakan dua komandan Hezbollah, Abu Hassan Alaa dan Ali Samir al-Haj Hassan, tewas dalam serangan tersebut. Hezbollah belum memberikan tanggapan terhadap klaim tersebut.

Gencatan Senjata yang Belum Menghentikan Konflik

Kesepakatan gencatan senjata antara Lebanon dan Israel sebenarnya sudah beberapa kali dibuat.

Kesepakatan pada 4 Juni menuntut penghentian serangan Hezbollah serta pengosongan wilayah oleh para pejuangnya.

Sementara kerangka kesepakatan 26 Juni lebih menitikberatkan pada pelucutan senjata Hezbollah dan tidak secara khusus menetapkan penarikan pasukan Israel sebagai bagian langsung dari ketentuan tersebut.

Namun, kesepakatan tersebut belum mampu menghentikan serangan maupun persoalan mengenai keberadaan pasukan Israel di wilayah Lebanon.

Israel masih menguasai hampir seperlima wilayah Lebanon. Berdasarkan kerangka kesepakatan 26 Juni, Israel seharusnya menarik diri dari sebagian besar wilayah yang masih didudukinya setelah Hezbollah dilucuti dan tentara Lebanon mengambil alih keamanan di dekat perbatasan. Hingga kini, proses tersebut belum terlaksana.

Pembicaraan antara kedua negara pun masih berlangsung. Putaran ketujuh negosiasi telah digelar pada awal Agustus, sementara pemerintah Lebanon berencana melanjutkan pembicaraan pada bulan berikutnya.

Baca Juga: Tiga BUMD Kota Madiun Kompak Jalan Sehat, Perkuat Sinergi di Momentum HUT ke-81 RI

Lebanon Kecam Serangan Israel

Pemerintah Lebanon mengecam keras serangan terbaru tersebut. Presiden Joseph Aoun menilai serangan di Nabatieh dan wilayah sekitarnya sebagai pelanggaran berulang terhadap kesepakatan gencatan senjata.

Aoun menyebut serangan itu sebagai “a clear message to the negotiation track”, sekaligus menilai Israel berulang kali melanggar aturan internasional yang memberikan perlindungan terhadap warga sipil.

Perdana Menteri Nawaf Salam juga mendesak Israel menghentikan eskalasi. Sementara itu, Ketua Parlemen Lebanon Nabih Berri menyebut serangan tersebut sebagai “massacre” dan bagian dari “war aimed at extermination” di Lebanon Selatan.

Perbedaan Kepentingan di Meja Perundingan

Persoalan utama dalam negosiasi saat ini terletak pada tuntutan yang saling bertentangan.

Israel menginginkan Hezbollah dilucuti sebelum penarikan pasukan dilakukan, sedangkan Hezbollah menolak melucuti senjata sebelum Israel meninggalkan wilayah Lebanon yang masih didudukinya.

Randa Slim dari Stimson Center menggambarkan situasi tersebut sebagai posisi yang sulit bagi Lebanon.

Menurutnya, Lebanon telah terikat dalam proses negosiasi dan biaya untuk meninggalkan perundingan akan lebih besar bagi Lebanon dibandingkan Israel.

Baca Juga: Pertamina Diskon Pertamax Rp 450 per Liter 17–18 Agustus, Cek Syarat dan Kuota yang Berlaku

Eskalasi Berlangsung Menjelang Pembicaraan Baru

Serangan terbaru terjadi ketika proses diplomasi justru sedang berjalan. Doron Spielman, juru bicara Netanyahu, mengatakan serangan tersebut seharusnya dapat “jump-start” pembicaraan, bukan menghentikannya.

Israel menyatakan tetap mendukung kesepakatan dan berharap tentara Lebanon dapat mengambil peran dalam menyingkirkan Hezbollah dari wilayah tersebut.

Di sisi lain, seorang akademisi yang dikutip Al Jazeera menilai eskalasi tersebut menunjukkan bahwa gencatan senjata belum benar-benar mampu menghentikan kekerasan.

Perbedaan tuntutan antara Israel, Lebanon, dan Hezbollah membuat masa depan kesepakatan masih penuh ketidakpastian.

Dengan korban yang terus berjatuhan dan wilayah Lebanon Selatan yang masih menjadi titik konflik, pembicaraan mendatang akan menjadi ujian penting bagi upaya mempertahankan gencatan senjata dan mencegah konflik kembali meluas. (*)
*Herlinda Nur Fauziya, Universitas Negeri Surabaya

Editor : Tim Content Writer Radar Madiun
Sumber : Al Jazeera
Hezbollah lebanon gencatan senjata konflik timur tengah israel