40 Ribu Pekerja Hyundai Mogok, Khawatir Digantikan Robot dan AI

Mizan Ahsani • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 08:56 WIB
Ilustrasi industri manufaktur mobil. (AUTOMACHA)
Ilustrasi industri manufaktur mobil. (AUTOMACHA)

Jawa Pos Radar Madiun – Gelombang otomatisasi mulai memantik kekhawatiran serius di industri otomotif Korea Selatan. Sekitar 40 ribu pekerja Hyundai diperkirakan meninggalkan lini produksi dalam aksi mogok sehari yang turut menyoroti ancaman robot dan kecerdasan artifisial (AI) terhadap masa depan pekerjaan mereka.

Aksi tersebut menjadi mogok pekerja Hyundai secara penuh pertama dalam satu dekade. Karyawan Kia dan pekerja sejumlah perusahaan pemasok juga bergabung menyuarakan tuntutan serupa terkait upah dan kepastian kerja.

Dilansir Carscoops, Sabtu (21/8), sebagian peserta bergerak menuju kantor pusat Hyundai untuk menggelar aksi di luar gedung. Korean Metal Workers’ Union menyebut mogok bersama melibatkan pekerja dari sekitar 50 lokasi.

Salah satu tuntutan mereka adalah menaikkan batas usia pensiun wajib yang saat ini berada pada usia 60 tahun. Pekerja juga meminta bonus lebih besar dan, yang semakin krusial, perlindungan pekerjaan menghadapi otomatisasi dan AI di industri otomotif.

“Mogok ini untuk melindungi akar industri otomotif Korea dan menegakkan martabat tenaga kerja," ujar Ketua Korean Metal Workers’ Union Park Sang-man.

Baca Juga: Reuni Eks Napi di Magetan Berujung Pesta Sabu, 11 Orang Diamankan

Robot Atlas Masuk Pabrik Hyundai Mulai 2028

Kekhawatiran tersebut bukan tanpa latar belakang. Hyundai Motor Group tengah mempersiapkan penggunaan robot Atlas Boston Dynamics dalam operasional pabriknya mulai 2028.

Robot humanoid Atlas pada tahap awal diproyeksikan menjalankan pekerjaan pengurutan komponen di Hyundai Motor Group Metaplant America.

Namun, kemampuan robot tersebut diperkirakan terus berkembang. Pada 2030, Atlas diproyeksikan sudah dapat menangani pekerjaan yang lebih kompleks, termasuk perakitan komponen.

Perkembangan itu memunculkan kekhawatiran di kalangan pekerja bahwa otomatisasi secara bertahap dapat mengambil alih sebagian pekerjaan manusia demi meningkatkan produktivitas sekaligus menekan biaya produksi.

Karena itu, tuntutan kali ini bukan semata persoalan kenaikan pendapatan. Robot Atlas Boston Dynamics dan perkembangan AI turut membawa isu kepastian kerja ke meja perundingan antara pekerja dan perusahaan.

Baca Juga: Buron 11 Bulan, Pencuri Toko Kelontong di Ngawi Dibekuk

Produksi 55.200 Kendaraan Disebut Terdampak

Aksi sehari tersebut menjadi kelanjutan serangkaian gangguan ketenagakerjaan yang berlangsung sejak Juli. Sebelumnya, sejumlah aksi mogok parsial telah dilakukan pekerja.

Dampaknya terhadap produksi pun tidak kecil. Rangkaian aksi tersebut dilaporkan telah memengaruhi produksi sekitar 55.200 kendaraan dengan nilai lebih dari USD 1,67 miliar atau sekitar Rp 29,47 triliun.

Kini mogok pekerja Hyundai membawa persoalan yang lebih besar daripada sekadar negosiasi upah. Pekerja menginginkan jaminan bahwa transformasi menuju pabrik yang semakin otomatis tidak membuat manusia tersingkir dari lini produksi.

Persoalan tersebut berpotensi menjadi tantangan bagi industri otomotif dalam beberapa tahun mendatang. Sebab, ketika teknologi robot humanoid dan AI semakin matang, perusahaan akan menghadapi kebutuhan meningkatkan efisiensi sekaligus menjaga keberlanjutan pekerjaan manusia.

Bagi Hyundai dan Kia, keseimbangan antara dua kepentingan tersebut kini sedang diuji langsung dari lantai produksi. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
industri mobil hyundai mogok kerja mobil listrik robot