Sejarah Baru! OpenAI Pecahkan Misteri Matematika Berusia 90 Tahun, Butuh Waktu 88 Jam

Mizan Ahsani • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 13:58 WIB
Ilustrasi OpenAI ChatGPT.
Ilustrasi OpenAI ChatGPT.

Jawa Pos Radar Madiun - Raksasa kecerdasan artifisial, OpenAI, kembali mengguncang dunia sains global lewat sebuah terobosan komputasi yang mencengangkan.

Sistem kecerdasan buatan (AI) internal mereka diklaim sukses memecahkan salah satu persoalan matematika paling rumit di dunia hanya dalam waktu 88 jam.

Teka-teki rumit berusia 90 tahun bernama Navier-Stokes tersebut selama ini menjadi rintangan terbesar bagi para ilmuwan dan akademisi lintas generasi.

Masalah ini bahkan bertengger kokoh dalam daftar prestisius Millenium Prize Problems yang dirilis oleh Institut Matematika Clay untuk merinci tujuh persoalan paling sulit dalam sejarah peradaban.

Kekuatan Masif 10 Ribu Agen AI Canggih

Berdasarkan laporan The Guardian pada Selasa (8/9) waktu setempat, pemecahan misteri sains ini sama sekali tidak menggunakan model bahasa sembarangan.

OpenAI menggunakan sistem AI internal super rahasia yang kemampuannya diklaim jauh lebih superior ketimbang model teranyar mereka saat ini, GPT-6 Astra.

Perusahaan teknologi tersebut mengerahkan pasukan virtual berupa 10.000 agen AI secara bersamaan untuk membedah deretan masalah angka bersejarah itu.

Hasilnya sangat fantastis, puluhan ribu agen mesin cerdas itu mampu mencapai solusi final secara akurat hanya dalam kurun waktu kurang dari empat hari.

Para peneliti di OpenAI menegaskan bahwa pencapaian luar biasa ini sejalan dengan visi besar perusahaan untuk membangun peradaban digital yang lebih baik.

"Salah satu tujuan utama pekerjaan kami adalah memberdayakan para ilmuwan untuk memajukan penelitian dan teknologi yang bermanfaat bagi seluruh umat manusia," demikian pernyataan para peneliti OpenAI dalam blog mereka.

Mereka juga menginginkan agar publik bersiap menghadapi era baru teknologi kecerdasan buatan yang akan merombak cara manusia bekerja.

Pernyataan itu berlanjut dengan, "Kami percaya penting untuk memberi tahu dunia tentang laju kemajuan AI dan apa yang dapat diharapkan dari model-model yang akan datang."

Baca Juga: El Clasico Persija vs Persib di SUGBK Akhir Pekan Ini, Igor Tolic Siapkan Kejutan Khusus

Kontroversi Tudingan Pencurian Data Riset

Sayangnya, euforia gemilang atas pemecahan masalah bersejarah ini langsung dibayangi oleh isu miring dan kontroversi di kalangan akademisi murni.

Matematikawan ternama asal Universitas New York, Tristan Buckmaster, menaruh curiga atas waktu pengumuman OpenAI yang terkesan sangat terburu-buru.

Ia sangat meyakini OpenAI sengaja mempercepat publikasi riset mereka usai mengetahui bahwa Anthropic, rival utamanya, juga akan mengumumkan terobosan serupa.

Kecurigaan ini semakin menguat karena Buckmaster sebelumnya diketahui menggunakan model pemrograman Codex milik OpenAI untuk menyimpan serta mengerjakan riset tersebut.

Kondisi ini memicu kekhawatiran besar bahwa OpenAI secara diam-diam telah mengintip atau memanfaatkan kerangka kerja milik sang profesor.

Meski dilanda kecurigaan tingkat tinggi, Buckmaster tetap mencoba berhati-hati dalam memberikan pernyataan tertulis ke publik agar tidak memicu polemik hukum.

Dalam dokumen yang diunggah di situs web-nya, Buckmaster menambahkan, "Saya tidak tahu apa yang dilakukan model mereka, atau bagaimana caranya. Saya tidak tahu apakah data kami digunakan. Saya tidak menuduh siapa pun melakukan apa pun."

Menanggapi bola liar tersebut, Peneliti OpenAI Sebastien Bubeck langsung angkat bicara dalam sebuah sesi konferensi pers terpisah.

Ia membantah keras tuduhan bahwa timnya telah meretas atau mengakses materi pribadi para akademisi yang tersimpan di dalam server OpenAI.

Menurut Bubeck, perusahaan murni terdorong untuk memecahkan teka-teki itu setelah mendengar desas-desus bahwa dua dari tujuh soal Millenium Prize Problems sudah mulai menemukan titik terang.

Kendati demikian, ia sama sekali tidak menampik kemungkinan bahwa riwayat interaksi data para pengguna produk OpenAI "membantu meningkatkan model kami."

Menjawab Kegagalan Persamaan Navier-Stokes

Terlepas dari pusaran konflik tersebut, langkah inovatif OpenAI ini telah sukses membuktikan betapa masifnya dampak AI tingkat lanjut terhadap penyelesaian kebuntuan ilmu matematika.

Bubeck dengan penuh rasa bangga menyebut temuan solusi ini sebagai "puncak spektakuler dari perkembangan yang telah kita saksikan selama 12 bulan terakhir."

Secara teknis sederhana, masalah Navier-Stokes mempertanyakan apakah persamaan matematis yang mendeskripsikan pergerakan fluida seperti udara dan air bisa mengalami kegagalan pada kondisi tertentu.

Hasil komputasi super dari OpenAI dengan mantap menjawab bahwa persamaan tersebut memang terbukti bisa gagal atau tidak berlaku mutlak.

Kesimpulan akhir dari uji masalah tersebut membuktikan bahwa hitungan Navier-Stokes kadang-kadang dapat "meledak" saat kecepatan fluida mencapai titik tak terhingga.

Guna memastikan keabsahan solusi rumit ini, para peneliti melakukan verifikasi akhir pada komputer GPT-6 Astra milik OpenAI.

Model bahasa raksasa itu diketahui membutuhkan waktu pengerjaan sekitar 17 jam nonstop untuk memverifikasi kebenaran solusi tersebut.

Pencapaian bersejarah ini bukan sekadar tentang prestise atau ajang pembuktian kecerdasan mesin belaka di mata publik internasional.

Para matematikawan atau entitas yang berhasil memecahkan salah satu dari Millenium Prize Problem dipastikan berhak mendapatkan hadiah fantastis senilai 1 juta dolar AS (sekitar Rp17 miliar) dari Institut Matematika Clay. (naz)

Editor : Mizan Ahsani
GPT-6 Astra Berita Teknologi AI Millenium Prize Problems Navier-Stokes soal matematika