PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Bagi sebagian warga Ponorogo tentu tak asing dengan rokok klobot Djanoko.
Maklum saja, perusahaan rokok tradisional itu berada di Kelurahan Mangkujayan, Ponorogo. Produksinya pernah mengalami masa keemasan di era tahun 1971-1979.
Pimpinan produksi rokok klobot Djanoko, Domo Muriyadi mengungkapkan pabrik atau perusahaan rokok Djanoko sudah mulai berproduksi sejak tahun 1968 lalu.
Domo terkenang perjuangannya bersama sejumlah rekan-rekannya mengembangkan rokok klobot.
Pada saat itu, setidaknya ada sekitar 60 perusahaan rokok klobot tumbuh subur di Ponorogo.
Bermodal produksi rumahan, Domo dan beberapa rekannya mulai memasarkan rokok buatannya dari toko ke toko.
"Saat itu kami titipkan juga ke pedagang, tukang becak, kusir dokar untuk perkenalan,’’ kenangnya.
Lambat laun, rokok Djanoko mulai dikenal, dan mencapai puncak kejayaannya pada tahun 1971-1979 silam.
Kala itu, pabrik rokok kretek asli Ponorogo itu mampu menghidupi 600 karyawan dengan kemampuan produksi ratusan ribu per harinya.
Domo juga bercerita jik produksi awalnya dilakukan di bangunan kontrakan, naik kelas ke bangunan yang lebih ideal.
Itu setelah perusahaan membeli gedung di Kelurahan Mangkujayan, Ponorogo, pada tahun 1982 silam.
Tak hanya itu, saat masa kejayaan rokok kretek lokal tersebut, pihak perusahaan memberikan perhatian lebih pada anak-anak putus sekolah.
"Mereka kami tampung, kami didik dan ajari sampai sekarang ada yang masih menjadi karyawan,’’ ujarnya.
Namun sayang, kondisinya kini berbeda. Ibarat peribahasa hidup segan mati tak mau, perusahaan rokok Djanoko mencoba bertahan di tengah persaingan dengan kompetitornya yang lebih modern.
"Sekarang produksi kami batasi karena over stok dan pembelinya berkurang,’’ kata Domo.
Pun, kini jumlah karyawan Djanoko hanya tersisa 50 orang yang didominasi ibu-ibu lanjut usia.
Jam kerja dipangkas jadi empat hari (Senin-Kamis) mulai produksi jam 07.00-13.00 WIB. Hasil produksi selama empat hari itu tak habis terjual dalam sebulan.
Padahal rokoknya dibanderol murah, Rp 3.000 isi 10 batang, serta Rp 4.500 kemasan 16 batang per bungkus.
"Untung (laba) kami ambil seminim mungkin, yang penting pabrik masih bisa berjalan dan karyawan bisa makan,’’ ucapnya lirih.
Pun, kendala yang dihadapi itu terasa semakin berat dengan maraknya rokok ilegal yang beredar di pasaran.
Itu diakui oleh Domo. Peredaran rokok tanpa pita cukai tersebut menjadi salah satu faktor merosotnya permintaan rokok klobot.
Padahal, perusahaannya turut menggerakkan roda ekonomi petani lokal. Klobot berbahan kulit jagung yang dikeringkan dipasok petani Ponorogo.
"Yang katanya gempur rokok ilegal tapi kenyataannya masih banyak yang masuk. Kami tidak ingin menggebu-gebu, mengikuti arus waktu saja,’’ ungkapnya.
Dilansir dari berbagai sumber, rokok klobot merupakan rokok kretek tradisional yang berasal dari Ponorogo, Jawa Timur.
Tembakau yang dibungkus klobot itu beraroma harum dan khas. Konon, penikmat rokok ini adalah para warok dan seniman Reog Ponorogo.
Tak heran jika ketika itu rokok Klobot Djanoko juga lazim disebut rokok warok atau rokok reog.
Karena banyaknya permintaan dari para warok dan seniman reog, maka beberapa pengusaha membuat pabrik rokok yang khusus memproduksi rokok klobot.
Salah satunya adalah pabrik rokok klobot dengan memasang gambar wayang Janoko yang diproduksi oleh PT. Djanoko Ponorogo. (gen/kid/sib)
Editor : Budhi Prasetya