Jawa Pos Radar Madiun – Proses produksi hingga pemasaran UMKM Keripik Sido Makmur di Desa Banjarejo, Kecamatan Donomulyo, Kabupaten Malang, mendapat sentuhan teknologi.
Politeknik Negeri Madiun (PNM) menerapkan mesin peniris keripik otomatis sekaligus memberikan pendampingan branding, pengemasan, dan pemasaran digital.
Teknologi tersebut dirancang untuk mengatasi proses penirisan minyak yang sebelumnya masih dilakukan secara manual. Kondisi itu dinilai berpengaruh terhadap kandungan minyak, kerenyahan, umur simpan, hingga konsistensi kualitas keripik.
Ketua Pelaksana Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) PNM Deni Nur Fauzi mengatakan, perbaikan proses penirisan menjadi salah satu fokus program karena berkaitan langsung dengan mutu produk.
“Permasalahan utama yang kami temukan adalah proses penirisan yang masih dilakukan secara manual. Kondisi tersebut berpengaruh terhadap kandungan minyak, kerenyahan, umur simpan, dan konsistensi mutu produk,” jelas Deni.
UMKM Keripik Sido Makmur selama ini memproduksi keripik berbahan singkong, pisang, dan talas. Usaha tersebut telah mengantongi Nomor Induk Berusaha (NIB) dan sertifikat halal serta melibatkan sekitar 32 tenaga kerja lokal.
Baca Juga: Bantu UMKM Naik Kelas, PNM Kenalkan Teknologi Roasting Kopi Otomatis untuk Dongkrak Nilai Jual
Mesin Mampu Tampung 20 Kilogram per Proses
Untuk meningkatkan efisiensi produksi, tim Politeknik Negeri Madiun menerapkan mesin peniris dengan sistem sentrifugal berkapasitas hingga 20 kilogram per batch.
Mesin digerakkan motor satu silinder berdaya 6,5 HP dengan bahan bakar LPG. Teknologi tersebut juga dilengkapi sistem kontrol berbasis ESP32 untuk mengatur waktu dan kecepatan putaran.
Sementara bagian tabung dan keranjang spinner menggunakan stainless steel SS 304 food grade.
Pemanfaatan LPG bukan tanpa alasan. Teknologi tersebut disesuaikan dengan kondisi lingkungan produksi mitra yang memiliki keterbatasan daya listrik.
“Teknologi ini dirancang agar dapat digunakan sesuai kondisi lingkungan produksi mitra. Selain meningkatkan proses penirisan, sistem kontrol memungkinkan proses dilakukan secara lebih konsisten dan terukur,” ujarnya.
Penerapan mesin peniris keripik juga dibarengi pelatihan pengoperasian dan perawatan. Langkah tersebut diperlukan agar pelaku usaha nantinya mampu menjalankan serta merawat teknologi secara mandiri.
Baca Juga: PNM Hilirisasi Mesin Pencacah Rumput Berbahan Bakar Gas, Pangkas Waktu Kerja Peternak di Sarangan
Dari Penjualan Los Menuju Produk Bermerek
Persoalan yang dihadapi mitra tidak hanya berada di lini produksi. Tim PkM menemukan sebagian besar produk masih dipasarkan dalam jumlah besar atau los melalui distributor.
Pengembangan identitas merek, kemasan ritel, hingga pemasaran digital juga dinilai belum optimal. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi UMKM untuk meningkatkan nilai jual sekaligus memperluas pasar.
Karena itu, pendampingan diarahkan pada pengembangan identitas merek, desain kemasan dan produk ritel hingga pemanfaatan media sosial serta marketplace.
Strategi tersebut diharapkan secara bertahap menggeser pola pemasaran dari penjualan partai besar menuju produk kemasan bermerek yang dapat menjangkau konsumen lebih luas.
Program melibatkan tim multidisiplin yang menangani aspek mekanik, elektrik dan sistem kontrol, teknologi pangan, serta pemasaran.
Mahasiswa juga dilibatkan dalam pendampingan operasional mesin, dokumentasi, pembuatan konten pemasaran digital, hingga pengumpulan dan analisis data.
Baca Juga: Dongkrak Mutu Kopi Magetan, PNM Hilirisasi Mesin Pengering Kopi Surya dan Gas untuk BUMDes Karya Bak
Bidik Mutu Produk hingga Omzet
Melalui program tersebut, PNM menargetkan peningkatan kualitas dan efisiensi produksi, nilai jual, jangkauan pemasaran, serta kapasitas sumber daya manusia UMKM Malang tersebut.
Dampaknya akan dievaluasi menggunakan sejumlah indikator. Di antaranya perubahan kadar minyak pada keripik, umur simpan, nilai jual, omzet penjualan, serta kemampuan mitra mengoperasikan dan merawat mesin secara mandiri.
“Harapannya, teknologi yang diterapkan tidak hanya digunakan selama program berlangsung, tetapi dapat dikelola dan dirawat secara mandiri oleh mitra. Dengan demikian, peningkatan kualitas produksi dan pemasaran dapat terus berkembang setelah program selesai,” katanya.
Program tersebut merupakan Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026 dalam Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat dengan Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat pada bidang fokus pangan.
Kegiatan didanai Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Tahun Pendanaan 2026. (*)
Editor : Mizan Ahsani