Gedung yang dipilih pun tidak cukup dari gedung sekolah. Bahkan, ada sekolah yang menyewa hotel untuk merayakan kelulusan para siswa. Hadir sejak pagi dengan polesan make up dan pakaian serba rapi. Orang tua atau wali murid pun berupaya semaksimal mungkin memenuhi kebutuhan wisuda kelulusan tersebut. Senang bercampur sedih lantaran biaya yang dikeluarkan tak sedikit.
Di Surabaya, salah seorang wali murid yang menyekolahkan anaknya di salah satu SD mengaku keberatan dengan acara wisuda anaknya. Dia ditarik uang sejumlah Rp 600 ribu oleh sekolah. Sementara itu, dia bekerja sebagai penjual makanan di warung pinggir jalan.
”Ya mau tidak mau, saya cari pinjaman ke tetangga. Bahkan, ada yang sampai gadaikan KTP ke bank atau pinjaman harian. Utang Rp 1 juta, dapat Rp 800 ribu, balik ke orangnya Rp 1,3 juta,” ujar wali murid yang enggan disebutkan namanya itu seperti dilansir dari JawaPos.com.
Dia sudah berusaha untuk menyampaikan kondisi finansialnya ke sekolah. Dia menyadari jika dihadapkan dengan dua kondisi, keuangan yang minim dan ingin melihat anaknya bahagia. ”Mau tidak mau saya ingin lihat anak senang, sekolah bilang nggak wajib tapi teman-temannya wisuda semua. Anak saya bagaimana, kasihan,” imbuh dia.
Hingga tulisan ini selesai dibuat, Kepala Dinas Pendidikan Surabaya Yusuf Masruh belum memberikan respons kepada JawaPos.com.
Anggota Komisi B DPRD Surabaya Zuhrotul Mar’ah berharap kepala dinas pendidikan segera memberikan jawaban yang tepat dan bijaksana melihat kondisi hal tersebut. Politikus PAN itu mengaku tak sedikit mendapatkan keluhan mengenai biaya wisuda yang hingga ratusan ribu.
”Saya memang di komisi yang tidak mengurusi pendidikan. Tapi, mendengarkan keluhan masyarakat adalah tugas semua anggota dewan DPRD, tidak mengenal komisi. Pak Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi pasti saya yakin juga akan melakukan hal yang terbaik untuk masyarakatnya, karena selama ini beliau mampu memperbaiki kondisi sosial ekonomi Surabaya,” papar Zuhrotul. (jawapos.com/sib) Editor : Hengky Ristanto