Warsito bersama sejumlah petani porang desa setempat dipercaya mengelola pembibitan porang. Pembibitan tersebut merupakan bantuan dari pemerintah pusat sejak 2020. Kala itu, Kabupaten Madiun mendapatkan bantuan pembibitan seluas 10 hektare. ‘’Dulu, harga bibit mencapai Rp 180 ribu per kilogram,’’ ungkap Warsito.
Berlipat-lipat penurunan harga porang rentang tiga tahun terakhir. Kondisi tersebut membuat Warsito serta petani lain memeras otak keras-keras agar budi daya porang tetap berjalan dan dapur terus ngebul. ‘’Karena kondisi harga seperti ini, katak akan dibagi-bagi ke teman-teman kelompok daripada dijual,’’ ujarnya.
Warsito mengklaim bahwa langkah tersebut tak melenceng dari ketentuan pengelolaan. Namun, kelompoknya sepakat tidak menjual. Mereka memilih perluasan alias menanam sendiri katak hasil pembibitan itu. ‘’Selain soal harga, pembeli saat ini juga turun,’’ pungkasnya. (den/isd) Editor : Hengky Ristanto