MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Puncak musim kemarau tahun ini diprediksi terjadi pada Agustus-September mendatang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Madiun pun mewaspadai potensi bencana kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kasi Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Madiun Kukuh Yoso Kuncoro menyebutkan, tiga kecamatan menjadi perhatian khusus karena rawan bencana kekeringan dan karhutla. ‘’Pilangkenceng, Saradan, dan Kare,’’ ujar Kukuh kemarin (24/7).
Di wilayah Kecamatan Pilangkenceng, lanjut Kukuh, kekeringan dan karhutla berpotensi terjadi di Desa Gandul dan Kenongorejo. Sedangkan di Saradan masing-masing Klumutan dan Sumberbendo. Sementara, di Kecamatan Kare ada Desa Kuwiran.
‘’Warga diharapkan menghemat air dan megintensifkan reboisasi. Minimal di lingkungan masing-masing untuk memaksimalkan daerah serapan dan meminimalisasi kekurangan air,’’ tutur Kukuh kepada Jawa Pos Radar Caruban.
Tak hanya itu, kata dia, pihaknya menyiapkan sejumlah perlengkapan jika sewaktu-waktu terjadi kekeringan dan karhutla seperti tandon air, genset, serta pompa air. ‘’Kami juga sudah berkoordinasi dengan PDAM seandaianya nanti harus ada suplai air bersih,’’ tuturnya. ‘’Ada juga edukasi dan sosialisasi kepada warga di wilayah rawan kekeringan dan karhutla,’’ imbuhnya,
Dia menambahkan, pihaknya juga intens melakukan monitoring titik-titik rawan karhutla melalui citra satelit di ruang pusat pengendalian operasi (pusdalops) BPBD.
Pun, mewaspadai aktivitas pembersihan lahan dengan pembakaran. ‘’Warga jangan membakar sampah sembarangan, terutama sisa tanaman panen padi. Kalaupun terpaksa dibakar, pastikan api tidak menjalar ke lokasi rawan,’’ tandasnya. (ryu/isd)
Editor : Mizan Ahsani