MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Tradisi nasi berkat di kalangan masyarakat Jawa masih lestari hingga kini. Baik dalam perayaan maulid nabi atau tasyakuran.
Jamak ditemui, jemaah pulang ke rumah dengan membawa nasi berkat. Menurut KH Ahmad Muwafiq atau yang akrab disapa Gus Muwafiq, ada filosofi di balik nasi berkat.
Dia menyebut bahwa sejarah nasi berkat di nusantara dapat dirunut ke era Rasulullah.
"Dulu para sahabat sering berbagi makanan, lalu minta didoakan Rasul," tuturnya, saat mengisi ceramah di Haul Akbar Syekh Ageng Basyariyah, di Desa Sewulan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Sabtu (30/9) lalu.
"Nah makanan itu kalau sudah didoakan nanti menjadi berkah. Tidak dibakar api neraka," imbuh Gus Muwafiq.
Nah, sisa makanan yang tidak habis ketika dimakan bersama itulah yang kemudian dibawa pulang.
Makanan yang dibawa pulang itu akhirnya disebut dengan nasi berkat. "Ya karena sudah didoakan, sehingga menjadi berkah," jelasnya.
Penjelasan itu disampaikan Gus Muwafiq menanggapi anggapan tradisi nasi berkat di kalangan masyarakat Jawa dianggap ngawur dan tak berdasar.
"Itu kebiasaan para sahabat. Jadi jangan dikira orang Jawa itu mengarang," tuturnya.
"Memasak makanan sendiri kok dianggap berkah, ya karena sudah didoakan sehingga menjadi berkat," imbuh Gus Muwafiq. (naz)
Editor : Mizan Ahsani