Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Guru di Madiun Ini Satu Dekade Bikin Karya Batik dengan Kelompok Binaan

Mizan Ahsani • Kamis, 12 Oktober 2023 | 02:00 WIB
TELATEN: Sri Lestari dan batik hasil buatan kelompok binaannya yang ada di Desa Sidomulyo, Sawahan. (DIAN RAHAYU/RADAR CARUBAN)
TELATEN: Sri Lestari dan batik hasil buatan kelompok binaannya yang ada di Desa Sidomulyo, Sawahan. (DIAN RAHAYU/RADAR CARUBAN)

Separo hidup Sri Lestari dicurahkan untuk pendidikan, berbagi ilmu maupun sosial. Tak cukup mencerdaskan siswa di sekolah kejuruan Kabupaten Madiun. Perempuan berusia 57 tahun itu dengan tulus hati mengajari para ibu-ibu di sekitar rumahnya membuat batik.

----------

TANGAN kanan Sri Lestari, warga Kabupaten Madiun, itu dengan lincah menggambar pola di atas kertas.

Sesekali Sri terdengar menjelaskan cara membuat motif pola kepada pengunjung yang datang ke galeri batik di Desa Sidomulyo, Kecamatan Sawahan, Madiun.

Tidak berapa lama, pengunjung tersebut memperagakan apa yang telah dicontohkan perempuan paro baya itu.

"Di sini memang tidak hanya produksi, tapi juga tempat belajar membatik," ujar Sri.

Sudah satu dekade Sri membuka kelompok membatik tersebut. Bermula dari mengumpulkan ibu-ibu PKK untuk membuat batik guna mengisi kegiatan.

Setelah satu tahun berjalan, anggota kelompok batiknya susut dari 25 orang hanya tersisa 12 orang.

Namun itu tak menyurutkan semangatnya melestarikan batik hingga kini.

"Awal belajar itu kami otodidak, bahan dari alam seadanya kami jiplak di kertas untuk buat pola," ungkap guru di SMKN 1 Jiwan tersebut.

Tak ada teknik tertentu di kelompok batiknya. Semua teknik dipelajari, diterapkan, dan diajarkan sesuai dengan keahlian dan kesukaan para anggota kelompoknya.

Seperti batik tulis, jumputan, smoke, ciprat, shibori, cap, hingga ecobrick.

"Untuk khas motif kami ada, seperti daun-daun yang ada di sekitar dan yang jelas ada motif khas Kampung Pesilat," jelasnya.

Sadar status anggotanya merupakan ibu rumah tangga, Sri mengizinkan mereka pengerjaan batik untuk dibawa pulang.

Sehingga tugas mengurus rumah dan keluarga tetap bisa diselesaikan. Mereka juga bisa produktif dengan membatik dan hasilnya untuk menambah perekonomian keluarga.

"Kami tidak pernah menarget harus setor berapa, hanya saat ada pesanan kami produksi lebih rajin dari biasanya," tuturnya.

"Berkembangnya pelan tidak apa, selama mereka masih mau membatik itu lebih dari cukup," lanjut Sri

Tak hanya memproduksi batik, galerinya kerap dikunjungi kalangan pelajar. Mulai siswa PAUD hingga mahasiswa. Mereka datang untuk belajar membatik.

Ibu tiga anak itu juga kerap diundang atau diminta menjadi narasumber untuk pelatihan membatik dari berbagai perkumpulan, lembaga, maupun masyarakat.

"Jujur, saya lebih senang mengajari mereka yang hendak belajar membatik dibanding berjualan batik dengan jumlah besar," katanya.

"Pun jika ada pesanan partai, saya serahkan pada ibu-ibu kelompok agar bisa menjadi penghasilan tambahan mereka," imbuh Sri. (ryu/aan)

Editor : Mizan Ahsani
#batik #Perajin #madiun #perempuan