Selepas menjadi pemenang lomba desain batik pada 2015 silam, Putut Joyo eksis sebagai perajin batik asal Bumi Kampung Pesilat. Bahkan omzetnya kini telah mencapai puluhan juta per bulan.
-----------------------------------------
TANGAN Puput Joyo dengan lincah menggambar di atas kain putih. Tanpa sketsa khusus, Joyo- sapaan akrab Puput Joyo- , berhasil membuat motif batik cantik pada selembar kain tersebut.
"Di sini memang motifnya langsung spontan saya buat sendiri, jadi eksklusif, tidak ada yang menyamai,” ujar pria asal Solo, Jawa Tengah itu.
Joyo dan batik memang sudah akrab sejak pria berusia 39 tahun itu duduk di bangku SMP. Joyo remaja kerap membantu sang ibu yang merupakan buruh pembatik di kampung halamannya.
Kendati sempat terhenti hampir satu dekade karena kesibukan kuliah dan bekerja. Bakat alami Joyo itu tak pernah luntur.
"Pada 2015 itu saya ikut lomba desain batik di Pemkab Madiun. Alhamdulillah menang juara 1 dan 3,” ungkap warga Desa Gunungsari, Kecamatan Madiun tersebut.
Motif Serat Jati Gunungsari yang mengantarkan Joyo menjadi perajin batik yang diperhitungkan di Bumi Kampung Pesilat ini.
Bapak dua anak itu jarang sekali menggunakan sketsa batik, sehingga motif batik buatannya cukup eksklusif dan limited edition.
Baca Juga: Guru di Madiun Ini Satu Dekade Bikin Karya Batik dengan Kelompok Binaan
"Biasanya itu satu motif hanya dua lembar, maksimal buat lima lembar saja,” terangnya.
"Kalau untuk pesanan seragam itu saya tidak pakai yang tulis, melainkan metode cap,” lanjut Joyo.
Batik Joyo banyak dicari para penggemarnya untuk dikoleksi, terutama motif terbarunya.
Dalam sebulan, dia mampu memproduksi 15 lembar kain dengan empat sampai lima motif batik tulis berbeda. Untuk pemasaran, Joyo lebih memprioritaskan cara konvensional.
"Kalau sudah pelanggan tetap itu bisa online, tapi kalau yang baru tau batik, biasanya saya sarankan datang langsung ke galeri agar bisa melihat kualitas, warna, serta motifnya seperti apa,” paparnya.
Selama sebulan Joyo mampu menjual 4-5 lembar batik tulis. Sedangkan batik cap bisa terjual 50 hingga 100 lembar.
"Paling kencang pesanan dari Surabaya, tiap bulan bisa 30-50 lembar kain batik cap dan tulis juga dari instansi-instansi pejabat pesan seragam,” tuturnya.***(ryu/aan)
Editor : Budhi Prasetya