Perajin batik di Bumi Kampung Pesilat sudah tidak asing dengan sosok Siti Suwarni. Maklum saja, dia merupakan salah seorang perajin batik yang cukup berkembang. Bahkan dinobatkan sebagai ketua Paguyuban Pembatik Kabupaten Madiun.
----------
KESIBUKAN terlihat di ruangan yang ada di salah satu rumah di Desa Balerejo, Kecamatan Kebonsari.
Terlihat pemilik ruangan Siti Suwarni dengan luwes mengaplikasikan cat dengan busa ke lembaran kain yang sudah berpola oleh malam di sisi lainnya.
"Kalau ada terik matahari biasanya kami keluarkan kainnya, tapi kalau sedang mendung kami kasih kipas angin agar segera kering," kata perempuan paro baya itu.
Dia telah menggeluti kerajinan batik tulis sejak 13 tahun silam. Bermula dari mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB), Siti dituntut mengajari siswanya membatik.
Setelah masa pelatihan usai, Siti justru ketagihan. Baginya membatik bisa menjernihkan pikiran.
“Saya juga ikut sanggar dengan para perajin batik di Kabupaten Madiun, ini saya lakukan untuk mengasah skill dan menambah relasi,” ujarnya. “Lalu pada 2013, saya coba produksi sendiri di rumah,” lanjut Siti.
Mulai berkembangnya batik tulis Siti bermula saat Bupati Madiun periode 2018-2023 Ahmad Dawami meminta Paguyuban Pembatik Kabupaten Madiun menciptakan batik khas Bumi Kampung Pesilat.
Setelah melakukan studi banding ke Solo, dia langsung menularkan ilmu-ilmu membatik yang diperolehnya ke perajin lain.
"Dulu hanya enam pembatik di Madiun. Sekarang jadi 24 pembatik lebih yang tergabung dalam Paguyuban Pembatik Kabupaten Madiun," ungkapnya.
Siti pun semakin termotivasi melestarikan batik tulis khas Kabupaten Madiun ini kepada generasi muda.
Menurutnya, batik tidak hanya identik dengan orang tua namun juga cocok untuk fashion anak muda. "Khasnya itu warna-warna soft dan elegan agar anak muda tertarik dan mau memakai," paparnya.
Perjuangan Siti terus belajar dan berbenah membuahkan hasil. Selain menjadi langganan partisipan dalam fashion show batik di berbagai kota, produknya juga sudah sampai pasar mancanegara.
Terakhir Siti mendapat orderan puluhan baju batik dari Jepang. "Pertamanya untuk cendera mata, sekarang banyak membeli karena motif batiknya sesuai dengan selera mereka," ucapnya.
Dalam sebulan Siti bisa memproduksi 200 lembar kain batik. Dia pun mempekerjakan tetangga sekitar rumahnya.
Satu lembar kain batiknya dibanderol harga Rp 200 ribu hingga Rp. 1,3 juta. “Motifnya banyak, dan selalu beda agar terkesan limited edition,” tuturnya. (ryu/aan)
Editor : Mizan Ahsani