MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Aneka olahan bisa dikreasikan Tatik Suhartinah dari ikan lele. Warga Desa/Kecamatan Jiwan itu mengubah lele menjadi abon atau keripik.
Bahkan, limbahnya bisa dijadikan kerupuk kulit lele. Berkat kreasi makanan tersebut, emak-emak asal Madiun ini meraup pundi-pundi penghasilan hingga jutaan rupiah.
Bagi Tatik, lele merupakan teman akrab sejak beberapa tahun terakhir. Maklum saja, ikan lele merupakan hasil budidayanya yang ada di kolam rumahnya.
Ikan yang biasanya dihidangkan dengan pecel dan penyet tersebut ternyata mampu diolah menjadi aneka kreasi masakan di tangan warga Desa/Kecamatan Jiwan itu.
Mulai dari abon lele, keripik, hingga limbahnya untuk kerupuk kulit lele.
“Mulanya saya budidaya ikan, seperti lele, gurame dan nila, tapi ternyata untung penjualannya pas-pasan,” ujar perempuan yang kini berusia 61 tahun tersebut.
Melihat kondisi itu, dia pun putar otak agar ikan lelenya memiliki nilai jual tinggi.
Akhirnya, dia mencoba mengkreasikan resep untuk membuat ikan lele menjadi beragam produk olahan, salah satunya abon.
Kendati berbekal pengetahuan dan kemampuan seadanya, abon lele buatannya pun laris manis disukai masyarakat.
“Melihat peluang abon bagus, saya coba buat olahan lain seperti kulit yang tidak digunakan sebagai bahan baku abon, saya jadikan kerupuk, ternyata bisa dan enak,” ujarnya.
Selain abon dan kerupuk kulit, Tatik juga membuat keripik lele. Yakni daging lele yang dipotong kecil-kecil kemudian digoreng dengan tepung serbaguna.
Menurutnya keripik ini lebih cocok untuk camilan atau pendamping makanan.
“Sering saya promosikan ke pameran UMKM dan bazar, offline maupun online, sejak itu banyak yang mengenal olahan lele,” tuturnya.
Geliat Tatik di UMKM olahan lele pun diakui.
Bahkan tak jarang dia diundang instansi atau komunitas yang berhubungan dengan perikanan dan UMKM untuk menjadi narasumber dalam pengembangan produk dari ikan lele.
“Meski akhirnya waktu produksi terbagi dengan menyebarkan ilmu, saya tidak masalah selama bisa mengangkat produk lokal Madiun menjadi lebih dikenal luas,” terangnya.
“Sekarang sudah ada lima lebih UMKM baru yang berhasil bertahan setelah ikut pelatihan saya,” lanjut Tatik.
Untuk produksi, Tatik dibantu oleh anggota keluarganya. Sedangkan produk paling disukai pelanggannya tetap abon lele.
Sementara eksistensi kerupuk kulit lele cukup mentereng saat momen lebaran, terlebih biasanya dibeli dalam bentuk kemasan mentah agar bisa tetap hangat setelah digoreng.
Harga yang dibanderol cukup terjangkau mulai dari Rp 25 ribu hingga Rp 75 ribu per bungkus sesuai dengan ukuran kemasan.
“Pelanggan banyak dari dalam kota, biasanya setahun empat kali itu ada pesanan rutin dalam bentuk partai besar dari salah satu pejabat Kabupaten Madiun,” bebernya.
“Untuk omzet dari orderan olahan lele sendiri ini bisa jutaan rupiah per bulan, itu belum saat ramai ikut pameran dan bonus promosi waktu isi pelatihan UMKM,” tuntas Tatik. (ryu/aan)
Editor : Mizan Ahsani