MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Desa Bagi, Kecamatan/Kabupaten Madiun memiliki sumber air yang tidak pernah surut. Mata air peninggalan Belanda itu tetap mengalir meski kemarau panjang.
Setiap harinya selalu didatangi banyak orang, mereka rela mengantre untuk memperoleh air bersih.
‘’Masyarakat sangat tertolong dengan adanya sumber mata air abadi yang merupakan peninggalan zaman kolonial Belanda.’’ ujar Kades Bagi Mulyanto, kemarin.
Mata air yang berada antara Dusun Candi dan Gedangan itu tidak hanya didatangi warga Madiun, tapi juga Ngawi dan Magetan.
Karena banyak yang menggunakan air tersebut, dipasang alat menyedot air atau pompa air agar debit air lebih deras.
‘’Warga hanya dikenakan biaya Rp 1.000,- per galon untuk biaya listrik dan kas,’’ bebernya.
Saat ini sumber air tersebut masih dikelola oleh paguyuban warga sekitar. Bahkan dari biaya kas air yang terkumpul, desa sudah mendapatkan bantuan berupa mobil siaga.
''Saya berharap agar sumber mata air tersebut bisa dikenal. Sehingga perhatian instansi terkait sangat dibutuhkan, agar nantinya bisa menjadi salah satu sektor unggulan Desa Bagi untuk meningkatkan pendapatan asli desa (PAD),’’ pungkasnya. (bri/aan/prog)
Editor : Mizan Ahsani