Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Tangan Terampil Slamet Wahyu Widodo Ubah Limbah Jadi Gitar Klasik

Mizan Ahsani • Rabu, 6 Desember 2023 | 00:00 WIB
TELATEN: Slamet saat proses membuat gitar di bengkelnya Desa Pucanganom, Kebonsari. (DIAN RAHAYU/RADAR CARUBAN)
TELATEN: Slamet saat proses membuat gitar di bengkelnya Desa Pucanganom, Kebonsari. (DIAN RAHAYU/RADAR CARUBAN)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Slamet Wahyu Widodo seakan bertangan Midas. Kayu yang disentuhnya mampu menjadi mebel bernilai jual tinggi.

Tidak hanya itu, Slamet juga mampu membuat gitar model klasik. Padahal, warga Madiun tersebut sama sekali tak punya basic ilmu membuat alat musik. Semua dipelajari otodidak.

Kayu bekas atau limbah mebel itu tak langsung dibuang atau digunakan sebagai kayu bakar oleh laki-laki berusia 35 tahun itu.

Namun, tangan terampilnya mampu mengubah bongkahan limbah kayu menjadi alat musik akustik, gitar klasik dan cajon.

“Kalau mebelnya ini sudah generasi kedua, tapi kalau buat gitar dan cajon ini baru sekitar dua tahunan ini sebagai sampingan dan hobi,” ungkap Slamet Wahyu Widodo.

Selain membuat mebel, warga Desa Pucanganom, Kecamatan Kebonsari ini juga menerima jasa service gitar sebagai pekerjaan sampingan.

Dari situlah selama lima bulan Slamet mencoba mempelajari struktur gitar dan mencoba membuatnya sendiri dengan memanfaatkan limbah kayu mebelnya.

“Biasanya pakai bahan kayu sonokeling atau nangka, mahoni itu yang bisa menghasilkan suara bagus. Sayang kalau dibuang, jadi saya manfaatkan agar bisa menghasilkan uang,” katanya.

Bapak dua anak ini mampu membuat gitar jenis klasik dan lebih ke musik akustik. Seperti  gitar jumbo, gitar klasik dan cajon.

Alat musik tersebut cukup mudah dibuat dengan peralatan yang dimilikinya saat ini.

“Kalau kemampuan service, itu saya mengandalkan pengalaman saat bermain gitar, mana gitar yang enak mana yang suaranya bagus itu saya tahu basic-nya,” jelasnya.

Untuk proses produksi, Slamet hanya seorang diri termasuk memproduksi mebel.

Biasanya memproduksi satu gitar membutuhkan kisaran empat hari sampai satu minggu jika fokus dan cuaca cerah mendukung.

Beda lagi jika cuaca buruk atau banyak kesibukan di pesanan mebel, pastinya lebih memakan waktu.

‘’Dalam sebulan bisa produksi enam atau tujuh gitar, kalau permintaan service tiap bulan lebih banyak, bisa sampai 15 buah gitar, mulai dari kerusakan ringan sampai paling parah seperti patah atau badan lepas,” sebutnya.

Dia membandrol harga untuk setiap gitarnya Rp 600 ribu sampai Rp 800 ribu per unit.

“Kebanyakan pembeli dari kalangan anak muda kuliahan. Karena promosi online, jadi seringnya dari luar kota, seperti Surabaya, Jombang, ada juga dari Ponorogo,” ujarnya.

“Rata-rata mereka datang langsung saat mengambil barangnya, belum pernah kirim via ekspedisi, dan yang service juga kebanyakan sekitar Kabupaten Madiun,” lanjut Slamet. (ryu/aan)

Editor : Mizan Ahsani
#limbah #gitar #kebonsari #madiun