MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Menghadapi musim penghujan, warga Kabupaten Madiun dimintai waspada.
Imbauan tersebut bukan hanya soal waspada potensi bencana. Tapi lebih kepada mewaspadai ancaman penyakit demam berdarah dengue.
Pasalnya, angka penderita penyakit demam berdarah dengue (DBD) memasuki awal musim penghujan saat ini menunjukkan tren peningkatan.
Data dari RSUD Caruban menyebutkan jumlah pasien DBD naik signifikan sejak tiga bulan terakhir. Mayoritas penderitanya adalah anak-anak.
"Sampai November kemarin itu total kasus ada 593 DBD, Desember ini kemungkinan sudah 600-an keatas," ujar Direktur RSUD Caruban Farid Amirudin, Jumat (15/12) kemarin.
Farid memerinci kenaikan tertinggi pada Oktober lalu. Pada Agustus hanya 54 kasus, kemudian September naik menjadi 73 kasus dan meningkat tajam di bulan berikutnya hingga 96 kasus.
Lalu pada November kemarin turun di 82 kasus. "Untuk pasien, 60 persen adalah anak-anak dan 40 persennya orang dewasa," jelasnya.
Menurut Farid, dominasi penyakit DBD banyak menyerang anak-anak ini karena faktor metabolisme yang lebih rendah dibanding orang dewasa.
Sehingga mereka lebih rentan terkena penyakit, salah satunya akibat gigitan nyamuk aedes aegypti ini.
"Untuk puncak DBD kami perkirakan di Desember dan Januari, seiring dengan puncak musim penghujan," terangnya.
"Untuk gejala DBD ini demam tinggi dari kisaran 38 sampai 40 derajat. Pun kami himbau warga untuk melakukan gerakan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) dan 3M (menguras, mengubur dan menutup) plus,” lanjut Farid.
Pihak rumah pelat merah ini pun telah mengantisipasi jika ada lonjakan pasien DBD saat puncak musim hujan. Seperti dengan melakukan skema pelayanan kejadian luar biasa (KLB).
Kendati begitu, hingga kini pelayanan pasien DBD masih batas normal atau wajar.
"Untuk saat ini masih batas wajar, terlebih tahun ini berbeda dengan tahun lalu yang sampai sekarang belum ada kasus kematian akibat DBD,” tandasnya. (ryu/aan)
Editor : Budhi Prasetya