Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Marsiti Pertahankan Resep Kerupuk Gaplek Warisan Ibu, Kelezatannya Bikin Orang Malaysia dan Hongkong Kepincut

Mizan Ahsani • Senin, 8 Januari 2024 | 03:30 WIB
MASIH EKSIS: Marsiti ketika menjemur kerupuk gaplek di depan rumahnya, Desa Ngadirejo, Wonoasri. (DIAN RAHAYU/RADAR CARUBAN)
MASIH EKSIS: Marsiti ketika menjemur kerupuk gaplek di depan rumahnya, Desa Ngadirejo, Wonoasri. (DIAN RAHAYU/RADAR CARUBAN)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Siapa bilang gaplek hanya dikukus atau menjadi kudapan yang dicampur dengan kepala parut.

Di tangan Marsiti, warga Desa Ngadirejo, Wonoasri gaplek diolah menjadi kerupuk. Produk dari olahan singkong tersebut pun cukup terkenal dan telah ekspor hingga luar negeri.

Oleh Marsiti, tepung gaplek dituangkan dalam panci. Lalu dicampur dengan ketumbar dan bawang putih yang sudah dihaluskan serta bumbu penyedap rasa dan juga air secukupnya.

Adonan tersebut lalu dimasak, selama proses tersebut diaduk rata hingga matang, mengental, dan menjadi kalis.

Saat sudah kalis, diambil sejumput adonan lalu dipipihkan menggunakan permukaan botol berbungkus plastik dan beralaskan talenan.

"Ini dibuat tipis agar saat digoreng bisa terasa renyah," kata Marsiti, perajin kerupuk gaplek asal Desa Ngadirejo, Kecamatan Wonoasri, Kabupaten Madiun.

Perempuan berusia 48 tahun itu mengaku sudah lebih dua dekade mengeluti produksi kerupuk gaplek.

Berbekal resep original turun temurun dari ibunya, Marsiti meneruskan usaha keluarga hingga sekarang.

Dibandingkan kerupuk jenis lainnya, kerupuk gaplek lebih renyah dibarengi rasanya yang khas.

"Dulu yang produksi banyak, karena memang yang buat banyak. Kalau sekarang tinggal beberapa saja. Yang buat gaplek juga semakin sedikit, tidak seperti dulu," ujar ibu dua anak itu.

Marsiti memproduksi lima kilogram tepung gaplek setiap dua hari sekali. Bahan tersebut bisa menghasilkan 20-25 bungkus kerupuk gaplek dengan isi 50 biji per bungkusnya.

Produksinya berlangsung sejak pagi hingga siang, karena sore harinya harus bekerja menjual gorengan dan makanan jadi keliling.

"Kalau puasa, saya setiap hari buat karena pesanan untuk lebaran berlipat lebih banyak dari biasanya,"  ucapnya.

Marsiti tak banyak melakukan pemasaran sebab pelanggan setia sejak ibunya berjualan masih banyak dan terus menjamur dari mulut ke mulut hingga sekarang.

Bahkan produk kerupuk gaplek buatannya sudah pernah terbang ke luar negeri. Seperti Hongkong dan Malaysia.

Pelanggannya pun tidak hanya Madiun Raya, tapi juga dari Kalimantan. "Biasa saya jual untuk mentah itu sebungkus Rp 5 ribu, kalau yang matang seribu dapat 9 biji," pungkasnya. (ryu/aan)

Editor : Mizan Ahsani
#ekspor #madiun #Gaplek #malaysia #kerupuk #hongkong