MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Tangan Surinah layaknya Midas, dia bisa mengubah plastik dan tutup botol menjadi pundi-pundi cuan.
Barang bekas yang cenderung dianggap sekadar sampah itu mampu disulapnya menjadi berbagai kerajinan kerai atau tirai.
Peminat kerai dari botol plastik itu cukup banyak hingga selalu ada pesanan setiap bulannya.
Perempuan berusia 60 tahun itu terlihat telaten mencuci bersih satu per satu tutup botol. Lalu, dia menandai permukaan tutup botol itu dengan spidol pada empat sisi samping dengan tanda plus.
Selepas itu, paku besi yang dipanaskan digunakan perempuan yang memiliki nama lengkap Surinah itu untuk melubangi keempat sisi yang sudah ditandai tersebut.
"Lalu disusun dengan tulisan di atas disejajarkan dan dirangkai pakai tali semi kawat, per baris bisa 50 tutup botol," ujar warga Kelurahan Bangunsari, Kecamatan Mejayan tersebut.
Di usia yang tidak lagu muda, Surinah memilih menekuni kerajinan tutup botol bekas sejak 2021 lalu. Awalnya, tutup botol itu digunakan untuk bahan membuat pot tanaman.
Lalu banyak tetangga yang suka dan dijual beserta tanaman kaktus dan tanaman hias lainnya.
"Ada kerabat yang tukang rosok, dia beri ide untuk buat kerai, nanti pasokan tutup botolnya dari dia," cerita ibu tiga anak itu.
Ide itu langsung disetujuinya. Surinah pun rutin menebus Rp 5 ribu per kilogram tutup botol bekas berbagai ukuran dan warna. Dibuatlah kerai pertama dari tutup botol air mineral.
Setelah jadi, diposting di media sosial dan banyak orang tertarik dan memesan kepadanya. "Ada tas, tempat tisu, dan wadah permen juga, paling banyak yang dicari ya pot dan kerai," jelasnya.
Untuk membuat kerai butuh waktu yang cukup lama. Satu bulan untuk ukuran tirai 2x2 meter persegi.
Itu jika persediaan tutup botol bekas sudah tersedia, jika belum maka perlu menunggu kekumpulnya tutup botol yang diinginkan sekitar 2-3 bulan.
Pada satu baris kerai membutuhkan sekitar 50 buah tutup botol bekas. "Palin susah itu warna hijau dan kuning karena jarang, kalau biru muda, coklat, dan orange itu banyak," terangnya.
Sarinah hanya memasarkan via media sosial.
Pun dia selalu memberi penjelasan kepada pelanggannya jika proses pembuatannya cukup lama, sehingga jika tidak berkenan bisa tidak diambil.
Untuk satu kerai dibandrol Rp 250 ribu-Rp 500 ribu tergantung ukuran mulai paling kecil 1,5 meter persegi ke atas.
Sementara untuk pot dan tas dijual mulai dari Rp 5 ribu ke atas sesuai ukuran dan kesulitan pembuatan.
"Ini sudah pesanan kelima untuk kerai, kalau yang pot itu banyak sudah terjual sekalian sama bunga kaktus itu Rp 10 ribu per buah," pungkasnya. (ryu/aan)
Editor : Mizan Ahsani