Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Mantan PMI Taiwan asal Madiun Sukses Budidaya Melon Inthanon, Pengunjung Bisa Petik Buah di Kebun

Dian Rahayu • Kamis, 8 Februari 2024 | 14:30 WIB
ULET: Marjoko, mantan PMI Taiwan, berhasil membudidayakan melon inthanon. (R. BAGUS RAHADI/RADAR MADIUN)
ULET: Marjoko, mantan PMI Taiwan, berhasil membudidayakan melon inthanon. (R. BAGUS RAHADI/RADAR MADIUN)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Melon menjadi komoditas yang menarik di Kabupaten Madiun. Warga pun berbondong-bondong menanamnya karena harganya yang lumayan bagus.

Salah satunya Marjoko. Mantan pekerja migran Indonesia (PMI) asal Madiun itu berhasil membudidayakan melon inthanon yang merupakan varietas premium.

Sejuk dan asri. Itulah yang dirasakan ketika memasuki kebun budidaya melon hidroponik milik Marjoko.

Sejauh mata memandang terlihat seribu bibit melon yang tumbuh subur dan lebat di kebun yang terletak di Dusun Golang, Desa Kuwiran, Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun.

Buah melon berwarna orange kekuningan nampak lezat dan segar itu bergelantungan siap dipanen.

"Ini kami metode jualnya dengan petik buah sendiri pengunjungnya, jadi sekaligus wisata edukasi pertanian atau berkonsep agrowisata," ungkap pria berusia 52 tahun tersebut.

Baru sekitar empat bulan terakhir mantan pekerja migran Indonesia di Taiwan itu menggeluti pertanian hidroponik melon.

Bermula dari memamfaatkan hasil setelah bekerja di luar negeri agar lebih menghasilkan di kampung halaman.

Marjoko sengaja memilih jenis melon premium inthanon karena merupakan jenis primadona dan banyak suplier yang berminat atau mencari buah tersebut.

"Keunggulannya ini lebih tahan lama dan manis, gradenya di 13 sampai 14 kemarin," ujarnya.

Marjoko mengakui jika menanam pada musim penghujan seperti ini menjadi tantangan tersendiri. Maklum saja, biasanya melon ditanam saat musim kemarau.

Dia pun harus menghadapi ancaman hama dan penyakit seperti busuk batang. Yang utama adalah menjaga kebutuhan cahaya dan penyemprotan obat tidak pada langsung di buah.

"Untungnya menyerangnya saat sudah mulai tua sekitar umur 60 hari jadi tidak mempengaruhi pada buah" jelasnya.

Dalam penjualan, Marjoko memilih konsep agrowisata atau pembeli bisa memilih dan memetik sendiri buah melon di kebunnya.

Selain pembeli bisa puas memilih buah yang diinginkan juga guna mengedukasi mereka tentang pengetahuan pertanian buah Melon.

"Kemarin kami buat pengumuman dibuka panen raya itu mulai 3-7 Februari, tapi seminggu sebelum itu sudah diserbu para pembeli dan sekarang sudah hampir habis," terangnya.

"Rata-rata pengunjung dari Madiun sekitarnya, ada juga dari Ponorogo dan Magetan," imbuh Marjoko.

Dari sekitar 1.080 bibit yang ditanam, Marjoko menyebutkan hasil panen mencapai 70 persen atau sekitar satu ton lebih. Untuk buah sendiri dijual dengan harga mulai Rp 20 ribu per kilogram.

"Saya akan tanam lagi dengan ada varietas yang lain. Untuk panen kemungkinan nanti sekitar hari raya," ungkapnya. (ryu/aan)

Editor : Mizan Ahsani
#melon inthanon #pekerja migran #budidaya #madiun #pmi #taiwan