Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Sumur Bor yang Jadi Polemik Warga dan Pemdes di Madiun Peninggalan Belanda, Dulu Gratis Sekarang Ditutup

Dian Rahayu • Senin, 12 Februari 2024 | 01:00 WIB

 

BERBURU AIR: Warga berburu air bersih di Sumur Bor Desa/Kecamatan Dagangan, kemarin (10/8). (DIAN RAHAYU/RADAR CARUBAN)
BERBURU AIR: Warga berburu air bersih di Sumur Bor Desa/Kecamatan Dagangan, kemarin (10/8). (DIAN RAHAYU/RADAR CARUBAN)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Warga Dagangan, Kabupaten Madiun tentu tidak asing dengan Sumur Bor Pintu.

Sumber mata air bersih yang terletak di Dusun Sawahan, Desa/Kecamatan Dagangan itu merupakan peninggalan Belanda yang terkenal dengan airnya yang menyegarkan.

Bahkan, air dari sumur bor itu dipercaya banyak warga Madiun memiliki khasiat.

Hal itu membuat sumur bor yang sudah berusia puluhan tahun itu ramai dikunjungi warga setempat, bahkan luar daerah untuk diambil airnya.

Kades Dagangan Rudi Panca Widadi menuturkan, sumur bor tersebut merupakan sumber air zaman penjajahan Belanda yang digunakan untuk mengairi kebun kapas di wilayah setempat.

Seiring berkembangnya zaman, sumur tersebut beralih untuk irigasi persawahan warga desa setempat.

“Banyak juga yang memanfaatkan untuk mandi, cuci, bahkan mengambil air untuk konsumsi, waktu itu kondisinya masih jadul hanya ada sekat dan atapnya terbuka,” katanya.

Pada 2015 lalu, terdapat program pembangunan untuk mandi, cuci, kakus (MCK) di desanya.

Pemdes setempat memutuskan merenovasi dan membangun fasilitas yang lebih layak.

Termasuk keran yang digunakan untuk mengambil air bersih terpisah dengan MCK agar memudahkan warga dan tetap terjaga kebersihannya.

“Dulu gratis dan tantangannya yang jaga itu tidak ada anggaran upahnya, sampai pernah kami mintakan iuran sukarela ke RT setiap bulan Rp 15 ribu untuk operasional sumur bor,” jelasnya.

Pengelola sumur bor yang dipegang BUMDesa Sido Makmur memutuskan menarik tarif per galon senilai Rp 500.

Pun naik beberapa tahun terakhir menjadi Rp 1.000 per galon untuk yang mengambil air kurang dari lima galon sekali ambil.

Serta Rp 1.500 untuk yang mengambil borongan lebih dari lima galon sekali ambil.

“Lama-lama banyak yang datang, bahkan ada yang dari Magetan, Ponorogo, Pacitan dan Nganjuk serta luar daerah lain,” terangnya.

“Rata-rata yang jauh mengambil air untuk pengobatan penyakit kulit, karena memang masyarakat percaya airnya lebih segar, menyehatkan, serta berkhasiat,” tutup Rudi. (ryu/aan)

Editor : Mizan Ahsani
#air #dagangan #khasiat #pintu #sumur bor #madiun