Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Warga Madiun 36 Tahun Tekuni Kerajinan Alat Musik Rebana, Pesanan Laris hingga Kalimantan-Sumatera

Dian Rahayu • Jumat, 15 Maret 2024 | 01:00 WIB
ALAT MUSIK: Sutari mempressing rebana di bengkelnya di Desa Ngetrep, Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun. (DIAN RAHAYU/RADAR MADIUN)
ALAT MUSIK: Sutari mempressing rebana di bengkelnya di Desa Ngetrep, Kecamatan Jiwan Kabupaten Madiun. (DIAN RAHAYU/RADAR MADIUN)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Alat musik ritmis rebana masih banyak peminat, terutama saat Ramadan.

Sutari, salah seorang perajin asal Kabupaten Madiun ini masih aktif berproduksi rebana. Kerajinan karyanya terkenal hingga lintas pulau seperti Sumatera dan Kalimantan.

Aroma khas kulit kambing langsung tercium saat memasuki bengkel milik warga Desa Ngetrep, Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun, ini.

Terlihat pemilik bengkel mengoperasikan alat pressing buatannya untuk menyetel rebana.

Dalam bengkel, juga nampak kunci inggris, tang, palu, dan kawan-kawannya turut berserakan.

“Beginilah tempat produksi rebananya, agak berantakan dan apa adanya,” kata perajin rebana tersebut.

Sutari menggeluti kerajinan rebana sejak 1988 lalu. Dia belajar langsung dari ayahnya.

Tak sulit membuat rebana meski banyak tahapan yang harus dilalui.

“Yang utama itu telaten karena memang pembuatannya butuh kesabaran tidak bisa instan jadi. Seperti penyamakan kulit kambing ini harus sabar agar hasilnya bagus karena ini sumber suaranya,” ungkapnya.

Lama proses pembuatan satu set rebana butuh lima hari sampai satu minggu. Satu set alat musik itu terdiri sembilan jenis.

Semua dilakukan sendiri dengan alat sederhana buatan sendiri di bengkelnya.

“Untuk kulit saya mengambil dari Magetan,” ujarnya.

Jika permintaan banyak, Sutari mampu menyelesaikan empat sampai lima set pesanan rebana.

Saat sepi, dia hanya mampu menjual satu sampai dua set rebana saja. Satu set rebana, dia bandrol dengan harga Rp 3,5 juta.

Sutari juga membuka jasa perbaikan rebana dengan bermacam tarif sesuai tingkat kesulitan perbaikannya.

“Kalau tarif servis tergantung kerusakannya separah apa. Yang masuk untuk perbaikan itu hampir setiap hari ada. Sangking banyaknya yang servis, saya belum sempat mencicil membuat rebana baru,” bebernya.

Meski alat musik tradisional Islam tersebut kini bersaing dengan alat musik modern, Sutari tidak kehilangan pelanggan setianya.

Untuk pemasaran, dia menggunakan media sosial seadanya dan relasi pelangganya saja.

“Hampir seluruh Madiun Raya itu ada pelanggan sendiri yang order, sama paling jauh itu dari Kalimantan dan Sumatera yang awalnya warga sini lalu merantau ke sana dan membawa rebana karena di sana tidak ada,” pungkasnya. (ryu/aan)

Editor : Mizan Ahsani
#rebana #madiun #kerajinan #alat musik