Merintis sejak 2007, Petani Organik di Desa Kare Kirim 1,5 Ton Selada ke Magelang Setiap Pekan

Loditya Fernandes • Dipublikasikan Senin, 1 April 2024 | 02:00 WIB
PIONER: Darsyanto memamerkan sayuran hasil pertanian organik di stan Bazar Ramadan yang digelar Pemkab Madiun. (LODITYA FERNANDEZ/RADAR MADIUN)
PIONER: Darsyanto memamerkan sayuran hasil pertanian organik di stan Bazar Ramadan yang digelar Pemkab Madiun. (LODITYA FERNANDEZ/RADAR MADIUN)

MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Susahnya mendapatkan pasokan pupuk subsidi membuat Darsyanto mencoba peruntungan bertani organik.

Dari usaha itu, produk sayur organik yang dihasilkan petani asal Desa Kare tersebut merajai pasar Madiun Raya dan Magelang.

Lahan pertanian pun jadi rujukan belajar petani luar daerah. Aneka produk organik itu dia bawa ke bazar yang baru-baru ini digelar pemkab.

Belasan stan dagangan tertata di lahan parkir sisi selatan Masjid Quba, Caruban. Salah satu stan mencuri perhatian.

Terlihat sejumlah aparatur sipil negara (ASN) berseragam yang mayoritas perempuan membolak balik sayur yang dijajakan di stan tersebut.

Mereka memerika kesegaran sayuran hasil panen Darsyanto dan anggota kelompok tani (poktan) Desa Kare lainnya. ‘’Semua yang kami bawa sayuran organik,’’ ungkap Darsyanto.

Tidak main-main, ada 10 jenis sayuran dibawa langsung dari Desa Kare. Jumlahnya kurang lebih delapan kuintal.

Masing-masing hasil pertanian Darsyanto dan dua anggota poktan desanya.

Itu setelah, Dinas Pertanian dan Perikanan (Disperta) mengundangnya untuk meramaikan Bazar Ramadan yang digelar Pemkab Madiun.

‘’Kami diundang untuk buka stan di sini,’’ imbuhnya.

Darsyanto kerap ketiban sampur memamerkan produk pertanian organik di Kabupaten Madiun. Pria asli Desa Kare merupakan pioner pertanian organik di desanya.

Usaha pertanian tanpa bahan kimia itu sudah dilakoni sejak 2007 lalu. ‘’Sebenarnya sejak 2002 sudah mulai tetapi benar-benar fokus organik pada 2007,’’ tuturnya.

Pertanian organik mulai ditekuni lantaran Darsyanto jengah. Pupuk subsidi kerap langka.

Harganya pun relatif mahal. Hingga akhirnya, ayah empat orang anak itu mencoba peruntungan dengan menggunakan air kelapa dan urine kelinci membuat pupuk organik.

Hasil penen cabe dan tomat pun memuaskan. ‘’Meski tanpa bahan kimia hasilnya bisa bagus,’’ tambahnya.

Usaha pertanian organik itu dikembangkan. Darsyanto mulai menggunakan bahan-bahan lain seperti kotoran ayam dan kambing. Komoditas pertaniannya perlahan ditambah.

Tidak hanya cabai dan tomat, saat ini juga menanam wortel, kubis, timun, kacang panjang, jagung, tembakau hingga lactuca sativa (selada romaine).

‘’Cabai, tomat, kubis dan lainnya itu pemasarannya di wilayah Madiun Raya, kalau selada romaine sampai Magelang dan masuk ke supermarket,’’ bebernya.

Hasil panen selada biasanya dikirim ke Magelang seminggu sekali. Setiap berangkat, sedikitnya 1,5 ton selada dibawa.

Permintaan sayuran bahan salad tersebut relatif tinggi. Pengiriman rutin dilakukan sejak setahun terakhir.

‘’Kebetulan ada kerja sama dengan kenalan di Magelang,’’ ungkapnya.

Diawal merintis, Darsyanto sempat mengajak petani di desanya untuk ikut menjajal pertanian organik.

Sayangnya ada yang menganggap remeh pertanian non-bahan kimia itu. Dengan kesuksesannya, perlahan mulai banyak yang mengikuti jejak suami dari Sulikah itu.

Saat ini ada dua poktan yang full bertani organik. Sedangkan delapan poktan lainnya semi organik.

Menariknya, Darsyanto kini kerap jadi jujugan berlatih pertanian organik. Bahkan dari luar Jatim. ‘’Pernah juga istri Bupati Gresik datang bersama tim PKK untuk belajar,’’ imbuhnya. (odi/aan)

Editor : Mizan Ahsani
Sumber : Radar Madiun
sayur organik pertanian madiun kare petani