MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun – Sejumlah mahasiswa asal Madiun memberi pengakuan usai mengikuti program magang kerja di Jerman atau ferienjob.
Diberangkatkan PT SHB (Sinar Harapan Bangsa) ke Eropa, mereka justru tekor selama mengikuti program ini.
Meski ada yang bisa bawa pulang uang dari pekerjaannya di Jerman, tidak sedikit yang justru berakhir punya utang.
‘’Ada yang minus,’’ ungkap An Nafiu Disrifina Tiara Jenawa, salah satu peserta.
Viara, sapaan -An Nafiu Disrifina Tiara Jenawa- masih beruntung.
Sepulang dari Jerman, mahasiswa jurusan Ilmu komunikasi itu masih bisa mengantongi uang Rp 10 jutaan dari pekerjaannya. Beberapa temannya justru minus.
Mereka masih menanggung utang pengembalian dana talangan dari kampus sepulang dari Jerman. ‘’Dana talangan kampus sekitar Rp 37–38 juta,’’ bebernya.
Berapa utang dana telangan rekan mahasiswanya, Vira enggan mengungkapnya.
Yang jelas, gaji mereka selama bekerja di Jerman tidak mampu menutup pengembalian dana talangan.
Apalagi beberapa teman bernasib apes.
Mereka diminta menanggung kerusakan jendela wohnung atau apartemen tempatnya menginap meski tidak tahu menahu penyebabnya.
Mereka kena denda 3700 euro atau Rp 63 juta yang akhirnya iuran per orangnya sekitar 300 euro atau sekitar Rp 5 juta.
‘’Padahal temen-teman merasa tidak menggunakan sama sekali,’’ imbuhnya.
Ada lagi yang tidak mendapatkan bonusan kerja lembur atau overtime. Diakuinya, selama bekerja di Jerman rata-rata upah yang diberikan 13 -14 euro (Rp 224 ribu–Rp 241 ribu) per jam.
Dengan hitungan lima hari kerja, sebulan rata-rata mahasiswa mendapatkan upah 900 – 1000 euro (Rp 15 juta–Rp 17 juta).
Itu sudah upah bersih setelah dipotong untuk sewa apartemen juga tiket perjalanan oleh agency. ‘’Bulan pertama masih banyak yang minta kiriman dari rumah,’’ tuturnya.
Sementara itu, pekerjaan magang para mahasiswa beragam. Viara awalnya akan ditempatkan di Bandara Munich atau Munich International Airport (MUC) sebagai porter barang.
Setibanya di Jerman, mahasiswa semester lima itu ‘dilempar’ ke Amazon Logistics.
Pekerjannya menyortir dan memperbaiki paket yang rusak. ‘’Ada yang di DHL, Pandora, sampai pabrik eskrim,’’ tambahnya.
Selama di Jerman, Viara tinggal di Kota Oberhausen. Untuk kebutuhan makan sehari-hari tidak disediakan.
Mereka harus membeli dan masak sendiri. Wajar jika menu makanan pun bukan ala Jerman. Melainkan masakan tanah air namun dengan bahan yang ada di Jerman.
Jika kebanyakan bahan yang ada ayam, sayur dan roti, Viara tetap membeli beras meski harganya relatif mahal sekitar Rp 24–34 ribu.
‘’Seminggu keperluan untuk belanja 700 euro (Rp 12 juta),’’ ungkapnya.
Saat di Jerman, para mahasiswa memang harus mandiri. Setiba di bandara mereka harus menunggu 5–6 jam.
Agen yang datang kabanyakan berbahasa Jerman. Setelahnya, mereka diharuskan ke apartemen dan tempat kerja sendiri.
Viara sempat nyasar lantaran salah turun saat numpang kereta. Mereka di Jerman selama tiga bulan mulai Oktober hingga Desember.
Saat hendak pulang ke tanah air, mereka berangkat sendiri ke bandara.
‘’Ada yang sempat overstay dan ngurus ke Imigrasi, sedang tiket tidak bisa direskedul,’’ imbuhnya.
Viara merasakan perbedaan kultur budaya antara di Jerman dan Indonesia. Budaya kerja di negeri panzer itu selalu ontime.
Telat semenit berangkat kerja sudah pasti dapat teguran. Bahasa kebanyakan yang digunakan memang bahasa Jerman.
Dengan begitu, untuk komunikasi minimal harus bisa bahasa Inggris. ‘’Tidak boleh membawa handphone saat bekerja, harus dititipkan,’’ jelasnya. (odi/naz)
Editor : Mizan Ahsani