MADIUN, Jawa Pos Radar Madiun - Seni rupa tidak pernah lepas dari kehidupan pasangan suami istri, Suharwedi-Roikhul Jannah.
Pasutri yang sehari-hari bekerja sebagai guru itu sukses menjadi perajin batik tulis hingga dikenal berbagai kota dan kalangan pejabat.
Tangan Suharwedi dengan lincah menggambar pola di atas kertas berukuran 0,5x2 meter. Pola tersebut dijiplak ke lembaran kain untuk selanjutnya dicanting.
Setelah pencantingan selesai, langsung dilakukan pewarnaan hingga finishing penguncian warna serta melorotkan lilin sebelum kain batik siap digunakan.
“Kalau saya fokus membuat desain polanya, nanti yang menyanting sudah ada 10 orang yang membantu,” ungkap warga Desa Banaran, Kecamatan Geger itu.
Laki-laki berusia 62 tahun itu sudah terjun di dunia seni rupa, utamanya seni lukis sejak duduk di bangku sekolah.
Selama ini lukisannya lebih menggambarkan motif batik.
Pada 2012 bersama sang istri, Roikhul Jannah mulai belajar dan menggeluti serta mendirikan produksi batik.
Mereka juga menularkan ilmu membatik ke siswa di sekolah tempat mereka mengajar masing-masing.
“Saya ingin lukisan saya bisa juga dinikmati masyarakat umum dan kain batik tulis jalannya,” ujar guru seni rupa MAN 1 Kabupaten Madiun tersebut.
Suharwedi-Roikhul juga ingin melestarikan budaya nenek moyang, tradisional klasik yang saat itu semakin pudar.
Itu terlihat dari corak motif batik tulis buatan mereka khas dengan motif-motif klasik zaman dulu seperti parang, kawung, lurik, barong dan lain sebagainya.
Yang kemudian dikombinasikan dengan ikon-ikon kampung pesilat serta flora-fauna khas Kabupaten Madiun.
“Harapannya agar generasi kedepannya tahu sejarah budaya Jawa khususnya itu seperti apa,” terang guru SMPN 1 Geger itu.
Untuk produksi, mereka dibantu 10 pecanting. Dari jumlah itu, dua hingga empat orang yang bertugas di bagian mewarnai dan finishing.
Berbagai motif yang telah dihasilkan pasutri tersebut dan pola-pola motif itu masih terarsip dengan baik dalam kertas pola.
Dalam satu bulan, rumah produksinya bisa mendapat pesanan ratusan lembar kain batik tulis.
“Setiap bulan itu pasti ada satu lembaga yang pesan dengan 300 lembar, itu belum pesanan perorangan bisa mencapai 40 lembar,” jelas ibu tiga anak tersebut.
Selain media sosial, pasutri ini juga memanfaatkan relasinya. Produk yang dikenal melalui mulut ke mulut itu juga tidak awam lagi di lembaga pemerintahan maupun instansi.
“Permintaan dari luar Jawa juga sering, pernah juga pameran produk batik di Jepang,” ujar perempuan yang kini berusia 59 tahun yang akrab dipanggil Roikhul itu.
Untuk satu lembar kain batik tulis, dihargai Rp 225 ribu hingga Rp 400 ribu. Tak hanya motif batik biasa, mereka juga menyediakan motif abstrak.
“Kalau motif abstrak ini dihargai mulai Rp 250 ribu per lembarnya,” pungkas nenek tiga cucu tersebut. (ryu/aan)
Editor : Mizan Ahsani